Cara Cepat Membubarkan Halaqah

foto dr google

foto dr google

Berikut ini adalah tiga cara cepat membubarkan halaqah yang disampaikan oleh ustadz Farid Dhofir, dari Jawa Timur. Jika ketiga hal berikut dilakukan oleh murabbi, dalam waktu yang tidak lama kemudian, dijamin halaqah (khususnya halaqah awal) yang dipegangnya akan bubar.

 

Datang Terlambat

Menunggu adalah hal yang menjemukan bagi banyak orang, termasuk mutarabbi baru. Apalagi jika menunggu kedatangan murabbi yang tidak jelas apakah ia datang atau tidak, jadi halaqah atau tidak. Semakin lama murabbi terlambat, detik demi detik terasa semakin lama, mencemaskan sekaligus menjemukan.

 

Pada menit ke-25 dari keterlambatan murabbi setengah jam, mungkin mutarabbi sudah memutuskan untuk pulang dan berjanji pekan berikutnya takkan kembali. Atau mungkin mutarabbi bertahan menunggu, namun sudah ada catatan di benaknya: “orang seperti ini tak layak jadi murabbi. Continue reading ‘Cara Cepat Membubarkan Halaqah’

Aku Manusia Biasa

Seperti angin..

Hati juga bisa berdesir..

Untuk senyum.. dan tunduk malu..

Seperti air..

Bayang juga bisa mengalir..

Untuk tatap.. dan mata yang sayu..

Seperti api..

Jiwa juga bisa membara..

Untuk sikap.. dan laku yang tak hanya..

Pendek saja..

Tapi rasa bisa ratusan meter panjangnya..

Ini salahku.. tapi aku tahu..

Ini salah diri.. tapi aku tak peduli..

Sakit itu bernama rindu, sayangku..

Rindu itu bahagia, bahagia yang menyakitkan..

Bahagia itu bernama rindu, sayangku..

Rindu itu sakit, sakit yang membahagiakan..

Continue reading ‘Aku Manusia Biasa’

Diem itu Bikin Sakit

Ini curhatan anak galau,

ini curhatan anak rantau…

Pernah rasain sakit gigi?

itu tidak jauh lebih sakit daripada didiemin

Pernah rasain kejedot lemari?

itu tidak jauh lebih sakit daripada dicuekin

Marahlah pada dunia,

pecahkan saja semuanya biar ramai.

Itu jauh lebih aku sukai daripada kesunyian.

Sekarang kan udah musim 1000 sms,

bahkan 10.000 sms, atau sejuta sms kalo dikali 100

Apa kau mau bilang: “aku ga punya pulsaaaaa!!”

Ah..

Iklan itu kan udah ga ada…

Udah ganti sekarang jadi: “Aayyyaaaaaaaaaaaaaanggggg!!”

Diem itu bikin sakit,

didiemin itu serasa pailit..

Temenku banyak yang jualan pulsa,

tapi kalo mau ta beliin,

sorri la yaaww.. Continue reading ‘Diem itu Bikin Sakit’

Resensi Buku Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin

Judul Asli:Majmu’ah Rasail Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna

Penulis: Hasan Al Banna

Penerbit: Daarud-Da’wah, Iskandaria, Mesir

Judul Terjemahan: Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin

Penerjemah : Anis Matta, Rofi’ Munawwar dan Wahid Ahmadi

Penerbit: Era Intermedia, Solo, Indonesia

Tahun Terbit: 2005

 

dari google

dari google

Sesuai judul aslinya, “Majmu’ah Rasail” (Kumpulan Risalah), buku ini berisi kumpulan surat, makalah, dan transkrip pidato yang pernah dibuat dan disampaikan oleh Hasan Al Banna sepanjang hidupnya di medan dakwah dan jihad. Di dalamnya berisi pemikiran-pemikiran Hasan Al Banna tentang dakwah yang tentu saja akan berhubungan dengan gerakan dakwah yang dipelorinya, Ikhwanul Muslimin.

Sepengetahuan resensor, di Indonesia ada dua penerbit yang mencetak risalah ini. Yang pertama dari Era Intermedia dengan judul Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, terdiri dari 2 jilid, yang kedua dari penerbit Mizan dengan judul Majmu’atur-Rasaail, terdiri dari 3 jilid. Penerbit Mizan mencetak bukunya disertai dengan tulisan aslinya dalam bahasa Arab. Jadi bukunya ‘billingual’. Namun isinya tetap sama.

