<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>My Diar(y)</title>
	<atom:link href="http://diarydiar.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://diarydiar.wordpress.com</link>
	<description>Ini diaryku.. mana diarymu..?!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 04:23:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='diarydiar.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/0e9d430ba4ac321d39a3c3e545cc92a6?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>My Diar(y)</title>
		<link>http://diarydiar.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://diarydiar.wordpress.com/osd.xml" title="My Diar(y)" />
	<atom:link rel='hub' href='http://diarydiar.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>My name is DIAR, I&#8217;m not a woman</title>
		<link>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/31/210/</link>
		<comments>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/31/210/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 04:10:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iseng]]></category>
		<category><![CDATA[asal-usul]]></category>
		<category><![CDATA[diar]]></category>
		<category><![CDATA[nama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diarydiar.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Baru-baru ini ada sms masuk ke nomor HP saya. “Assalamu’alaikum. Mbak Dian saya Fa**ni, dapet nomor Mbak dari Imanul. Mau minta nomor Pa Muchson dari PKnH, beliau dosen KKN-PPL saya. Kalau sekiranya Mbak punya, saya mau minta. Terima kasih.” Saya: “Maaf saya bukan Dian.” Pengirim pesan sepertinya tanya balik ke Imanul, terus sms: “Oh ya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=210&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_211" class="wp-caption alignleft" style="width: 282px"><a href="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/diar.jpg"><img class="size-full wp-image-211" title="gambar dari google" src="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/diar.jpg?w=500" alt="gambar dari google"   /></a><p class="wp-caption-text">gambar dari google</p></div>
<p>Baru-baru ini ada sms masuk ke nomor HP saya.</p>
<blockquote><p>“Assalamu’alaikum. <strong>Mbak Dian</strong> saya Fa**ni, dapet nomor <strong>Mbak</strong> dari Imanul.</p>
<p>Mau minta nomor Pa Muchson dari PKnH, beliau dosen KKN-PPL saya. Kalau sekiranya <strong>Mbak</strong> punya, saya mau minta. Terima kasih.”</p>
<p>Saya: “Maaf saya bukan Dian.”</p>
<p>Pengirim pesan sepertinya tanya balik ke Imanul, terus sms: “Oh ya, maksudnya <strong>Diar</strong>. Gimana <strong>Mas Diar</strong>?”</p>
<p>(Hadooohh.. kalo saja ada fasilitas sms buat mukul si penerima pesan, DUNG! *dalam hati)</p></blockquote>
<p>Kalo sempet ngitung, mungkin ini kejadian ke 73.465.843.768-kalinya saya disangka anak cewek (hoax.com). Intinya sudah masuk kategori &#8216;sering&#8217;, dipanggil mbak, euceu, teteh, neng. Belum lagi salah-salah nama, kadang Dian, Dias, Tias, Tiar, dan sebangsanya.<span id="more-210"></span></p>
<p>Saya juga maklum sih, ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka, atau kalian. Mungkin ini memang beranjak dari nama saya sendiri yang tersusun dengan struktur yang langka, menarik, unik, kalo ga mau dibilang ‘aneh’. Yups. Its  me: DIAR ROSDAYANA. Nama ‘Diar’ memang jarang dipakai. Juga terkesan netral, bisa buat cewek atau cowok, tapi cenderung ke-cewek-cewek-an sepertinya. Apalagi ditambah ‘Rosdayana’. Ya sudah. Begitulah jadinya.</p>
<p><strong>DINAMIKA DAN REALITA</strong></p>
<p><strong></strong>Banyak orang yang komentar, namanya kok nanggung banget? kenapa ga DIAN aja? DIAS, TIAN, atau DIARE sekalian, biar lebih famuliar.. (Tuing). Hemm, punya nama unik dan keren memang susah. Seringkali kalo abis belanja di toko, atau lagi registrasi apa gitu yang mengharuskan menulis nama, maka saya harus berulang-ulang menyebutkannya.</p>
<p>Berikut adalah kejadian pas di tempat reparasi printer, si karyawan mau nulis nama saya di secarik nota.</p>
<blockquote><p>Karyawan: “Ya mas, namanya siapa?”</p>
<p>Saya: “Diar”</p>
<p>Karyawan: “Dian?”</p>
<p>Saya: “Diar” (meninggi)</p>
<p>Karyawan: “Dias?”</p>
<p>Saya: “Diarrr, pake ‘R’.”</p>
<p>Karyawan: “Tiar?”</p>
<p>Saya: “DIAR.. DIAR, pake D depannya.”</p>
<p>Karyawan: “Oh iya..”</p>
<p>Kemudian ditulis di struknya: ‘DIYAR’</p>
<p>(twewewew..!!)</p></blockquote>
<p>Di kasus lain, temen-temen juga punya sebutan lain buat saya karena ‘kesulitan-kesulitan’ itu, ada yang akhirnya membuat panggilan-panggilan khusus, sendiri-sendiri, ada yang manggil ‘Dayer’, ‘Koyar’, ada juga yang manggil ‘Didi’, atau di kesempatan tertentu kadang juga menjadi guyonan: “Dhiar! Dhier! Dhor!” (Glek!)</p>
<p><strong>TINJAUAN HISTORIS</strong></p>
<p><strong></strong>Tentang ‘DIAR’. Sayapun dulu penasaran tentang nama ini. Setelah cek dan konfimasi sama 2 tokoh yang membuat saya nongol di dunia (baca: ortu), ternyata nama saya memiliki asal usul yang seru.</p>
<p>Jadi kata ibu, yang sekarang jadi guru SMP di kampung, awalnya saya mau dikasih nama DIAN. Tapi katanya ada murid SMP saat itu namanya juga DIAN, anaknya nakal banget. Akhirnya diurungkanlah niat ini. Terus ternyata ada juga murid SMP saat itu namanya DIAR, anaknya baik dan pintar, (sholeh dan rajin menabung), selalu dapat ranking pertama dalam pelajaran setiap tahunnya. Akhirnya dipilihlah nama itu. Meski belakangan ternyata yang namanya DIAR, si anak tadi yang dimaksud setelah lulus terkena penyakit jiwa (ini beneran lho), karena ingin dibelikan motor buat SMA, tetapi orang tuanya tidak mampu buat membelikan. Ah, semoga ini bukan pertanda buruk buat saya karena namanya sama.</p>
<p>Intinya, nama ‘DIAR’ sudah dipilih.</p>
<p>Tentang ROSDAYANA. Ini adalah gabungan dari nama kedua orang tua yang saya cintai. ROS, dari ROSHAYATI, nama Ibu. DAYANA, dari nama ayah, DAYAT (HIDAYATULLAH), yang kemudian ujungnya dimodifikasi, biar keren. Hehe.</p>
<p>Jadilah ‘ROSDAYANA’.</p>
<p><strong>TENTANG ‘KEUNIKAN’ (unik? ‘aneh’ kaleee)</strong></p>
<p><strong></strong>Saya itu 3 bersaudara, dan saya anak kedua. Kata Ibu, sebenarnya anak-anak beliau mau dikasih ‘nama-nama unik’ semuanya. Kakak saya sendiri namanya ANDI ROSYANDI. ANDI  untuk panggilan, sedangkan ROSYANDI, juga modifikasi dari gabungan nama orang tua. Jadi awalnya, ketiga anak akan dikasih nama secara berurutan dengan saling menyambung di ujung: ANDI – DIAN – NINA (Nina untuk anak ketiga). Dengan nama panjang masing-masing secara lengkap: ANDI ROSYANDI, DIAR ROSDAYANA, dan NINA ROSYANTI. (tentang ROSYANTI, tentu saja memiliki sejarah yang sama seperti ROSYANDI dan ROSDAYANA).</p>
<p>Namun pas kelahiran anak ketiga, punya sejarah sendiri, dengan rancana awal nama ‘Nina Rosyanti’ itu. Jadi pas syukuran kelahiran anak baru di rumah, dihadiri oleh pemimpin Pondok Pesatren, yang juga ‘disepuhkan’ di kampung, Akang Aep Saepuddin (‘Akang’ adalah panggilan akrab masyarakat kepada beliau).</p>
<blockquote><p>Akang: “Saha ngaran budak teh?” (siapa nama anaknya?)</p>
<p>Ibu: “Nina Rosyanti, Kang“</p>
<p>Akang: “Wah, atuh sing rada Islami ngaranan budak teh.” (Wah, yang Islami dikit lah kalo ngasih nama anak)</p>
<p>Ibu (agak malu juga): “Oh, mangga atuh tiasa dipangmilariankeun ku Akang, teu sawios-wios.” (Oh, silakan boleh dicarikan sama Akang, tidak apa-apa).</p></blockquote>
<p>Selang beberapa hari, Akangpun memberi tahu bahwa rekomendasi nama anak ketiga itu “SYIFA FAUZIAH”, artinya “Cageur nu mawa kabungahan” (Sehat/kesehatan yang membawa kebahagiaan). Akhirnya si bungsu ini bernama ‘beda’ sendiri: SYIFA FAUZIAH.</p>
<p><strong>EPILOG</strong></p>
<p><strong></strong>Yup, begitulah sodara-sodara! Beberapa fakta, dinamika dan kajian intensif tentang asal-usul nama saya (halah). Hal inilah juga salah satunya yang ‘memaksa’ saya pada akhirnya memasang foto asli di Profil FB. Karena ternyata kesalahfahaman itu juga menjangkiti kehidupan di dunia maya. Hohoho..</p>
<p>Berikutnya sebagai penutup, saya tegaskan bahwa nama saya adalah “DIAR ROSDAYANA”, apapun yang terjadi, saya tetap bangga dengan nama ini. Dan yang terpenting, saya adalah LAKI-LAKI TULEN! Len.. Len.. Len.. Len.. (efek echo).</p>
<p>Kalau Bollywood punya film dengan kutipan: &#8220;My name Is Khan, I&#8217;m not a terrorist.&#8221;</p>
<p>Maka saya punya catatan dengan kutipan: &#8220;My name is Diar, I&#8217;m not a woman.&#8221;</p>
<p>^o^</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diarydiar.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diarydiar.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diarydiar.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diarydiar.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diarydiar.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diarydiar.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diarydiar.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diarydiar.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diarydiar.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diarydiar.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diarydiar.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diarydiar.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diarydiar.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diarydiar.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=210&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/31/210/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d37a470c542f575b8056b3b918bf6be1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/diar.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar dari google</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inspektur Vijay Syndrom</title>
