diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

(khusus) dewasa (Part II)

9 Komentar

Ya, dewasa. Satu kata yang mudah dikatakan tapi kadang sulit dicari indikatornya. Ada yang menyebukan bahwa salah satu indikator kedewasaan adalah ketika kita mampu senanitasa memahami orang lain, bukan selalu ingin difahami dan dimengerti. Dari indikator ini, maka jika ada seorang Ibu yang marah-marah sama anaknya: “Kamu ini bandel sekali sih.. Ngertiin mama dong..!”. Berarti Ibunya yang belum dewasa. Lebih tua tapi malah minta dimengerti, tidak mencoba memahami.

Kedewasaan bukan tentang bertambahnya usia, dan bertambahnya usia tentu tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya kedewasaan. Betapa sering kita melihat banyak orang yang usianya tua tapi kita anggap dia belum dewasa, pun tidak sedikit yang usianya muda tapi tampak tua (kayak yang lagi baca note ini, hehe), nggak ding, maksud saya, tampak dewasa.

Indikator awal diatas tadi (dewasa adalah memahami) akan coba saya ambil menjadi titik fokus, karena indikator ini relatif mudah dilihat diraba dan diterawang (kayak ngecek uang palsu). Watak sebagian orang adalah lebih ingin difahami daripada memahami, maka tentu tidak akan ketemu diantara keduanya jika kita mengambil sikap yang sama, sama-sama menuntut. Ini juga berarti, ketika kita menjadi dewasa dengan memahami, maka kita dapat dengan mudah diterima orang lain. Kira-kira inilah juga yang disebut sebagai ‘pengertian’, suatu sikap mudah memahami.

Dalam tataran praktis, tentunya proses memahami ini tidak semudah teori, perlu ada pembiasaan bahkan ‘latihan khusus’ agar bisa benar-benar menerapkannya. Salah satu caranya agar hal ini menjadi akhlaq, maka harus dibiasakan, hingga akhirnya kebiasaan ini terjadi begitu saja, secara spontan, ter-improve, tidak dibuat-buat.

Saat kuliah MT 1 di LPIM UNY tentang akhlak (sambil promosi), disampaikan bahwa ada satu cara agar sifat tertentu bisa menjadi akhlak, yaitu dengan memaksakannya. Ala bisa karena biasa. Bagaimana proses ‘memaksakan’ ini bisa berhasil? Menurut ilmu psikologi salah satu caranya adalah dengan terus menerus melakukan hal yang sama selama minimal 30-40 kali secara berturut-turut, jika ini berhasil dan istiqomah, maka sedikit demi sedikit sifat tersebut akan menjadi akhlak/karakter.

Sifat dewasa juga sama, kita harus membiasakan hal ini secara terus menerus. Awalnya pasti susah, tapi kita pasti bisa melakukannya, insyaallah. Yang pertama kita lakukan adalah mengambil shortcut dari sikap dewasa ini, yaitu proses ‘memahami’. Maka sifat memahami ini coba kita terapkan secara berkelanjutan.

Nah, cara yang paling efektif untuk membiasakan proses memahami ini salah satunya adalah dengan melakukan proses pembinaan. Mengurus halaqah, mentoring, atau tutorial misalnya. Itulah yang menyebabkan kenapa para aktivis dakwah, para mentor, tutor, murabi atau semacamnya biasanya tampak tua, atau lebih tepatnya dewasa melebihi usianya. Hal ini terjadi karena mereka terbiasa ‘mengurus’ orang. Menjadi tempat curhat, tempat konsultasi dan ‘dipaksa’ memahami serta memecahkan suatu masalah. Maka beruntunglah orang-orang yang membina, selain dapat pahala dia juga bisa meningkatkan kedewasaan dirinya secara psikologis. Namun hal ini bukan berarti mengalihkan tujuan. Niat ikhlas untuk membina harus tetap dijaga, bukan sekedar karena kita ingin (disebut) dewasa.

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

9 thoughts on “(khusus) dewasa (Part II)

  1. waduh ada cara lain nga selain bisa “memahami”?

  2. sementara orang lain bersibuk ria dengan urusan pribadi diri, para murobbi itu meyibukkan diri dengan mengurusi orang lain (mengajak dalam kebaikan lebih tepatnya). memang dewasa itu pilihan..

  3. dewasa…
    ingin segera dewasa atau memaksa agar “terlihat” dewasa?
    pada akhirnya berfikir bahwa dewasa dan kekanak-kanakan ada dalam tiap diri manusia. bukan tentang usia, karena yang kecil umurnya pun bisa terlihat dewasa, pun sebaliknya. dewasa dan kekanak-kanakan ada, tinggal kita bisa menempatkan kapan ia muncul di saat yang tepat. ini yang disebut dengan tawazun.
    Wallahualam bi shawab.

  4. ehem… ehem, Kirain isinya beneran CERITA DEWASA gan..hehehe
    Bagus, bagus!

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s