diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

Pengendara Kebelet Pipis

Tinggalkan komentar

Semakin sering naik kendaraan, makin sering juga melihat pola berkendara yang sama bagi sebagian besar masyarakat di Jogja. Ya, mungkin memang bukan semua orang Jogja asli, karena banyak juga pendatang di sini. Mungkin juga malah ga ada orang Jogjanya. Mungkin, ini juga terjadi di berbagai belahan dunia dan seisinya. Kebanyakan mungkin jadinya. Yang pasti, saya ingin mengupas tentang kebiasaan pengendara. Kebiasaan pengendara ini saya sebut sebagai “PKP”: Pengendara Kebelet Pipis.

Coba perhatikan saja ya. Kasus pertama, di lampu merah (Bangjo). Di Jogja kan kebanyakan bangjo pake itungan mundur. Saya lebih melihat ini bukan sebagai peringatan agar berhati-hati, tapi seolah2 ini adalah aba-aba di garis start pada acara Gran Prixx Internasional. Para PKP siap2 dengan ‘menggerung-gerungkan’ mesin. Bunyi klakson bersahutan. Bahkan sebelum lampu berwarna hijau, atau juga pada 5 detik terakhir lampu merah, PKP ini sudah wuss.. wuss.. wuss.. melesat cepat.

Di kasus yang lain berlaku sebaliknya. Ada juga PKP yang msih terus menjalankan kendaraannya padahal lampu sudah menyala merah.

Kasus berikutnya ketika situasi macet. PKP Community ini semakin menjamur, terutama di kalangan pengendara motor. Sampai-sampai mereka merampas hak pejalan kaki. Yup. Jalan lewat trotoar! Jadinya yang macet bukan cuma motor, yang jalan kaki ikut macet. Di persimpangan jalan, baik itu pertigaan, perempatan, atau perdelapan final, tipe-tipe PKP ini ga pernah mau mengalah. Pokoknya dia sendiri yang harus jalan duluan. Rupanya kasus seperti ini juga bisa di lihat di Jakarta, kita juga sering menyaksikan PKP merangsek memasuki jalan bus way. Bus way pun yang tadinya buat antisipasi biar ga macet, ya kena macet juga. Kasus-kasus lain silakan cari sendiri. Tak aneh lah kalo tabrakan jadi salah satu penyebab kematian terbanyak di Indonesia.

Padahal momen momen berkendara di jalan raya, bisa kita gunakan saja buat latihan sabar dan itsar (mendahulukan orang lain). Bukankah dalam kaidah fiqh, itsar dalam perkara selain ibadah adalah disukai..? Bahkan ini menurut Hasan Al Banna merupakan puncak ukhuwwah.

Saya kadang ga habis pikir. Sebenarnya apa coba yang mau diburu? Atau paling nggak, apakah ketika kita ga ngebut, ga dulu-duluan sama orang kita akan mati? Atau hilang harga diri? Saya yakin ga selebay itu, kan..?! Ya meskipun Aa Gym pernah mengatakan juga, jika saudaramu berbuat sesuatu yang Anda anggap buruk, maka buatlah 1001 alasan agar Anda tetap husnudzan sama dia. Mungkin banyak alasan kenapa mereka melakukan hal itu, apakah istrinya mau melahirkan, jemuran pakaian kehujanan, atau,,, ya karena bener-bener kebelet pipis.🙂

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s