		<link>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/28/inspektur-vijay-syndrom/</link>
		<comments>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/28/inspektur-vijay-syndrom/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 04:36:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Halaqah]]></category>
		<category><![CDATA[bollywood]]></category>
		<category><![CDATA[halaqah]]></category>
		<category><![CDATA[inspektur vijay]]></category>
		<category><![CDATA[liqo]]></category>
		<category><![CDATA[polisi india]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diarydiar.wordpress.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Semakin pekan, FLP kami semakin menarik saja (FLP: Forum Lingkar Pekanan a.k.a. LQ, red). Entah karena Big-Bossnya yang keren atau karena anggota gank-nya yang semakin unyu-unyu (Big Boss: MR; anggota gank: Mutarabbi, red). Atau juga, karena di antara kami semua sudah semakin solid (&#8216;solid&#8217; berasal dari kata ‘sale’: jual, diubah ke bentuk kedua tambah ‘d’, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=204&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_205" class="wp-caption alignleft" style="width: 253px"><a href="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/virus.jpg"><img class="size-full wp-image-205" title="gambar dari google" src="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/virus.jpg?w=500" alt="gambar dari google"   /></a><p class="wp-caption-text">gambar dari google</p></div>
<p>Semakin pekan, FLP kami semakin menarik saja (FLP: Forum Lingkar Pekanan a.k.a. LQ, red). Entah karena Big-Bossnya yang keren atau karena anggota gank-nya yang semakin unyu-unyu (Big Boss: MR; anggota gank: Mutarabbi, red). Atau juga, karena di antara kami semua sudah semakin solid (&#8216;solid&#8217; berasal dari kata ‘sale’: jual, diubah ke bentuk kedua tambah ‘d’, menjadi pasif, artinya ‘terjual’.) Yah, saya pastikan anggota gank kami memang semakin ‘terjual’ (lho).</p>
<p>FLP terakhir membahas tentang ‘Trauma Persepsi’, seperti yang sudah saya buat di catatan sebelumnya berjudul ‘Trauma Persepsi (Belajar dari Kisah Nabi Musa dan Bangsa Yahudi)’. Bagi yang belum membaca bisa cek di daftar catatan saya, sebelum ada larangan membaca dari pemerintah. Adapun menu makanan yang menemani FLP  malam itu adalah martabak telor dan martabak kacang-cokelat (yummy), plus ada salah satu anggota gank yang membawa salak pondoh (eh, salak pondoh apa bukan ya? Pokoknya salak, sekantong kresek ‘kecil’). Jadi pada catatan ini kita akan membahas tentang bagaimana caranya membuat martabak telor isi kacang cokelat! (Woo ngawur! Lempar sendal..).</p>
<p>Jadi ceritanya, ketika membahas tentang trauma persepsi di surat Al Maaidah ayat 20-26, ada satu ayat yang menunjukkan karakter bangsa Yahudi, yang kami sebut sebagai ‘Inspektur Vijay Syndrom’. <span id="more-204"></span>Makanan jenis apakah ini? Apakah rasanya sama seperti martabak telor? (tuing). Sebelum membahas lebih jauh, kita simak dulu ayat yang dimaksud:</p>
<blockquote><p>Mereka berkata: &#8220;Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, <strong>sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya</strong>.&#8221; (Al Maaidah [5]: 22)</p></blockquote>
<p><strong>Inspektur Vijay Syndrom</strong> adalah syndrom atau penyakit yang dinisbatkan (halah bahasanya) kepada kebiasaan polisi di film India, yang biasanya mereka baru datang kalau kasus sudah selesai. Muncul nama ‘Inspektur Vijay’ sendiri hanyalah celetukan dari salah seorang anggota gank (namanya tidak usah kami sebutkan, amniyah), untuk menunjukan bahwa itu nama orang di film India. Kalau polisinya orang jawa mungkin akan kami beri nama Inspektur Poniman atau Inspektur Paijo Syndrom. Lol</p>
<p>Bisa dilihat pada ayat di atas, Kaum Yahudi sedemikian enggan menaati perintah Nabi Musa untuk masuk ke Palestina. Mereka baru mau masuk jika bangsa Palestina saat itu sudah keluar / pergi. Inilah yang kami sebut ‘Inspektur Vijay Syndrom’, karakter orang yang bisanya ‘cuci tangan’, datang di akhir episode, tanpa mau ada perjuangan sama sekali.</p>
<p>Sayangnya sindrom ‘Inspektur Vijay’ ini juga biasanya bisa didapati diantara kita (kita? loe aja kalee!). Ada juga orang-orang di masa kini yang berkarakter seperti ini. Mungkin penulis catatan ini juga salah satunya (nau’dzubillah). Ciri-cirinya jelas, biasanya dia baru datang ketika urusan sudah selesai.  Dalam halaqah misalnya, dia akan datang telat, bukan karena sibuk, tapi agar bisa menghindari hafalan Qur’an (glek!). Atau ketika diundang rapat, karena males dia bisa izin telat, kemudian mengatakan: “Afwan, saya izin telat ya, nanti saya mimpin do’a di akhir, ga apa-apa”. Sayangnya do’apun cukup dengan berkata: “Berdo’a mulai!”, “Selesai!”. Atau juga dalam kerja-kerja yang butuh orang banyak, dia baru datang ketika semua sudah beres, kemudian dengan PD pas datang dia berkata: “Gimana? Apa yang bisa dibantu?” Padahal sudah tau bahwa semua kerjaan udah selesai. Enaknya kan orang seperti ini kita pukul kepalanya pake martil (dung!).</p>
<p>Tulisan ini tentu tidak bermaksud membuat kita curigaan ya. Husnudzan sesama saudara harus tetap diutamakan. Kata AA Gym, jika saudaramu melakukan hal yang kamu anggap sebagai keburukan, maka buatlah 1001 alasan baik agar kamu tidak su’udzan kepada saudaramu itu. Jadi, ini dibuat bukan untuk menghakimi orang lain, tetapi untuk mengoreksi diri kita sendiri. Ketika kita sering izin telat, ga bisa hadir, ga bisa ikut bantu-bantu dan beraktivitas, atau dalam kegiatan lain yang serupa, pastikan bahwa itu memang berangkat dari prioritas dan hal yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan berangkat dari kemalasan atau kebiasaan ‘cuci tangan’ saja. Hati-hati jika itu terjadi, jangan sampai Anda terserang ‘Inspektur Vijay Syndrom’.</p>
<p><strong>WASPADALAH! WASPADALAH!</strong></p>
<p>NB:</p>
<p>‘Inspektur Vijay Syndrom’ adalah istilah yang sudah menjadi hak cipta kelompok kami. Jika ada yang ingin menggunakannya mohon lapor kepada pihak berwenang. Jika ada yang menggunakannya tanpa izin, tidak akan dikenakan sanksi apapun. Lol</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diarydiar.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diarydiar.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diarydiar.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diarydiar.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diarydiar.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diarydiar.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diarydiar.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diarydiar.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diarydiar.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diarydiar.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diarydiar.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diarydiar.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diarydiar.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diarydiar.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=204&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/28/inspektur-vijay-syndrom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d37a470c542f575b8056b3b918bf6be1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/virus.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar dari google</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TRAUMA PERSEPSI: Belajar dari Kisah Nabi Musa dan Bani Israil</title>
		<link>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/27/trauma-persepsi-belajar-dari-kisah-nabi-musa-dan-bani-israil/</link>
		<comments>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/27/trauma-persepsi-belajar-dari-kisah-nabi-musa-dan-bani-israil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 01:24:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Halaqah]]></category>
		<category><![CDATA[al maaidah]]></category>
		<category><![CDATA[bani israel]]></category>
		<category><![CDATA[halaqah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nabi musa]]></category>
		<category><![CDATA[pantang menyerah]]></category>