Secara keseluruhan, di dalam buku ini terdapat 18 judul dari kumpulan risalah Hasan Al Banna, yaitu: 1. Risalah Ta’lim, 2. Nizhamul Usar, 3. Dakwah Kami, 4. Apakah Kita Para Aktivis?, 5. Kepada Mahasiswa, 6. Menuju Cahaya, 7. Risalah Jihad, 8. Mu’tamar Ke-enam, 9. Mar’ah Muslimah, 10. Kepada Apa Kami Menyeru Manusia?, 11. Di Bawah Naungan Al-Quran, 12. Al-Ma’tsurat, 13. Al-’Aqaaid, 14. Kepada Para Pemuda dan Secara Khusus Kepada Para Mahasiswa, 15. Dakwah Kami di Zaman Baru, 16. Antara Kemarin dan Hari Ini, 17. Mu’tamar Ke-lima, dan 18. Agenda Persoalan Kita dalam Kacamata Sistem Islam. Saya tidak akan mengurainya secara terperincu, hanya beberapa bagian saja yang dianggap sesuai.

Risalah ta’lim merupakan rumusan rambu-rambu dalam sebuah gerakan Islam. Di dalamnya terdapat rukun-rukun bai’at (arkanul-bai’ah) dan kewajiban-kewajiban seorang mujahid. Continue reading ‘Resensi Buku Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin’

My name is DIAR, I’m not a woman

gambar dari google

gambar dari google

Baru-baru ini ada sms masuk ke nomor HP saya.

“Assalamu’alaikum. Mbak Dian saya Fa**ni, dapet nomor Mbak dari Imanul.

Mau minta nomor Pa Muchson dari PKnH, beliau dosen KKN-PPL saya. Kalau sekiranya Mbak punya, saya mau minta. Terima kasih.”

Saya: “Maaf saya bukan Dian.”

Pengirim pesan sepertinya tanya balik ke Imanul, terus sms: “Oh ya, maksudnya Diar. Gimana Mas Diar?”

(Hadooohh.. kalo saja ada fasilitas sms buat mukul si penerima pesan, DUNG! *dalam hati)

Kalo sempet ngitung, mungkin ini kejadian ke 73.465.843.768-kalinya saya disangka anak cewek (hoax.com). Intinya sudah masuk kategori ‘sering’, dipanggil mbak, euceu, teteh, neng. Belum lagi salah-salah nama, kadang Dian, Dias, Tias, Tiar, dan sebangsanya. Continue reading ‘My name is DIAR, I’m not a woman’

Inspektur Vijay Syndrom

gambar dari google

gambar dari google

Semakin pekan, FLP kami semakin menarik saja (FLP: Forum Lingkar Pekanan a.k.a. LQ, red). Entah karena Big-Bossnya yang keren atau karena anggota gank-nya yang semakin unyu-unyu (Big Boss: MR; anggota gank: Mutarabbi, red). Atau juga, karena di antara kami semua sudah semakin solid (‘solid’ berasal dari kata ‘sale’: jual, diubah ke bentuk kedua tambah ‘d’, menjadi pasif, artinya ‘terjual’.) Yah, saya pastikan anggota gank kami memang semakin ‘terjual’ (lho).

FLP terakhir membahas tentang ‘Trauma Persepsi’, seperti yang sudah saya buat di catatan sebelumnya berjudul ‘Trauma Persepsi (Belajar dari Kisah Nabi Musa dan Bangsa Yahudi)’. Bagi yang belum membaca bisa cek di daftar catatan saya, sebelum ada larangan membaca dari pemerintah. Adapun menu makanan yang menemani FLP  malam itu adalah martabak telor dan martabak kacang-cokelat (yummy), plus ada salah satu anggota gank yang membawa salak pondoh (eh, salak pondoh apa bukan ya? Pokoknya salak, sekantong kresek ‘kecil’). Jadi pada catatan ini kita akan membahas tentang bagaimana caranya membuat martabak telor isi kacang cokelat! (Woo ngawur! Lempar sendal..).

Jadi ceritanya, ketika membahas tentang trauma persepsi di surat Al Maaidah ayat 20-26, ada satu ayat yang menunjukkan karakter bangsa Yahudi, yang kami sebut sebagai ‘Inspektur Vijay Syndrom’. Continue reading ‘Inspektur Vijay Syndrom’

TRAUMA PERSEPSI: Belajar dari Kisah Nabi Musa dan Bani Israil

foto dari google

foto dari google

Kita akan belajar tentang ‘trauma persepsi’ dari Surat Al Maa’idah ayat 20-26. Ayat yang bercerita tentang keengganan bangsa Yahudi menaati perintah Nabi Musa memasuki Palestina. Sedikit gambaran bahwa, secara kasar, trauma persepsi adalah satu perasaan ketika kita memiliki ‘mental block’, merasa tidak mampu sebelum melakukan sesuatu, sudah menyerah sebelum berperang, atau dalam istilah Sunda, sudah ‘kumeok samemeh dipacok’, artinya jika diibaratkan dalam adu ayam, si ayam sudah ‘petak-petok (kabur duluan) sebelum bertanding.’

