diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

Siapa saya?!

Tinggalkan komentar

JIKA kita ditanya oleh seseorang: “Kamu itu yang mana?”. Kira-kira apa yang akan ditunjuk? “Saya itu, ini” (dengan telunjuk mengarah ke salah satu bagian tubuh). “Mana? Itu hidung”. “Ini”. “Itu dada”. “Ini lho, dari ujung rambut hingga ujung kaki”. “Itu tubuh”. “Gggrrrr”. Bahkan dalam suatu seminar biasanya lebih aneh lagi, moderator bertanya: “Siapa yang mau bertanya?”. “Saya” (sambil jari menunjuk ke atas, padahal tidak disediakan kursi di langit-langit, ada orang po di atas? he..).

Ya, ini tentang ‘saya’. Yang mana sebenarnya yang dimaksud dengan ‘saya’? Apakah ‘saya’ adalah yang bergerak dan berjalan ini? Apakah ‘saya’ yang dilahirkan 22 Februari 20 tahun silam ini? Di kamar ukuran 3×4 (kayak foto aja), jam 11 malam dengan dibantu dukun beranak? Apakah ‘saya’ adalah yang selalu dimandikan 3 kali sehari ini? (rajin, kan?) Diberi handuk, lotion, minyak rambut, farfum dan berbaju koko ini? Berjanggut, celana congklang, dan jidat bertato (hitam)? Apakah ‘saya’ adalah yang selalu memakai kaos kaki, korset (eh, namanya korset, manset atau konslet ya?), berjilbab besar dan memakai gamis ini? Apakah ‘saya’ adalah.. Apakah ‘saya’ adalah.. Apakah ‘saya’ adalah.. dan seterusnya?

Sebenanya yang mana ‘saya’? Merupakan satu pertanyaan penting (setidaknya menurut saya) karena nantinya akan berefek pada yang mana sebenarnya yang harus kita urus dalam kehidupan ini, dari mana, dan apa yang harus dilakukan. Manusia mempunyai 2 hal utama, yaitu jasad dan ruhani, fisik dan ruh. Ruh inilah yang sebenarnya di sebut sebagai hamba. Di dalam Al Quran disebutkan bahwa manusia pernah dikumpulkan dan ditanya persaksiannya di hadapan Allah, kemudian mereka menjawab: “Balaa Syahidnaa”, siapa ini? Ruh.

Ya, hakikat manusia adalah ruh, lain hal dengan jasad, ruh ini tidak pernah mati. Sejak semula diciptakan, dia hanya berubah dari bentuk satu ke bentuk lain, dia hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu alam ke alam lain. Ruh memiliki perjalanan panjang mulai dari diciptakan dan awal persaksiannya di hadapan Allah, ditiupkan ke dalam rahim, dilahirkan menjadi manusia, masuk ke alam kubur dan berakhir di alam akhirat. Kematian bukan akhir dari hidup, melainkan transformasi ruh dari dunia ke alam barzah.

Adapun seperti apa nasib dia di alam barzah dan di akhirat kelak, yang paling menentukan adalah kehidupannya di dunia. Ruh memiliki tugas utama mengabdi kepada Allah, dalam tugas ini, dia meminjam jasad. Namun sering kali yang terjadi adalah justru seolah-olah jasad ini yang meminjam ruh. Sebagian besar kehidupan dunia diisi untuk memenuhi kebutuhan fisik.

Coba kita cek mulai dari kebiasaan tidur. Berapa lama kamu tidur sehari? 2 jam? 4 jam? 6 jam? 8 jam? Baik jika kita ambil yang 8 jam misal, berarti 1/3 dari hidup setiap harinya kita gunakan untuk tidur (8/24 jam), ini juga berarti jika rata-rata hidup kita seusia Nabi, 60 tahun, berarti waktu yang digunakan untuk tidur adalah 20 tahun. Perhitungan amal manusia adalah sejak balig yang rata-rata mulai usia 15 tahun, sebelum itu amalan kita adalah untuk orang tua. Berarti efektifitas usia seluruhnya adalah 45 tahun. Digunakan buat tidur 1/3nya, 15 tahun, tersisa 30 tahun. Apakah kita gunakan ini untuk beribadah sepenuhnya? Tidak, berapa jam waktu kita buat mandi? Jika rata-rata adalah 30 menit dikali 3 (kalo pada rajin) dalam sehari maka kita habiskan 1,5 jam buat mandi setiap hari. Belum lagi buat makan, ngobrol, telfon, smsan, fesbukan, dan membaca tulisan ini.. Lol.

Atau kita coba perhitungan terbalik, berapa lama waktu kita buat beribadah? Taruhlah sholat kita rata-rata 10 menit, kali 5 sehari, 50 menit, kali sebulan, kali setahun? Jika kita sempatkan diri buat iseng menghitung, ternyata keseluruhan waktu sholat wajib kita hanya 2 tahun saja! Dan kita masih sangat PD untuk mengharap surga Allah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai itu? Yang kekal, yang tiada akhir dengan satu tebusan: sholat 2 tahun?

Ya, Rahmat Allah memang tidak akan pernah terukur, pun ibadah tidak menjadi satu-satunya penentu, dan Allah punya hak prerogatif untuk menentukan nasib hamba-NYA sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Namun demikian, tentu selayaknya kita -(ini artinya Anda dan saya)- bisa memantaskan diri, mencoba memahami hakikat diri kita sendiri. Siapa ‘saya’, dari mana ‘saya’ dan untuk apa ‘saya’ diciptakan. Berusaha agar setiap hembusan nafas senantiasa bermakna, setiap gerak menjadi pahala, setiap kedip ini berbuah surga dan lebih dari itu, mendapat cinta dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Allahu A’lam.

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s