		<category><![CDATA[trauma persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diarydiar.wordpress.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Kita akan belajar tentang ‘trauma persepsi’ dari Surat Al Maa’idah ayat 20-26. Ayat yang bercerita tentang keengganan bangsa Yahudi menaati perintah Nabi Musa memasuki Palestina. Sedikit gambaran bahwa, secara kasar, trauma persepsi adalah satu perasaan ketika kita memiliki ‘mental block’, merasa tidak mampu sebelum melakukan sesuatu, sudah menyerah sebelum berperang, atau dalam istilah Sunda, sudah ‘kumeok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=197&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_198" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/menyerah.jpg"><img class="size-full wp-image-198" title="foto dari google" src="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/menyerah.jpg?w=500" alt="foto dari google"   /></a><p class="wp-caption-text">foto dari google</p></div>
<p>Kita akan belajar tentang ‘trauma persepsi’ dari Surat Al Maa’idah ayat 20-26. Ayat yang bercerita tentang keengganan bangsa Yahudi menaati perintah Nabi Musa memasuki Palestina. Sedikit gambaran bahwa, secara kasar, trauma persepsi adalah satu perasaan ketika kita memiliki ‘<em>mental block</em>’, merasa tidak mampu sebelum melakukan sesuatu, sudah menyerah sebelum berperang, atau dalam istilah Sunda, sudah <em>‘kumeok samemeh dipacok’</em>, artinya jika diibaratkan dalam adu ayam, si ayam sudah ‘petak-petok (kabur duluan) sebelum bertanding.’</p>
<p><span id="more-197"></span>Berikutnya mari kita simak Surat Al Maa’idah ayat 20-26 berikut ini:</p>
<blockquote><p>20. Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: &#8220;Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain.&#8221;</p>
<p>21. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi,</p>
<p>22. Mereka berkata: &#8220;Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.&#8221;</p>
<p>23. Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: &#8220;Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.&#8221;</p>
<p>24. Mereka berkata: &#8220;Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.&#8221;</p>
<p>25. Berkata Musa: &#8220;Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.&#8221;</p>
<p>26. Allah berfirman: &#8220;(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.&#8221;</p></blockquote>
<p><strong>TRAUMA PERSEPSI</strong></p>
<p>Sudah bisa dilihat bukan? Trauma persepsi dengan pengertian yang sudah dijelaskan di atas terjadi pada Bani Israel dalam ayat ke-22, ketika mereka berkata:</p>
<p>&#8220;Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.&#8221;</p>
<p>Mereka tidak mau menerima perintah memasuki Palestina karena fikiran mereka sudah terkalahkan dengan anggapan bahwa kaum Palestina itu kuat-kuat, gagah perkasa dan Bani Israel sendiri merasa kecil dan ciut nyalinya. Padahal mereka sama sekali belum pernah saling berhadapan untuk berperang.</p>
<p>Hikmah yang bisa diambil di sini adalah, terkadang kita sudah menyerah sebelum melakukan sesuatu. Bahkan ini terjadi hampir di semua hal. Dalam tataran dakwah misalnya, seringkali kita menganggap bahwa objek dakwah kita sudah pasti menolak apa yang mau disampaikan, padahal kita belum pernah menyampaikan apa-apa. Atau ketika menerima amanah, baik itu amanah berupa jabatan atau mendapat tawaran menjadi pembicara, disuruh mengampu binaan, dan seterusnya, seringkali kita menolak hal-hal tersebut dengan alasan “belum siap”, “merasa tidak sanggup” atau dengan perkataan lain yang serupa. Tentu saja ini bukan berarti bahwa kita boleh sembarangan dalam menerima sesuatu, tapi yang ingin saya tekankan di sini adalah, apakah itu benar-benar keluar dari dalam diri ketidak mampuan kita, atau apakah alasan itu keluar hanya dari anggapan saja bahwa kita merasa benar-benar tidak mampu?</p>
<p>Contoh lain misal dalam hal belajar. Pernahkah kita merasa tidak mampu dalam mata pelajaran tertentu? Di sinilah biasanya <em>‘mental block’</em> itu juga muncul. Kita sudah merasa ‘tidak bisa matematika’ padahal belum berusaha belajar dengan sungguh-sungguh. Kita sudah merasa bahwa pelajaran Fisika itu susah. Merasa pelajaran olahraga itu menjemukan. Hal ini terjadi biasanya karena paradigma awal yang salah, menganggap bahwa ilmu eksak adalah ilmu susah, menyeramkan dan tidak pernah bisa ditaklukkan. Anggapan seperti ini berefek pada malasnya kita untuk belajar, sehingga matematika yang susahnya bermula dari sebuah anggapan itu, pada akhirnya benar-benar menjadi susah karena terakumulasi dengan menurunnya semangat belajar kita sendiri terhadap pelajaran tersebut. Di akhir semester saat ujian, biasanya ini terlihat dengan indikasi ‘jiplakisasi’, kebiasaan menjiplak. Entah karena kemalasan belajar hingga tergoda untuk mencontek, atau karena terbiasa mencontek itulah hingga dia merasa punya andalan dan jadi malas belajar. Lingkaran setan.</p>
<p><strong>KENAPA TRAUMA PERSEPSI MUNCUL?</strong></p>
<p>Jika dianalisis, trauma persepsi ini muncul karena 2 hal: merasa kita kecil dan merasa orang lain besar. Mari kita lihat satu persatu:</p>
<p><em>Pertama,</em> merasa kita kecil. Hal ini bisa terjadi karena berbagai hal. Adapun dalam konteks di atas, kaum Israel nampaknya mempunyai mental yang ciut dan merasa memiliki potensi yang sangat lemah, merasa kecil karena sebelumnya berada dalam cengkraman kekuasaan Fir’aun yang hegemonik. Inilah yang dalam bahasa psikologi disebut sebagai <em>Sticholom-Syndromme: </em>merasa nyaman dalam keterjajahan. Padahal sudah jelas sebelumnya bahwa mereka bisa mengalahkan Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah. Hal ini pulalah yang membuat sebagian orang Indonesia berkata: “Kalau difikir-fikir, hidup itu lebih enak di masa Soeharto, begini-begitu, dst”. Merasa nyaman dengan kondisi yang ada padahal sejatinya mereka sedang berada dalam keterjajahan (fikiran).</p>
<p><em>Kedua, </em>merasa orang lain besar. Pada tahap ini, bisa jadi sebenarnya potensi kita sudah besar, tapi kita mengaggap orang lain besar, atau merasa bahwa sesuatu yang kita hadapi jauh lebih besar. Misal dalam contoh-contoh tadi, dalam hal menerima amanah tertentu, disuruh menjadi pembicara, amanah membina atau menghadapi suatu pelajaran, bisa jadi sebenarnya kita bisa dan mampu, namun fikiran kita sudah terkungkung dengan anggapan bahwa: “jangan-jangan begini”, “jangan-jangan begitu”, “saya pasti tidak bisa”, dan seterusnya.</p>
<p><strong>SOLUSI?</strong></p>
<p>Solusi ketika trauma persepsi ini muncul sebenarnya sudah terdapat pada ayat ke 20 dalam perintah Nabi Musa di atas:</p>
<p>“Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain.”</p>
<p>Ya, kuncinya, ingatlah nikmat yang telah diberikan Allah. Bani Israel banyak mendapat keistimewaan dari Allah. Sebagaimana disebut dalam ayat di atas, yaitu bahwa para Nabi dan Rasul kebanyakan berasal dari Bani Israil. Kemudian Bani Israel juga menjadi orang-orang yang bebas merdeka, mendapat hal yang Allah tidak memberikannya kepada kaum lain selain Bani Israel, dan satu hal yang pasti bahwa tidak lama sebelum perintah itu muncul, bani Israel di bawah pimpinan Nabi Musa sudah mendapat kemenangan dalam menghadapi Fir’aun, seorang penguasa yang sangat hegemonik bahkan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Tapi sayang, nampaknya trauma persepsi yang dialami Bani Israel saat itu sudah sedemikian akut sampai berani mengatakan:</p>
<p>&#8220;Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.&#8221;</p>
<p>Menurut saya kata-kata ingin sangat lancang kalau tidak mau dibilang kurang ajar. Betapa tidak, sudahlah mereka diberi nikmat yang sangat besar, diangkat Nabi dan Rasul dari kalangan mereka dan diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun yang memiliki ratusan ribu tentara, kemudian ketika Allah memerintahkannya memasuki Palestina, mereka berlepas diri dan ‘menyuruh’ Nabi Musa pergi bersama Tuhan  sendiri. Padahal menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa kekuatan kaum Palestina pada saat itu hanya sepersepuluh dari jumlah penduduk Mesir.</p>
<p>Pada akhirnya, Nabi Musa pun berdo’a dalam ayat ke-25: &#8220;Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.&#8221; Yang kemudian dijawab Allah pada ayat 26: &#8220;(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.&#8221;</p>
<p>Diceritakan bahwa kaum Israel pada saat itu tersesat di Padang Tiih selama 40 tahun. Yang tersisa dan yang dimaksud ‘kami’ dalam do’a Nabi Musa di atas hanyalah 2 orang sholeh yang terdapat di ayat 23, dalam Tafsir Ibnu Katsir mereka bernama Yusya’ bin Nun dan Kalim bin Yaufuna.</p>
<p><strong>JADI</strong></p>
<p>Begitulah, bebarapa hal atau bahkan dalam banyak hal, seringkali kita merasa diri tidak mampu, merasa tertekan dan tidak berdaya menghadapi sesuatu. Ketika ini terjadi, tanyalah diri kita, apakah ini benar berasal dari fakta kekurangan diri, ataukah sebenarnya kita hanya mengalami ‘trauma persepsi’, merasa diri kecil dan mencoba bersembunyi dari potensi besar yang kita miliki. Selain itu, kadang sesuatu justru memang datang pada saat kita belum siap, bukan untuk membuat kita lemah, tapi biarkan semua itu menjadi batu loncatan agar kita bisa mendapat capaian yang lebih tinggi dari kondisi saat ini. Ingatlah nikmat Allah! Kita memang memiliki kekurangan di satu sisi, tapi bisa jadi, kita memiliki kelebihan besar di sisi lain yang belum tentu orang lain memilikinya.</p>
