diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

Bau Ketek

Tinggalkan komentar

dari googleHari itu entah hari apa, yang jelas pas jadwal sholat ashar di Masjid Al Mujahidin, UNY. Karena sudah dapet materi tentang dahsyatnya pahala berjama’ah di shaf depan, yang katanya, kata Rasulullah, jika manusia harus mengundi untuk mendapatkan shaf depan, niscaya mereka akan mengundi untuk dapat shaf depan-, ini untuk menunjukkan betapa pahala berjama’ah di shaf depan itu begitu keren. Maka sayapun bersegera menempatinya (cieee). Persis di belakang imam.

Iqamah udah selesai. Seperti biasa sebelum berjama’ah dimulai, sang Imam menyampaikan:

“Kepada jama’ah yang memiliki HP dan alat komunikasi lainnya, mohon dimatikan terlebih dahulu”.

Makmum ada yang protes: “What..?! Jama’ah yang membawa HP, harus dimatikan..?! Jama’ahnya dimatikan..?!”.

“Jangan lebay deh, yang dimatiin itu HP-nya. Ayo lurusin shafnya!” Jawab imam.

“Oooohh.. Maaf ustadz..”  Kata makmum tadi.

Imampun kemudian bertakbir menandai dimulainya sholat. “ALLAAHU AKBAR…”. Seluruh makmum serentak mengikuti takbir. Jama’ah sholat ashar dimulai. Suasana jadi cukup hening. Khusyuk, insyaallah🙂

Beberapa detik kemudian saya tersadar ternyata di sekitar situ ada aroma sesuatu. Sesuatu banget. Tidak terlalu asing. Ada yang tau itu aroma apa? Yup! Tepat sekali, BAU KETEK! tek.. tek.. tek.. tek.. (ini efek echo saking kerasnya berteriak). Sambil bersedekap, mau ga mau sholat saya pun sedikit terganggu, mungkin demikian halnya dengan beberapa makmum yang lain. Hidung saya mencoba menghirup ke beberapa arah, kiri dan kanan, memastikan makmum sebelah mana yang keteknya menjadi trouble maker. Hemm.. bau punya bau, ternyata sumber aroma itu makmum sebelah kiri! Ketahuan ya, dasar kamu orang kiri! Hehe.. Saat itu ada beberapa hal yang saya fikirkan, apa yang harus saya lakukan menghadapi hal itu? Berikut adalah pilihan-pilihannya..

  1. Membatalkan sholat kemudian bilang sama orang yang ada di sebelah kiri: “Heh.. Pergi sana! Bikin polusi aja loe! Ketek loe ga disekolahin ya..?!”
  2. Membatalkan sholat kemudian pindah tempat. Tapi sepertinya ga mungkin, soalnya makmum shaf kedua juga udah penuh. Mau lewat depan, ga enak sama imam. Mau terbang, ga punya sayap.
  3. Berhenti dari bacaan sholat kemudian berteriak: “CUT! Saudara-saudara, mohon jama’ah dihentikan! Saya ga bisa sholat nih, bau ketek nih di samping gue, bikin mual..!!”. Uwwwoookk.. (muntah-muntah).

Akhirnya.. saya ga memilih ketiganya, hanya mencoba menahan nafas:

“Hemmmppp.. Hemmmmppp.. Heeemmmmpp..” 

1 detik.. 2 detik.. 3 detik.. sampai 10 detik, ternyata ga kuat. Jalur pernafasanpun saya ganti keluar masuk lewat mulut. Biar aromanya ga terlalu menyengat, tapi tetep masih bisa bernafas, hehehe. Sumpah. Dengan kondisi begitu sholat jadi terasa laaamaaaa banget (padahal kalo ga bau ketek pun kadang sholat terasa lama ding. Hihihi.. Astaghfirullah..). Begitulah sampai sholat selesai, kalau ga nahan nafas, ya bernafas lewat mulut. Hingga imam salam, saya pun ikut salam dan segera bergeser ke belakang, sebelum semaput di TKP. Fiuuuhhh…

Nah, saudara-saudara!

Tentu kejadian sebenarnya ga selebay itu ya. Jika ada kesamaan tokoh dan kejadian, semua hanya kebetulan dan fiktif belaka. Tapi saya yakin kejadian-kejadian serupa tidak jarang terjadi (baca: sering). Ya, tentang kebersihan ketika kita beribadah. Terutama kasus bau ketek itu. Tentu saya juga tidak bisa menyalahkan ya, karena kan bau ketek itu keluar dengan sendirinya. Tanpa komando aroma itu menyebar seenaknya. Tapi, selayaknya kita sebagai seorang muslim, yang menjadikan kebersihan menjadi bagian dari iman harusnya bisa lebih resik. Sekarang sudah banyak tuh farfum-farfum, di Unit Usaha Mujahidin (UUM) juga ada di belakang Masjid. Sekarang juga sudah musim deodoran, yang bisa menghilangkan bau ketek, setia setiap saat, kayak burjo 24 jam. Atau katanya bau ketek itu bisa hilang pakai cairan tuas, atau juga pakai daun sirih, dihaluskan campur kapur sirih, dioles deh tuh ke Catty (ketek), hilang deh tuh bau, insyaallah. Ga mahal kok. Atau mau saya beliin..?!

Intinya bagaimana agar dalam segala aktifitas beribadah kita bisa nyaman dan juga memberi kenyamanan kepada orang lain. Untuk ketemu pacar (kalau laku), bertamu kepada orang yang dihormati, bertemu dengan pejabat, kita seringkali mempersiapkan dengan sebaik-baiknya. Mandi, gosok gigi, pakai minyak wangi, dan sebagainya. Ini untuk bertemu Allah -Sang Pencipta kita- apa iya mau tampil dan dengan aroma seadanya..?! Apa kata dunia..?! Apa kata akhirat..?!

 

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s