diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

(khusus) dewasa (Part I)

2 Komentar

“Mas Diar itu kok kayak anak kecil”, kata (si) Ardan. “Iya, Mas Diar itu belum dewasa”, timpal (si) Cantikta. (Ardan adalah anak laki-laku kecil, usianya sekitar 7 tahunan, dia rajin sekali berjama’ah di Mujahidin pas sholat maghrib dan isya. Biasanya dia berangkat berjama’ah sama Ayah dan kakaknya, Cantikta itu namanya. Biasanya setelah sholat maghrib mereka berdua belajar tahfidz sama Mas Romi, Sang Imam Masjid. Celotehan ini terjadi tadi malem, di kamar tengah Kos-kosan MasMuja, ada Mas Romi juga di situ). “Hahaha”, kita berempat pun tertawa serentak.

Kebiasaan (terburuk) saya (kadang) memang suka bercanda, termasuk juga sama anak-anak kecil, termasuk juga sama Ardan dan Cantikta ini, saya sangat menyukai anak kecil, yang polos, yang masih lugu, yang ceplas-ceplos namun tingkah lakunya tidak pernah dibuat-buat, jauh dari kemunafikan. Berbeda dengan orang tua (yang mengaku dewasa) yang dalam keseharian kadang senantiasa sarat akan polesan, rambut sisiran, baju strikaan, celana laundry-an, badan minyakan, biar tidak dianggap sebagai orang yang jorokan, beuh..). Nah, hingga puncaknya pas saya bercanda semalem sama mereka, munculah kata-kata itu. Kaget, aneh, campur lucu aja ketika anak sekecil mereka kok bisa bicara seperti itu gitu. Awalnya tidak terlalu peduli dengan celotehan mereka,tapi sesaat kemudian terenung juga dalam hati: apa iya saya belum dewasa? hemm..

“Sret.. Sret.. Sret..”, seketika sketsa masa lalu berseliweran di dalam fikiran (berisik juga, ya?? he), termasuk juga yang berseliweran di dalamnya adalah kalender, ya, saya ternyata sudah 20 (lebih 2) tahun. Termasuk juga yang berseliweran di dalamnya adalah sekolah-sekolah yang telah ditempuh, ya, saya ternyata sudah mahasiswa. Termasuk juga yang berseliweran di dalamnya adalah kampung halaman tercinta, ya, ternyata saya sedang merantau di ‘negeri orang’, di Yogyakarta. Ya, ternyata sudah sejauh ini, sudah sebesar ini. Hemm..

Baiklah…

Kadang hape kita berdering dan dapat sms: “Tua itu pasti, namun dewasa adalah pilihan, bla.. bla.. bla..”, atau di lain kesempatan kita bicara: “Dia ga dewasa banget sih!”, “Kamu itu mbok yang dewasa”, “Kita ini sudah besar, harusnya sudah dewasa”, dan lain sebagainya. Sedikit merenung dan pada puncaknya kemudian timbul satu pertanyaan: Dewasa itu apa, sih? Kapan seseorang bisa dianggap dewasa? Atau sebaliknya: Kapan seseorang masih dianggap belum dewasa? Benarkah dewasa itu berbanding lurus dengan penambahan usia?

(to be continued)

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

2 thoughts on “(khusus) dewasa (Part I)

  1. Diawali celetukan ringan.
    Kadang begitulah inpisari tulisan.

    [ pemilik rumah ~> http://ayip7miftah.wordpress.com/ ]

  2. Yoha..
    Everythings is writing inspiration!
    (ejaannye bener kagay yee..)
    Eh, ngiklan bayar!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s