<p><em>note:</em></p>
<p><em></em>Bahasan ini saya dapatkan di FLP (Forum Lingkar Pekanan) yang kemudian disarikan dan ditulis dengan redaksi saya sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diarydiar.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diarydiar.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diarydiar.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diarydiar.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diarydiar.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diarydiar.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diarydiar.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diarydiar.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diarydiar.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diarydiar.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diarydiar.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diarydiar.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diarydiar.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diarydiar.wordpress.com/197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=197&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/27/trauma-persepsi-belajar-dari-kisah-nabi-musa-dan-bani-israil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d37a470c542f575b8056b3b918bf6be1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/menyerah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">foto dari google</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puritan</title>
		<link>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/25/puritan/</link>
		<comments>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/25/puritan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 10:29:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[atheis]]></category>
		<category><![CDATA[atheisme]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rap islam]]></category>
		<category><![CDATA[rapper muslim]]></category>
		<category><![CDATA[the roots of madinah]]></category>
		<category><![CDATA[thufail al ghifari]]></category>
		<category><![CDATA[TROM]]></category>
		<category><![CDATA[underground]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diarydiar.wordpress.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Puritan (Homicide is Dead)&#8221; adalah salah satu lagu yang dibuat dan dinyanyikan oleh Thufail al Ghifari, rapper Islam asal Bandung. Dengan gaya Thufail sebagai pemusik &#8216;keras&#8217;, lagu ini berisi tentang kegelisahan sekaligus &#8216;serangan&#8217; terhadap kaum atheis, baik atheis murni yang seluruh aspek hidupnya tidak mengakui eksistensi Tuhan (atheis teoritis), maupun atheis yang bersembunyi di balik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=191&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_192" class="wp-caption alignleft" style="width: 193px"><a href="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/thufail.jpg"><img class="size-full wp-image-192" title="Thufail" src="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/thufail.jpg?w=500" alt="dari google"   /></a><p class="wp-caption-text">dari google</p></div>
<p>&#8220;Puritan (Homicide is Dead)&#8221; adalah salah satu lagu yang dibuat dan dinyanyikan oleh Thufail al Ghifari, rapper Islam asal Bandung. Dengan gaya Thufail sebagai pemusik &#8216;keras&#8217;, lagu ini berisi tentang kegelisahan sekaligus &#8216;serangan&#8217; terhadap kaum atheis, baik atheis murni yang seluruh aspek hidupnya tidak mengakui eksistensi Tuhan (atheis teoritis), maupun atheis yang bersembunyi di balik KTP Islam (orang beragama) namun hidupnya secara sadar mengesampingkan keberadaan Tuhan dan tidak mau menjalankan syari&#8217;at agamanya sendiri (atheis praksis).</p>
<p>Thufail al Ghifari juga mempunyai grup musik bernama TROM (The Roots of Madinah) yang beraliran musik cadas / underground namun berisi lagu Islami. Kalau dalam grup musik underground lain memiliki simbol luciferian / setan berkepala kambing, dengan 3 jari terbuka, tapi jari tengah dan jari manis ditekuk (seperti simbol partai berlambang banteng di masa orde baru), simbol penyembahan setan. Maka TROM, dengan beberapa grup musik underground Islam lainnya menggunakan istilah &#8216;Salam Satu Jari&#8217;, <span id="more-191"></span>dengan telunjuk mengacung ke atas, simbol ketauhidan, peng-Esaan Allah. Jika ada yang penasaran bisa cari sendiri di internet, lagunya juga sudah tersebar dan bisa didownload. Aliran ini bisa menjadi alternatif bagi siapa saja yang tidak menyukai jenis nasyid, yang kadang terlalu mendayu-dayu. Atau bagi para penyuka aliran musik underground tapi menginginkan substansi lagu tetap Islami.</p>
<p>SALAM SATU JARI!</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>PURITAN (HOMICIDE IS DEAD) &#8211; Thufail al Ghifari</strong></p>
<p>Bismillahirrahmaanirrahiim</p>
<p>Assalamualaikum …</p>
<p>Muslim strikes back yo…(strikes back)</p>
<p>Adalah bagaimana para atheis menyangkal nama Tuhannya</p>
<p>Fitnah terlebih dahulu tanpa beri kesempatan untuk bertanya</p>
<p>Tentukan setiap tema legitimasi logika seperti hak cipta</p>
<p>Supaya bisa kucuci seluruh ketololanmu dengan aqidah</p>
<p>Persetan dengan logika sejak parameter hak asasi kuffur dengan seberapa banyak maksiat yang kau benarkan tuk tetap ada</p>
<p>Kini lehermu-lah yang membuat golokku terasah</p>
<p>Target operasi diantara segudang komunis seperti sosialis di tempat sampah</p>
<p>Karena aku adalah libido kemarahanmu yang terangsang pada kedangkalan isi penipu Marxis idiot atheis yang tetap melacur di kelurahan nasionalis</p>
<p>Para manusia goblok warisan orientasi kontra pantura</p>
<p>Atheis berbisa ular belukar liberal</p>
<p>Idiot mana yang coba definisikan moral</p>
<p>Persetan dengan diskusi tanpa implementasi dan kunci pembuka hati dialektika omong kosong seribu bahasa</p>
<p>Instruksi air raksa</p>
<p>Sahabatku yang kau murtadkan tanpa sadar ke jurang neraka</p>
<p>Reduksi basa-basi hingga ke kafir yang paling fatal</p>
<p>Dustakan banyak dalil</p>
<p>Pluralis adalah ambisi</p>
<p>Wadah amunisi kalian memang lebih bangsat dari Abu Jahal</p>
<p>Logika kalian membuat kami siap tuk menuai badai</p>
<p>Untuk setiap logika pembenaran yang kau bela dengan fitnah</p>
<p>Yang membuat orang lain kuffur bersamamu</p>
<p>Untuk setiap ide yang kalian doktrin bagi utopia yang kalian harapkan</p>
<p>Aku bersumpah bagi seluruh kaderisasi Islam yang harus tetap bertahan</p>
<p>Dari setiap generasi Islam yang harus tetap terjaga</p>
<p>Maka setiap jenis sakal yang kalian olok-olokkan</p>
<p>Sampai akhir hidupku Islam akan kubela walau nyawaku harus rata dengan aspal</p>
<p>Aku bangga membuat badan dan leher kalian terpisah</p>
<p>Khotbah kalian terbatas pada gundukan sampah</p>
<p>Lawan api dengan api semoga kalian cepat rata dengan tanah</p>
<p>Tai sejarah memang homicide adalah selangkangan dajjal diatas metode yang penuh cairan ludah</p>
<p>Back-up omonganmu sambil menunggu neraka mampir</p>
<p>Hak hidupmu akan kubakar hingga arang terakhir</p>
<p>Seratus kali lebih dangkal dari tajuk pembakar batas</p>
<p>Seribu kali lebih busuk dari demokrasi Amerika</p>
<p>Kami akan selalu berpikir setiap kafir harus berakhir diperapian</p>
<p>Bagi dunia yang tak melebihi dari sebuah persinggahan</p>
<p>Karena keyakinan kami lebih besar dari sebuah orasi logika kalian basi, mulut kalian bau tengik terasi</p>
<p>Karena Jihad adalah wajib bagi munafik atheis seperti kalian</p>
<p>Maka jawaban atas lagu puritan adalah omung kosong besar</p>
<p>Bagi pengecut atheis yang masih bisa bersembunyi dibalik KTP Islam, yeah</p>
<p>Seberapa jauh kau bangga pada dirimu</p>
<p>Tapi arena mikropon ini juga berbicara tentang implementasi bung!</p>
<p>Wooo … Islam, is my life, is my way, is my habit ( Muslim unite…)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diarydiar.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diarydiar.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diarydiar.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diarydiar.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diarydiar.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diarydiar.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diarydiar.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diarydiar.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diarydiar.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diarydiar.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diarydiar.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diarydiar.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diarydiar.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diarydiar.wordpress.com/191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=191&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/25/puritan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d37a470c542f575b8056b3b918bf6be1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/thufail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Thufail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tuhan itu (tidak) ada -cerita profesor dan mahasiswa-</title>
