diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

The Chosen Jomblo

7 Komentar

JOMBLO. Satu kata yang tak asing terutama di kalangan remaja. Jomblo adalah satu kondisi ketika seseorang tidak punya pasangan. Namun dalam perjalanannya ketidak-punya-pasangan ini sering jadi konotasi negatif, bahwa Sang Jomblo adalah orang yang tidak laku, ditinggal pacar dan punya nasib yang mengenaskan. Lalu muncullah berbagai ungkapan buat si Jomblo, seperti: “Hari gini jomblo..??”, “Ngapain jomblo terus..?”, “Mau jomblo sampe bulukan..??”, “jomblo niye..”, “eh, kamu jomblo po..?! Kasian..”. Definisi jomblo pun semakin sempit bahwa Jomblo hanya sebutan bagi para pecundang cinta (halah), yang tidak pandai membina hubungan, tidak laku atau bahkan disebut h*m*s*ks (na’udzubillah). Kalau sudah seperti ini bisa kalang kabut tuh si Jomblo, sebisa mungkin dia menghindari predikat Jomblo dalam dirinya dan menyibukkan diri mencari pasangan.

Padahal, kenyataan mengatakan: JOMBLO GA GITU DEHH… (Iya po..?!), Iya noh. Jomblo bukanlah dampak (buruk) dari kandasnya cinta (halah) melainkan sebuah pilihan (prinsip hidup) dan harus ditempatkan seperti ini agar menjadi objektif. Jomblo akan menyakitkan jika itu dianggap sebagai akibat, maka perluaslah perspektif tentang jomblo. Jomblo harus dijadikan sebuah pilihan.

Saya yakin jika mengambil dari perspektif agama (Islam) semuanya tentu faham bagaimana hukum pacaran, dampak negatif dan keburukannya. Sebenarnya secara sadar atau tidak, hati nurani pun menolak hal ini, dengan salah satu indikator bahwa beberapa orang mikir 2 kali saat mau pacaran di bulan Romadhon (Iya po..?! ga juga), ga pernah ada orang pacaran di dalam masjid. Kita pun kadang nyeleneh: “Puasa kok pacaran..??”. ini artinya pacaran itu sendiri sudah punya pemahaman negatif dalam hati yang terdalam. Lepas dari agama membenarkan atau tidak. Kecuali hatinya memang sudah mati.

Nah, sejatinya ketika jomblo itu jadi sebuah pilihan, maka pencarian pasangan pun tentu tidak jadi prioritas. Jomblo itu bukan tempo persinggahan dari satu pasangan ke pasangan lain, tapi jomblo adalah pelepasan dan pembebasan, atau sebuah proses menuju Freedom Flotilla, menuju kebebasan sebenarnya. Tanpa banyak aturan dari pacar, duit awet dan kita pun tidak disibukkan buat mikirin anak orang. Bebas berhubungan dengan siapapun. Nongkrong bareng temen lebih leluasa. Ga ada aturan, tanpa ikatan. Bisa menjalin hubungan (bukan pacaran) dengan lelaki manapun, dengan wanita manapun, tanpa takut dicurigai, tanpa kekangan dari pacar. Ya, bebas sebebas-bebasnya. Jika dalam pacaran kita hanya mencintai dan dicintai satu pasangan. Maka dengan menjadi jomblo kita punya peluang lebih besar buat mencintai dan dicintai teman. Semua teman. gaa cuma satu. Ga perlu backstreet. Ga perlu selingkuh. Ga perlu kucing-kucingan sama orang tua. Dan yang paling utama: GA BERDOSA. (ya, kan..?!)

Jomblo bukan berarti ga laku, bukan berarti ga akan punya pasangan, karena jomblo juga pilihan. Tentu setiap manusia diciptakan berpasangan. Selalu ada orang yang menunggu di luar sana (ngarep), tapi bener kok, itu Qur’an lho. Carilah pasangan jangka panjang, ketika siap nikah, bukan menyukai sesaat dan terbuang seperti sampah.

Proud to be a JOMBLO.

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

7 thoughts on “The Chosen Jomblo

  1. tapi terkadang kita juga suka iri nich jika ngliat orng pacaran ,,,,,jdi ngerasa pengen punya pacar hehehehehehe

  2. Saya suka pendapat anda..

  3. Dan yang lebih rese lagi, meskipun gw tahu sebabnya adalah karena gw males, gw mencoba memaklumi kemalasan gw dengan alasan gw kan orangnya sibuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s