diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

Terjebak dalam Pencitraan

Tinggalkan komentar

MALAM tahun baru tidak selamanya diisi dengan meniup terompet, pada pergantian 2010 menuju 2011 kemarin, salah satu Koran Harian Nasional (REPUBLIKA) mengelenggarakan Pengajian Akbar yang bertempat di Masjid UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pengajian tersebut menghadirkan dua pembicara nasional, Ustadz Syamsuddin dan Ustadz Wijayanto plus satu hiburan oleh Nasyid Sintesa.

Ustadz Syamsuddin menyampaikan tentang Pentingnya Persatuan dan Kesatuan bangsa, namun di sini saya tidak akan membahas itu, saya hanya ingin menyampaikan apa yang dipaparkan oleh ustadz Wijayanto saja. Kenapa? Terserah saya dong!

Baiklah. Ustad Wijayanto mengawali penyampaiannya dengan satu wacananyeleneh, beliau mengatakan bahwa momen tahun baru biasanya diisi dengan ‘Pesta Kebodohan’.

PESTA DIMULAI

Coba kita perhatikan, mercon-mercon atau petasan itu pastinya dibeli dengan uang dan itu tidak murah, sementara yang dia inginkan adalah suaranya, namun ketika petasan itu dinyalakan dia sendiri menutup telinga! Kenapa ga sebaiknya petasan itu dinyalakan di dekat telinganya? Ya ga?

Rupanya fenomena ini juga berlaku untuk hal lain. Motor-motor yang sudah didesain sedemikian rupa oleh pabriknya, dipreteli, knalpotnya dilepas biar suaranya keras (baca: ga karuan), tapi lagi-lagi si pemilik motor menutup telinga saat menjalankannya.

Mobil-mobil juga ada yang dibuat ceper, dengan tinggi hanya beberapa mili saja dari tanah, hingga jika dia melewati polisi tidur, mobilnya harus dimiringkan dulu, dan hakikatnya malah membuat repot, bukan? Faktanya memang dia punya mobil, namun mentalnya masih mental gerobak.

Hal lain adalah tentang vila. sebagian besar orang-orang kaya membuat vila-vila yang mewah di tempat tertentu, di pegunungan, bukit-bukit dan sebagainya. Namun vila itu hanya dikunjungi satahun sekali. Bahkan Di beberapa survey menyebutkan bahwa dari seluruh vila yang ada di Kawasan Puncak, Bogor, hanya sekitar 38% yang sering dikunjungi dan itu setahun sekali. Sepanjang tahun vila itu hanya ditinggali pembantunya saja, itupun biar tidak dihuni setan, mungkin, hehe.

Namun kita memang tidak bisa menafikan bahwa hal-hal seperti inilah justru yang lebih banyak digemari, ini bisa terjadi salah satunya adalah karena kuatnya pencitraan/image tentang sesuatu. Kemudian beliau meneruskan dengan simulasi sederhana yang pernah dipraktekan kepada mahasiswanya di UGM.

Jadi dalam suatu kesempatan, dihadapan 38 orang mahasiswa S2-nya dia menyajikan 2 jenis softdrink dalam gelas, tanpa diberitahukan merknya, sebut saja gelas A dan gelas B. Seluruh mahasiswanya disuruh mencoba kedua minuman itu dan semua sepakat bahwa yang paing enak adalah softdrink yang ada di gelas B. Simulasi selesai. Kemudian saat break, peserta disediakan 2 jenis softdrink, yaitu Coca Cola dan Pepsi dan semua peserta mengambil Coca Cola, dengan alasan Coca Cola lebih enak. Padahal ternyata, minuman dalam gelas B yang disebut minuman yang lebih enak oleh peserta dalam simulasi pertama adalah softdrink bermerk Pepsi. Nah Lho!

Ya, inilah kekuatan pencitraan, kita memang mengetahui bahwa iklan Coca Cola di negeri ini sedemikian masif, sedangkan merk yang kedua (Pepsi) sangat jarang bahkan hampir-hampir tidak pernah diiklankan di Indonesia. Hal ini secara tidak sadar membentuk satu pola fikir bahwa Coca Cola jauh lebih hebat dan jauh lebih nikmat dari merk lainnya. Fenomena seperti ini juga terjadi dalam keadaan lain, kita juga sering menganggap bahwa minuman mineral terbaik adalah AQUA, padahal belum tentu, harga mahal tidak menjamin kualitasnya lebih bagus, bisa jadi ini hanya kekuatan pencitraan. Beberapa kasus lain juga terdapat dalam fenomena Blackberry, model-model pakaian, dan seterusnya.