		<link>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/24/tuhan-itu-tidak-ada-cerita-profesor-dan-mahasiswa/</link>
		<comments>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/24/tuhan-itu-tidak-ada-cerita-profesor-dan-mahasiswa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 16:08:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[atheis]]></category>
		<category><![CDATA[atheisme]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[profesor]]></category>
		<category><![CDATA[tidak percaya tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan tidak ada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diarydiar.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Di salah satu kampus di Yogyakarta, saat itu sedang berjalan perkuliahan di dalam kelas yang diampu oleh seorang profesor. Ketika kuliah berlangsung, tiba-tiba sang Profesor mengajukan pertanyaan kepada mahasiswanya. &#160; Profesor: “Mahasiswa sekalian! Apakah kamu semua bisa melihat adanya Tuhan?” Mahasiswa: (mikir sebentar, kemudian menjawab) “Tidak Pak..” (serempak) Profesor: “Apakah kamu semua bisa merasakan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=176&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_177" class="wp-caption alignleft" style="width: 271px"><a href="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/kuliah.jpg"><img class="size-full wp-image-177" title="kuliah" src="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/kuliah.jpg?w=500" alt="dari google"   /></a><p class="wp-caption-text">dari google</p></div>
<p>Di salah satu kampus di Yogyakarta, saat itu sedang berjalan perkuliahan di dalam kelas yang diampu oleh seorang profesor. Ketika kuliah berlangsung, tiba-tiba sang Profesor mengajukan pertanyaan kepada mahasiswanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Profesor: “Mahasiswa sekalian! Apakah kamu semua bisa melihat adanya Tuhan?”</p>
<p>Mahasiswa: (mikir sebentar, kemudian menjawab) “Tidak Pak..” (serempak)</p>
<p>Profesor: “Apakah kamu semua bisa merasakan dan menyentuh keberadaan Tuhan?”</p>
<p>Mahasiswa: “Tidak Pak&#8230;”</p>
<p>Profesor: “Berarti Tuhan itu tidak ada!”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kelas hening. Namun tidak berapa lama ada salah satu mahasiswa yang berdiri. Dia pun bertanya kepada teman sekelasnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mahasiswa yang berdiri: “Teman-teman sekalian. Apakah kalian semua bisa melihat otak Pak Profesor?”</p>
<p>Mahasiswa lain: “Tidaaak..”</p>
<p>Mahasiswa yang berdiri: “Apakah kamu semua bisa merasakan dan menyentuh otak Pak Profesor?”</p>
<p>Mahasiswa lain: “Tidaaaakk..”</p>
<p>Mahasiswa yang berdiri: “Nah.. Berarti Pak Profesor ini tidak ada otaknya!”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diarydiar.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diarydiar.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diarydiar.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diarydiar.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diarydiar.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diarydiar.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diarydiar.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diarydiar.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diarydiar.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diarydiar.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diarydiar.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diarydiar.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diarydiar.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diarydiar.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=176&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/24/tuhan-itu-tidak-ada-cerita-profesor-dan-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d37a470c542f575b8056b3b918bf6be1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/kuliah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kuliah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tuhan itu (tidak) ada -cerita tukang cukur-</title>
		<link>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/24/tuhan-itu-tidak-ada-cerita-tukang-cukur/</link>
		<comments>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/24/tuhan-itu-tidak-ada-cerita-tukang-cukur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 15:34:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[atheis]]></category>
		<category><![CDATA[atheisme]]></category>
		<category><![CDATA[tidak percaya tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan tidak ada]]></category>
		<category><![CDATA[tukang cukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diarydiar.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, ada seorang pemuda yang sedang bercukur di salah satu tempat di Yogyakarta. Ketika asyik bercukur, ga ada angin ga ada hujan, terjadilah perbincangan nyeleneh antara si pemuda dan tukang cukur. &#160; Tukang cukur: “Dek, menurut saya, Tuhan itu tidak ada.” &#160; Si Pemuda: (kaget) “Maksud bapak gimana? Kok bisa begitu?” &#160; Tukang cukur: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=172&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_173" class="wp-caption alignleft" style="width: 216px"><a href="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/tukang-cukur-2.jpg"><img class="size-full wp-image-173" title="Tukang cukur 2" src="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/tukang-cukur-2.jpg?w=500" alt="dari google"   /></a><p class="wp-caption-text">dari google</p></div>
<p>Suatu hari, ada seorang pemuda yang sedang bercukur di salah satu tempat di Yogyakarta. Ketika asyik bercukur, ga ada angin ga ada hujan, terjadilah perbincangan nyeleneh antara si pemuda dan tukang cukur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tukang cukur: “Dek, menurut saya, Tuhan itu tidak ada.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Si Pemuda: (kaget) “Maksud bapak gimana? Kok bisa begitu?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tukang cukur: “Iya. Tuhan itu tidak ada. Gini dek ya, katanya kan Tuhan itu Maha Penyayang dan Pengasih. Lha terus kok masih banyak orang miskin. Banyak juga para pengemis yang meminta-minta. Juga gembel-gembel di kolong jembatan itu. Coba, berarti kan Tuhan itu tidak ada. Buktinya mereka tidak mendapat kasih dan sayangnya yang sering disebut-sebut itu. Iya kan?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mendengar pendapat tukang cukur tersebut si pemuda terdiam. Dia juga bingung harus menjawab bagaimana. Hingga diapun selesai bercukur dan pergi meninggalkan tempat tersebut.</p>
<p>Baru beberapa langkah keluar, dia melihat ada seorang pria di seberang jalan. Rambutnya sangat gondrong dan kumal. Tiba-tiba si pemuda tersenyum. Terbersit sebuah ide entah apa. Yang jelas dia segera kembali ke tempat tukang cukur tadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesampainya di tempat cukur&#8230;<span id="more-172"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tukang cukur: ”Ada apa dek, kok balik lagi?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Si Pemuda: “Pak, menurut saya di dunia ini ga ada tukang cukur!”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tukang cukur: (balik kaget) “Lho, maksudnya gimana? Kamu kan baru saja bercukur? Bahkan saya sendiri yang mencukur kamu di sini. Saya tukang cukur.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Si Pemuda: “Pokoknya menurut saya ga ada tukang cukur. Coba lihat ke seberang jalan sana Pak! (sambil nunjuk ke pria gondrong tadi). Buktinya kenapa masih ada orang berambut gondrong di dunia ini? Kalau ada tukang cukur, harusnya kan ga akan ada orang gondrong.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tukang cukur: “Lha itu salah mereka sendiri. Kenapa mereka ga mau bercukur atau datang ke tempat cukur. Pasti mereka bisa dicukur dan ga gondrong lagi.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Si pemuda: “Nah, ini sama kayak pendapat bapak tadi. Tuhan itu ada pak. Kalaupun masih banyak orang yang miskin, meminta-minta atau jadi gembel. Itu bukan karena Tuhan tidak ada, tapi salah mereka sendiri yang tidak mau mendatangi Tuhan, lewat ibadah, lewat ikhtiar, dan lain-lain. Sama juga, banyaknya orang gondrong, bukan karena di dunia ini ga ada tukang cukur, tapi salah mereka sendiri yang tidak mau datang ke tempat tukang cukur.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tukang cukur: (manggut-manggut) &#8221;Oh, bener juga dek ya..&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(sumbernya lupa, redaksinya saya buat sendiri)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diarydiar.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diarydiar.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diarydiar.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diarydiar.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diarydiar.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diarydiar.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diarydiar.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diarydiar.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diarydiar.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diarydiar.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diarydiar.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diarydiar.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diarydiar.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diarydiar.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=172&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/24/tuhan-itu-tidak-ada-cerita-tukang-cukur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d37a470c542f575b8056b3b918bf6be1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/tukang-cukur-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tukang cukur 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bau Ketek</title>