Continue reading ‘TRAUMA PERSEPSI: Belajar dari Kisah Nabi Musa dan Bani Israil’

Puritan

dari google

dari google

“Puritan (Homicide is Dead)” adalah salah satu lagu yang dibuat dan dinyanyikan oleh Thufail al Ghifari, rapper Islam asal Bandung. Dengan gaya Thufail sebagai pemusik ‘keras’, lagu ini berisi tentang kegelisahan sekaligus ‘serangan’ terhadap kaum atheis, baik atheis murni yang seluruh aspek hidupnya tidak mengakui eksistensi Tuhan (atheis teoritis), maupun atheis yang bersembunyi di balik KTP Islam (orang beragama) namun hidupnya secara sadar mengesampingkan keberadaan Tuhan dan tidak mau menjalankan syari’at agamanya sendiri (atheis praksis).

Thufail al Ghifari juga mempunyai grup musik bernama TROM (The Roots of Madinah) yang beraliran musik cadas / underground namun berisi lagu Islami. Kalau dalam grup musik underground lain memiliki simbol luciferian / setan berkepala kambing, dengan 3 jari terbuka, tapi jari tengah dan jari manis ditekuk (seperti simbol partai berlambang banteng di masa orde baru), simbol penyembahan setan. Maka TROM, dengan beberapa grup musik underground Islam lainnya menggunakan istilah ‘Salam Satu Jari’, Continue reading ‘Puritan’

Tuhan itu (tidak) ada -cerita profesor dan mahasiswa-

dari google

dari google

Di salah satu kampus di Yogyakarta, saat itu sedang berjalan perkuliahan di dalam kelas yang diampu oleh seorang profesor. Ketika kuliah berlangsung, tiba-tiba sang Profesor mengajukan pertanyaan kepada mahasiswanya.

 

Profesor: “Mahasiswa sekalian! Apakah kamu semua bisa melihat adanya Tuhan?”

Mahasiswa: (mikir sebentar, kemudian menjawab) “Tidak Pak..” (serempak)

Profesor: “Apakah kamu semua bisa merasakan dan menyentuh keberadaan Tuhan?”

Mahasiswa: “Tidak Pak…”

Profesor: “Berarti Tuhan itu tidak ada!”

 

Kelas hening. Namun tidak berapa lama ada salah satu mahasiswa yang berdiri. Dia pun bertanya kepada teman sekelasnya.

 

Mahasiswa yang berdiri: “Teman-teman sekalian. Apakah kalian semua bisa melihat otak Pak Profesor?”

Mahasiswa lain: “Tidaaak..”

Mahasiswa yang berdiri: “Apakah kamu semua bisa merasakan dan menyentuh otak Pak Profesor?”

Mahasiswa lain: “Tidaaaakk..”

Mahasiswa yang berdiri: “Nah.. Berarti Pak Profesor ini tidak ada otaknya!”

Tuhan itu (tidak) ada -cerita tukang cukur-

dari google

dari google

Suatu hari, ada seorang pemuda yang sedang bercukur di salah satu tempat di Yogyakarta. Ketika asyik bercukur, ga ada angin ga ada hujan, terjadilah perbincangan nyeleneh antara si pemuda dan tukang cukur.

 

Tukang cukur: “Dek, menurut saya, Tuhan itu tidak ada.”

 

Si Pemuda: (kaget) “Maksud bapak gimana? Kok bisa begitu?”

 

Tukang cukur: “Iya. Tuhan itu tidak ada. Gini dek ya, katanya kan Tuhan itu Maha Penyayang dan Pengasih. Lha terus kok masih banyak orang miskin. Banyak juga para pengemis yang meminta-minta. Juga gembel-gembel di kolong jembatan itu. Coba, berarti kan Tuhan itu tidak ada. Buktinya mereka tidak mendapat kasih dan sayangnya yang sering disebut-sebut itu. Iya kan?”

 

Mendengar pendapat tukang cukur tersebut si pemuda terdiam. Dia juga bingung harus menjawab bagaimana. Hingga diapun selesai bercukur dan pergi meninggalkan tempat tersebut.

Baru beberapa langkah keluar, dia melihat ada seorang pria di seberang jalan. Rambutnya sangat gondrong dan kumal. Tiba-tiba si pemuda tersenyum. Terbersit sebuah ide entah apa. Yang jelas dia segera kembali ke tempat tukang cukur tadi.

 

Sesampainya di tempat cukur… Continue reading ‘Tuhan itu (tidak) ada -cerita tukang cukur-’

Halaman Berikutnya »



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.