DALAM KESEHARIAN

Menurut saya, kita bisa coba menerjemahkan ini dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali fenomena kemaksiatan yang terjadi di sekitar kita sudah kita anggap sedemikian biasa. Pintarnya propaganda melalui media adalah ketika dia menyampaikan suatu hal sedikit demi sedikit, hingga maksud yang ingin disampaikan merasuk dengan sendirinya ke alam bawah sadar. Coba kita simak beberapa acara di televisi yang menampilkan remaja-remaja di sekolahan, tetapi yang dibahas didalamnya adalah tentang pacaran, pegangan tangan, pelukan, ciuman, dan seterusnya dan itu ditampilkan terus menerus, berulang-ulang dan saling mendukung satu dengan yang lainnya hingga dengan sendirinya perlahan tapi pasti kita mencapai pada satu kesimpulan “ooo ternyata”. OOO TERNYATA pacaran itu ga apa-apa, OOO TERNYATA pegangan tangan lawan jenis itu wajar, OOO TERNYATA pacaran tanpa ciuman itu bagai sayur tanpa daun (kalo tanpa garam kan masih bisa disebut sayur, wew). dan banyak OOO TERNYATA-OOO TERNYATA lainnya yang sebenarnya bisa jadi ini hanyalah bagian dari proaganda media.

Ketika suatu kemaksiatan ini ditampilkan berulang-ulang, terus menerus dan banyak yang mendukung, akhirnya kita tidak lagi peka terhadap segala yang terjadi di lingkungan sekitar. Ketika kita sholat shubuh kesiangan misalnya, bisa jadi awalnya merasa bersalah, namun kita melihat faktaa ternyata temen kos kita malah tidak pernah sholat shubuh sama sekali. Kejadian itupun berulang sampai kita pada satu titik ketika meninggalkan sholat, perasaan kita biasa saja dengan alasan, temen-temen kos juga seperti itu, dan itu WAJAR, katanya.

SO..?!

Nah, inilah salah satu alasan pentingnya kita berada dalam satu komunitas yang baik. “Bergaul dengan tukang minyak wangi akan terkena wanginya, bergaul dengan pandai besi akan terkena bau hangusnya”. Sebagaimana dalam ‘Obat Hati’-nya OPICK -yang sebenarnya ini juga bersumber dari kitab klasik- bahwa obat hati yang ke-3 adalah “Berkuuumpulaah dengan oraaang shooleeeh…” (Syeeriree.. riree,, rire.. rire.. rireeee..). Ya, kita harus banyak berkumpul dan bergaul dengan orang sholeh. Bentuknya bisa bermacam-macam, bisa dengan mengikuti tutorial dengan baik, aktif di forum-forum keagamaan atau organisasi religius seperti SKI, ROHIS, LDK dan semacamnya. Sekarang di setiap kampus sudah banyak yang seperti ini, tinggal keinginan kita untuk memanfaatkannya dengan maksimal. Atau bisa juga dengan banyak membaca buku-buku agama dan banyak berdiskusi dengan orang-orang yang kita anggap baik (baca: sholeh).

Namun satu hal yang paling utama untuk memuat pribadi menjadi semakin baik adalah kemampuan dan kemauan kita untuk mentarbiyah/mendidik diri sendiri (Tarbiyah Dzatiyah). Inilah yang terpenting. Bukan semata-mata mengandalkan lingkungan yang baik, tapi yang paling utama adalah ADA TIDAKNYA KEINGINAN KITA UNTUK MEMPERBAIKI DIRI. Dengan seperti ini tentu pada akhirnya tidak hanya bergantung pada komunitas, tapi ketika jauh dari komunitas baikpun, kita bisa tetap memperbaiki diri dengan kemauan dan keimanan yang kuat. Tentunya akan menjadi hasil yang luar biasa ketika keduanya bisa terkumpul dalam satu orang yang sama, tarbiyah dzatiyah-nya baik dan lingkungannya juga bagus. Terjadi keseimbangan. Ketika sendiri iman kita bisa keren, dan sekali iman turun langsung bisa saling mengingatkan.

Yup, pada akhirnya tentu kita haris selalu kritis terhadap segala fenomena yang terjadi di lingkungan kita dan senantiasa bergerak berdasar kefahaman, tidak sekedar ikut-ikutan karena bisa jadi semua sekedar kekuatan pencitraan. Jiwa kita perlu dibekali dengan input yang cukup, landasan dan prinsip yang jelas dan benar hingga akhirnya bisa menjadi tameng pembeda (al-furqan) antara kebaikan dan keburukan.

Allahu A’lam.

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s