		<link>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/09/bau-ketek/</link>
		<comments>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/09/bau-ketek/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 16:54:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iseng]]></category>
		<category><![CDATA[al mujahidin]]></category>
		<category><![CDATA[ashar]]></category>
		<category><![CDATA[bau]]></category>
		<category><![CDATA[bau ketek]]></category>
		<category><![CDATA[berjama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[ketek]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[uny]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diarydiar.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu entah hari apa, yang jelas pas jadwal sholat ashar di Masjid Al Mujahidin, UNY. Karena sudah dapet materi tentang dahsyatnya pahala berjama&#8217;ah di shaf depan, yang katanya, kata Rasulullah, jika manusia harus mengundi untuk mendapatkan shaf depan, niscaya mereka akan mengundi untuk dapat shaf depan-, ini untuk menunjukkan betapa pahala berjama&#8217;ah di shaf [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=164&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/bau-ketek.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-165" title="B" src="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/bau-ketek.jpg?w=300&#038;h=199" alt="dari google" width="300" height="199" /></a>Hari itu entah hari apa, yang jelas pas jadwal sholat ashar di Masjid Al Mujahidin, UNY. Karena sudah dapet materi tentang dahsyatnya pahala berjama&#8217;ah di shaf depan, yang katanya, kata Rasulullah, jika manusia harus mengundi untuk mendapatkan shaf depan, niscaya mereka akan mengundi untuk dapat shaf depan-, ini untuk menunjukkan betapa pahala berjama&#8217;ah di shaf depan itu begitu keren. Maka sayapun bersegera menempatinya (cieee). Persis di belakang imam.</p>
<p>Iqamah udah selesai. Seperti biasa sebelum berjama’ah dimulai, sang Imam menyampaikan:</p>
<p><em>“Kepada jama’ah yang memiliki HP dan alat komunikasi lainnya, mohon dimatikan terlebih dahulu”.</em></p>
<p>Makmum ada yang protes: <em>“What..?! Jama’ah yang membawa HP, harus dimatikan..?! Jama’ahnya dimatikan..?!”</em>.</p>
<p><em>“Jangan lebay deh, yang dimatiin itu HP-nya. Ayo lurusin shafnya!”</em> Jawab imam.</p>
<p><em>“Oooohh.. Maaf ustadz..”</em>  Kata makmum tadi.</p>
<p>Imampun kemudian bertakbir menandai dimulainya sholat. “ALLAAHU AKBAR&#8230;”. Seluruh makmum serentak <span id="more-164"></span>mengikuti takbir. Jama&#8217;ah sholat ashar dimulai. Suasana jadi cukup hening. Khusyuk, insyaallah <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Beberapa detik kemudian saya tersadar ternyata di sekitar situ ada aroma sesuatu. Sesuatu banget. Tidak terlalu asing. Ada yang tau itu aroma apa? Yup! Tepat sekali, BAU KETEK! tek.. tek.. tek.. tek.. (ini efek echo saking kerasnya berteriak). Sambil bersedekap, mau ga mau sholat saya pun sedikit terganggu, mungkin demikian halnya dengan beberapa makmum yang lain. Hidung saya mencoba menghirup ke beberapa arah, kiri dan kanan, memastikan makmum sebelah mana yang keteknya menjadi <em>trouble maker</em>. Hemm.. bau punya bau, ternyata sumber aroma itu makmum sebelah kiri! Ketahuan ya, dasar kamu orang kiri! Hehe.. Saat itu ada beberapa hal yang saya fikirkan, apa yang harus saya lakukan menghadapi hal itu? Berikut adalah pilihan-pilihannya..</p>
<ol>
<li>Membatalkan sholat kemudian bilang sama orang yang ada di sebelah kiri: <em>&#8220;Heh.. Pergi sana! Bikin polusi aja loe! Ketek loe ga disekolahin ya..?!&#8221;</em></li>
<li>Membatalkan sholat kemudian pindah tempat. Tapi sepertinya ga mungkin, soalnya makmum shaf kedua juga udah penuh. Mau lewat depan, ga enak sama imam. Mau terbang, ga punya sayap.</li>
<li>Berhenti dari bacaan sholat kemudian berteriak: <em>&#8220;CUT! Saudara-saudara, mohon jama&#8217;ah dihentikan! Saya ga bisa sholat nih, bau ketek nih di samping gue, bikin mual..!!&#8221;.</em> Uwwwoookk.. (muntah-muntah).</li>
</ol>
<p>Akhirnya.. saya ga memilih ketiganya, hanya mencoba menahan nafas:</p>
<p><em>&#8220;Hemmmppp.. Hemmmmppp.. Heeemmmmpp..&#8221; </em></p>
<p><em></em>1 detik.. 2 detik.. 3 detik.. sampai 10 detik, ternyata ga kuat. Jalur pernafasanpun saya ganti keluar masuk lewat mulut. Biar aromanya ga terlalu menyengat, tapi tetep masih bisa bernafas, hehehe. Sumpah. Dengan kondisi begitu sholat jadi terasa laaamaaaa banget (padahal kalo ga bau ketek pun kadang sholat terasa lama ding. Hihihi.. Astaghfirullah..). Begitulah sampai sholat selesai, kalau ga nahan nafas, ya bernafas lewat mulut. Hingga imam salam, saya pun ikut salam dan segera bergeser ke belakang, sebelum semaput di TKP. Fiuuuhhh&#8230;</p>
<p><strong>Nah, saudara-saudara!</strong></p>
<p>Tentu kejadian sebenarnya ga selebay itu ya. Jika ada kesamaan tokoh dan kejadian, semua hanya kebetulan dan fiktif belaka. Tapi saya yakin kejadian-kejadian serupa tidak jarang terjadi (baca: sering). Ya, tentang kebersihan ketika kita beribadah. Terutama kasus bau ketek itu. Tentu saya juga tidak bisa menyalahkan ya, karena kan bau ketek itu keluar dengan sendirinya. Tanpa komando aroma itu menyebar seenaknya. Tapi, selayaknya kita sebagai seorang muslim, yang menjadikan kebersihan menjadi bagian dari iman harusnya bisa lebih resik. Sekarang sudah banyak tuh farfum-farfum, di Unit Usaha Mujahidin (UUM) juga ada di belakang Masjid. Sekarang juga sudah musim deodoran, yang bisa menghilangkan bau ketek, setia setiap saat, kayak burjo 24 jam. Atau katanya bau ketek itu bisa hilang pakai cairan tuas, atau juga pakai daun sirih, dihaluskan campur kapur sirih, dioles deh tuh ke Catty (ketek), hilang deh tuh bau, insyaallah. Ga mahal kok. Atau mau saya beliin..?!</p>
<p>Intinya bagaimana agar dalam segala aktifitas beribadah kita bisa nyaman dan juga memberi kenyamanan kepada orang lain. Untuk ketemu pacar (kalau laku), bertamu kepada orang yang dihormati, bertemu dengan pejabat, kita seringkali mempersiapkan dengan sebaik-baiknya. Mandi, gosok gigi, pakai minyak wangi, dan sebagainya. Ini untuk bertemu Allah -Sang Pencipta kita- apa iya mau tampil dan dengan aroma seadanya..?! Apa kata dunia..?! Apa kata akhirat..?!</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diarydiar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diarydiar.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diarydiar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diarydiar.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diarydiar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diarydiar.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diarydiar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diarydiar.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diarydiar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diarydiar.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diarydiar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diarydiar.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diarydiar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diarydiar.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=164&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/09/bau-ketek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d37a470c542f575b8056b3b918bf6be1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/bau-ketek.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">B</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ini dia! 9 Langkah Praktis agar Anda Cekatan dalam Menulis</title>
		<link>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/08/ini-dia-9-langkah-praktis-agar-anda-cekatan-dalam-menulis/</link>
		<comments>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/08/ini-dia-9-langkah-praktis-agar-anda-cekatan-dalam-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 07:02:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[cara menulis]]></category>
		<category><![CDATA[langkah praktis]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[seputar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diarydiar.wordpress.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Catatan: Maksud &#8221;menulis&#8221; di sini bukan dalam arti sekedar &#8216;menulis&#8217; asal jadi. Satu atau dua kalimat doang. Menulis sms atau menulis status. Tapi maksud saya &#8216;menulis&#8217; di sini dalam pengertian yang dipersempit. Semisal menulis artikel, cerpen, novel, de e l el. OK lets go! (Lha malah nyuruh pergi..?!) *** Sebagian besar orang berfikir bahwa menulis adalah pekerjaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=158&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/menulis1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-162" title="menulis" src="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/menulis1.jpg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p><strong>Catatan: </strong>Maksud &#8221;menulis&#8221; di sini bukan dalam arti sekedar &#8216;menulis&#8217; asal jadi. Satu atau dua kalimat doang. Menulis sms atau menulis status. Tapi maksud saya &#8216;menulis&#8217; di sini dalam pengertian yang dipersempit. Semisal menulis artikel, cerpen, novel, de e</p>
<p>l el. OK lets go! (Lha malah nyuruh pergi..?!)</p>
<p>***</p>
<p>Sebagian besar orang berfikir bahwa menulis adalah pekerjaan orang-orang tertentu. Menulis itu merupakan bakat yang timbul sejak lahir. Tidak bisa sembarang orang melakukannya. Hal ini memberi kesan bahwa para penulis hebat itu memang sudah lahir sebagai penulis. Atau mungkin jika dilihat di rahim ibu para penulis, bisa dilihat di dalamnya udah ada corat-coret dari si jabang bayi. Si orok udah aktif menulis di perut ibunya sejak dalam kandungan.. (halah).</p>
<p>Apakah Anda termasuk orang yang berfikir seperti itu? <span id="more-158"></span>Semoga saja tidak. Karena menulis itu sebenarnya <em>‘created’</em> bukan <em>‘born’</em> (ejaan londonya bener ga ya ini..?! Kalo ada anak2 FBS yang baca.. Tolooooonnnggg..!!). Intinya menurut saya penulis itu diciptakan, bukan dilahirkan. Atau ya, lebih tepatnya, dilahirkan dulu ding, terus belajar sendiri gitu biar bisa nulis.</p>
<p>Sebenarnya agar bisa menulis itu gampang saja. Berikut adalah 10 (sepuluh) langkah agar Anda terbiasa dan cekatan dalam menulis. Apa saja itu? Cekidooooottt!</p>
<ol>
<li>Mulailah menulis</li>
<li>Mulailah menulis</li>
<li>Mulailah menulis</li>
<li>Mulailah menulis</li>
<li>Mulailah menulis</li>
<li>Mulailah menulis</li>
<li>Mulailah menulis</li>
<li>Mulailah menulis</li>
<li>Nunggu apa lagi..?! Ayo MENULIS..!!</li>
</ol>
<p>Jadi, katanya sih, menulis itu seperti latihan beladiri. Kita ga tiba-tiba jago berantem dengan nonton film kungfu di TV. Harus praktek. Harus latihan. Terus menerus hingga bakatpun terasah. Menulis juga gitu, kita ga akan langsung jago menulis dengan mengikuti banyak pelatihan kesana-kemari (membawa alamat), atau dengan membaca novel-novel best seller, tapi tidak pernah mencoba untuk mempraktekannya. Maka, mulailah sekarang!</p>
<p><strong>NB 1:</strong></p>
<p>Note ini terinspirasi dari beberapa artikel di internet seputar dunia menulis.</p>
<p><strong>NB 2:</strong></p>
<p>Note ini buat saya sendiri, karena saya juga masih belepotan dalam menulis. Tapi, ya karena note ini ditulis di FB dan di tag. Terima aja deh yaa&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diarydiar.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diarydiar.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diarydiar.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diarydiar.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diarydiar.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diarydiar.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diarydiar.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diarydiar.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diarydiar.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diarydiar.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diarydiar.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diarydiar.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diarydiar.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diarydiar.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=158&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/08/ini-dia-9-langkah-praktis-agar-anda-cekatan-dalam-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d37a470c542f575b8056b3b918bf6be1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/menulis1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">menulis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Robot Manja yang Ingin Cantik</title>
		<link>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/07/robot-manja-yang-ingin-cantik/</link>
		<comments>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/07/robot-manja-yang-ingin-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 23:10:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iseng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diarydiar.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Di zaman yang semakin modern ini, di satu sisi manusia semakin dimanjakan, di sisi lain ia dianggap seperti robot. Dimanjakan karena sekarang sudah banyak alat bantu yang semakin canggih dalam segala hal. Seperti robot karena banyak sekali alat yang diciptakan untuk ‘memperbaiki’ bagian-bagian tubuh manusia. Bingung? Sama. Mari kita lihat satu persatu. DIMANJAKAN Dulu, tukang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=154&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/robot.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-155" title="robot" src="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/robot.jpg?w=500" alt=""   /></a>Di zaman yang semakin modern ini, di satu sisi manusia semakin dimanjakan, di sisi lain ia dianggap seperti robot. Dimanjakan karena sekarang sudah banyak alat bantu yang semakin canggih dalam segala hal. Seperti robot karena banyak sekali alat yang diciptakan untuk ‘memperbaiki’ bagian-bagian tubuh manusia. Bingung? Sama. Mari kita lihat satu persatu.</p>
<p><strong>DIMANJAKAN</strong></p>
<p>Dulu, tukang pos merupakan segalanya. Mulai dari kirim surat, kirim uang, kirim barang. Sekarang? PT Pos Indonesia harus beberapa kali revisi pekerjaan karena sebagaian besar fungsinya <span id="more-154"></span>sudah tergantikan dengan perangkat-perangkat lain. Ada bank dengan ATM-nya. Ada e-mail yang bisa kirim surat secepat kilat, bahkan kta tidak sempat membeli bakso untuk menunggunya. Tak perlu kertas, tak perlu pulpen. Belum lagi adanya telfon dan sms. Biayanyapun semakin murah. Dulu, kartu sellular itu, harga perdananya bisa seharga HP di masa sekarang. Hari ini, kartu perdana bahkan ada yang harganya 1000 perak! (mahal juga, coba aja punya 1000 bijih perak). Ya, maksudnya 1000 rupiah a.k.a. Rp 1.000, 00.</p>
<p>Masalah transportasi? Jangan ditanya. Ingin menjadi haji, di zaman Orde Lama dan jauh sebelum itu perlu waktu sampai 3 bulan untuk pergi ke Arab Saudi. Tidak sedikit orang yang meninggal di laut sebelum sampai ke Baitullah. Saat ini, berangkat dari tanah air setelah terbit matahari, dan bisa melihat matahari terbenam di jazirah Arab. Yup. Tidak sampai sehari.</p>
<p>Berita-berita di seluruh pelosok dunia bisa diketahui sangat cepat. Ada jarum jatuh di Palestina, suaranya bisa langsung terdengar di pelosok Gunung Kidul (eh, gunung kidul itu pelosok ga sih..?! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> . Jual beli barang yang sebagian masih harus tawar menawar di Pasar, lengkap sama berbagai aromanya, sekarang bisa dilakukan cukup dengan klak-klik depan komputer. Jadi ingat di salah satu film Hollywood yang menceritakan ketika seluruh manusia meakukan aktivitas hidupnya memakai robot. Bahkan untuk berjalanpun dia duduk di atas kursi yang bisa terbang. Akhirnya mereka menjadi manusia-manusia yang mengalami obesitas dan tidak bisa berjalan sama sekali. Karena sejak kecil tidak pernah menggunakan semua anggota tubuhya buat melakukan sesuatu. Semuanya dengan memakai bantuan mesin. Ah, benar-benar dimanjakan bukan?</p>
<p><strong>SEPERTI ROBOT</strong></p>
<p>Dibalik kehidupan yang serba canggih, harusnya kan semakin enak tuh. Tubuh kita lebih sering istirahat. Tapi yang terjadi sekarang, manusia ini seolah-olah seperti robot, yang setiap komponen-komponennya memerlukan bahan-bahan kimia sebagai perawatan. Lihat saja produk-produk dan berbagai iklan di media massa. Berbagai ‘service’ dan ‘suku cadang’ ditawarkan untuk memperbaiki robot bernama manusia.</p>
<p>Sejak ibu hamil, dia sudah dianjurkan mengkonsumsi berbagai bahan pabrikan. Ketika bayi lahir, ada susu khusus baik untuk ibu maupun anaknya. Setiap usia bayi dianjurkan mendapat jatah susu berbeda. Rambut rontok? Tenang, ada obatnya. Rambut lepek, berketombe dan beracun? Semua ada samponya sendiri-sendiri. Perut membesar, obesitas, badan tidak langsing? Ada ‘service’-nya. Kulit yang kasar, kusam berjerawat? Ini perlu service! Sialakan beli obatnya. Bahkan ada juga obat kulit yang memiliki slogan seperti peserta PEMILU tingkat RT: “Memberi bukti, bukan janji.”</p>
<p><strong>JADINYA</strong></p>
<p>Efek samping dari keluarnya produk-produk itu yang pailng berbahaya menurut saya adalah timbulnya berbagai penafsiran baru tentang makna keindahan. Sekarang, telah banyak reduksi terhadap pengertian beberapa hal. Misal nih, dengan adanya berbagai iklan obat kecantikan dan kosmetik, secara tidak sadar kita juga digiring untuk memberi pamahaman bahwa yang disebut cantik itu adalah berkulit putih, rambut tidak berketombe, bibir tipis, bentuk badan seperti gitar (padahal kalau ada wanita berbadan seperti gitar, maka saya akan jadi orang pertama yang kabur karena takut, apalagi kalo dia bersenar). Atau ada juga iklan yang mengatakan: “Cantik itu, kulit mulus bebas bulu”. Wah, kalau ini berlaku, maka yang paling cantik di dunia adalah belut, kulitnya mulus, dan tidak berbulu. Kasian juga monyet nanti, dia penuh bulu. Berarti jelek banget. Bebagai media juga mengisyaratkan, bahwa yang disebut kaya itu harus memiliki rumah mewah, HP bermerk, baju perlente dan berbagai kemewahan lainnya.</p>
<p>Hal ini memberi pengaruh yang sangat besar. Coba kita lihat, berapa banyak remaja-remaja yang lebih sibuk memikirkan satu buah jerawat di hidungnya daripada mengurusi sholatnya yang masih bolong-bolong. Atau, betapa mereka stress karena perutnya yang gendut daripada memikirkan bacaan Qur’annya yang masih terbata-bata. Tidak sedikit juga yang terus membayangkan agar bisa menjadi kaya raya bagaimanapun caranya, daripada memikirkan bagaimana agar sesedikit apapun, hartanya bisa berkah dan diperoleh dengan cara yang baik.</p>
<p>Ya, entah kelemahan manusia yang membuat produk-produk itu muncul atau justru produk-produk itu muncul untuk melemahkan manusia. Padahal sejak dulu, jauh sebelum produk-produk modern itu ada, manusia juga sehat-sehat saja, tetep bisa hidup dan berketurunan. Bukan, saya bukan membenci modernitas atau tidak senang dengan kecanggihan dan kemudahan di era sekarang. Atau melarang manusia untuk cantik dan kaya. Tapi cobalah memandang hidup ini lebih bermakna dan sederhana. Allah menciptakan manusia dengan segala potensinya. Kita tidak akan masuk neraka karena kulit tidak putih, muka berjerawat atau rambut berketombe. Modern boleh, tapi tidak perlu lebay dan mari tetap bijak. Allah melihat hati daripada fisik.</p>
<p><em>“Allah tidak melihat fisik dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat hati kalian.”</em> (HR. Muslim no. 2564)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diarydiar.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diarydiar.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diarydiar.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diarydiar.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diarydiar.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diarydiar.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diarydiar.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diarydiar.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diarydiar.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diarydiar.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diarydiar.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diarydiar.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diarydiar.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diarydiar.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=154&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/07/robot-manja-yang-ingin-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d37a470c542f575b8056b3b918bf6be1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/robot.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">robot</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengendara Kebelet Pipis</title>
		<link>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/07/pengendara-kebelet-pipis/</link>
		<comments>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/07/pengendara-kebelet-pipis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 23:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iseng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diarydiar.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Semakin sering naik kendaraan, makin sering juga melihat pola berkendara yang sama bagi sebagian besar masyarakat di Jogja. Ya, mungkin memang bukan semua orang Jogja asli, karena banyak juga pendatang di sini. Mungkin juga malah ga ada orang Jogjanya. Mungkin, ini juga terjadi di berbagai belahan dunia dan seisinya. Kebanyakan mungkin jadinya. Yang pasti, saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=149&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/ngebut-32.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-152" title="Ngebut 3" src="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/ngebut-32.jpg?w=150&#038;h=103" alt="" width="150" height="103" /></a>Semakin sering naik kendaraan, makin sering juga melihat pola berkendara yang sama bagi sebagian besar masyarakat di Jogja. Ya, mungkin memang bukan semua orang Jogja asli, karena banyak juga pendatang di sini. Mungkin juga malah ga ada orang Jogjanya. Mungkin, ini juga terjadi di berbagai belahan dunia dan seisinya. Kebanyakan mungkin jadinya. Yang pasti, saya ingin mengupas tentang kebiasaan pengendara. Kebiasaan pengendara ini saya sebut sebagai “PKP”: Pengendara Kebelet Pipis.</p>
<p>Coba perhatikan saja ya. <span id="more-149"></span>Kasus pertama, di lampu merah (Bangjo). Di Jogja kan kebanyakan bangjo pake itungan mundur. Saya lebih melihat ini bukan sebagai peringatan agar berhati-hati, tapi seolah2 ini adalah aba-aba di garis start pada acara Gran Prixx Internasional. Para PKP siap2 dengan ‘menggerung-gerungkan’ mesin. Bunyi klakson bersahutan. Bahkan sebelum lampu berwarna hijau, atau juga pada 5 detik terakhir lampu merah, PKP ini sudah wuss.. wuss.. wuss.. melesat cepat.</p>
<p>Di kasus yang lain berlaku sebaliknya. Ada juga PKP yang msih terus menjalankan kendaraannya padahal lampu sudah menyala merah.</p>
<p>Kasus berikutnya ketika situasi macet. PKP Community ini semakin menjamur, terutama di kalangan pengendara motor. Sampai-sampai mereka merampas hak pejalan kaki. Yup. Jalan lewat trotoar! Jadinya yang macet bukan cuma motor, yang jalan kaki ikut macet. Di persimpangan jalan, baik itu pertigaan, perempatan, atau perdelapan final, tipe-tipe PKP ini ga pernah mau mengalah. Pokoknya dia sendiri yang harus jalan duluan. Rupanya kasus seperti ini juga bisa di lihat di Jakarta, kita juga sering menyaksikan PKP merangsek memasuki jalan bus way. Bus way pun yang tadinya buat antisipasi biar ga macet, ya kena macet juga. Kasus-kasus lain silakan cari sendiri. Tak aneh lah kalo tabrakan jadi salah satu penyebab kematian terbanyak di Indonesia.</p>
<p>Padahal momen momen berkendara di jalan raya, bisa kita gunakan saja buat latihan sabar dan itsar (mendahulukan orang lain). Bukankah dalam kaidah fiqh, itsar dalam perkara selain ibadah adalah disukai..? Bahkan ini menurut Hasan Al Banna merupakan puncak ukhuwwah.</p>
<p>Saya kadang ga habis pikir. Sebenarnya apa coba yang mau diburu? Atau paling nggak, apakah ketika kita ga ngebut, ga dulu-duluan sama orang kita akan mati? Atau hilang harga diri? Saya yakin ga selebay itu, kan..?! Ya meskipun Aa Gym pernah mengatakan juga, jika saudaramu berbuat sesuatu yang Anda anggap buruk, maka buatlah 1001 alasan agar Anda tetap husnudzan sama dia. Mungkin banyak alasan kenapa mereka melakukan hal itu, apakah istrinya mau melahirkan, jemuran pakaian kehujanan, atau,,, ya karena bener-bener kebelet pipis. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diarydiar.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diarydiar.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diarydiar.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diarydiar.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diarydiar.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diarydiar.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diarydiar.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diarydiar.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diarydiar.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diarydiar.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diarydiar.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diarydiar.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diarydiar.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diarydiar.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diarydiar.wordpress.com&amp;blog=10622739&amp;post=149&amp;subd=diarydiar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diarydiar.wordpress.com/2012/01/07/pengendara-kebelet-pipis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d37a470c542f575b8056b3b918bf6be1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diarydiar.files.wordpress.com/2012/01/ngebut-32.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Ngebut 3</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
