diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

TRAUMA PERSEPSI: Belajar dari Kisah Nabi Musa dan Bani Israil

Tinggalkan komentar

foto dari google

foto dari google

Kita akan belajar tentang ‘trauma persepsi’ dari Surat Al Maa’idah ayat 20-26. Ayat yang bercerita tentang keengganan bangsa Yahudi menaati perintah Nabi Musa memasuki Palestina. Sedikit gambaran bahwa, secara kasar, trauma persepsi adalah satu perasaan ketika kita memiliki ‘mental block’, merasa tidak mampu sebelum melakukan sesuatu, sudah menyerah sebelum berperang, atau dalam istilah Sunda, sudah ‘kumeok samemeh dipacok’, artinya jika diibaratkan dalam adu ayam, si ayam sudah ‘petak-petok (kabur duluan) sebelum bertanding.’

Berikutnya mari kita simak Surat Al Maa’idah ayat 20-26 berikut ini:

20. Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain.”

21. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi,

22. Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”

23. Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

24. Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.”

25. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.”

26. Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.”

TRAUMA PERSEPSI

Sudah bisa dilihat bukan? Trauma persepsi dengan pengertian yang sudah dijelaskan di atas terjadi pada Bani Israel dalam ayat ke-22, ketika mereka berkata:

“Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”

Mereka tidak mau menerima perintah memasuki Palestina karena fikiran mereka sudah terkalahkan dengan anggapan bahwa kaum Palestina itu kuat-kuat, gagah perkasa dan Bani Israel sendiri merasa kecil dan ciut nyalinya. Padahal mereka sama sekali belum pernah saling berhadapan untuk berperang.

Hikmah yang bisa diambil di sini adalah, terkadang kita sudah menyerah sebelum melakukan sesuatu. Bahkan ini terjadi hampir di semua hal. Dalam tataran dakwah misalnya, seringkali kita menganggap bahwa objek dakwah kita sudah pasti menolak apa yang mau disampaikan, padahal kita belum pernah menyampaikan apa-apa. Atau ketika menerima amanah, baik itu amanah berupa jabatan atau mendapat tawaran menjadi pembicara, disuruh mengampu binaan, dan seterusnya, seringkali kita menolak hal-hal tersebut dengan alasan “belum siap”, “merasa tidak sanggup” atau dengan perkataan lain yang serupa. Tentu saja ini bukan berarti bahwa kita boleh sembarangan dalam menerima sesuatu, tapi yang ingin saya tekankan di sini adalah, apakah itu benar-benar keluar dari dalam diri ketidak mampuan kita, atau apakah alasan itu keluar hanya dari anggapan saja bahwa kita merasa benar-benar tidak mampu?

Contoh lain misal dalam hal belajar. Pernahkah kita merasa tidak mampu dalam mata pelajaran tertentu? Di sinilah biasanya ‘mental block’ itu juga muncul. Kita sudah merasa ‘tidak bisa matematika’ padahal belum berusaha belajar dengan sungguh-sungguh. Kita sudah merasa bahwa pelajaran Fisika itu susah. Merasa pelajaran olahraga itu menjemukan. Hal ini terjadi biasanya karena paradigma awal yang salah, menganggap bahwa ilmu eksak adalah ilmu susah, menyeramkan dan tidak pernah bisa ditaklukkan. Anggapan seperti ini berefek pada malasnya kita untuk belajar, sehingga matematika yang susahnya bermula dari sebuah anggapan itu, pada akhirnya benar-benar menjadi susah karena terakumulasi dengan menurunnya semangat belajar kita sendiri terhadap pelajaran tersebut. Di akhir semester saat ujian, biasanya ini terlihat dengan indikasi ‘jiplakisasi’, kebiasaan menjiplak. Entah karena kemalasan belajar hingga tergoda untuk mencontek, atau karena terbiasa mencontek itulah hingga dia merasa punya andalan dan jadi malas belajar. Lingkaran setan.

KENAPA TRAUMA PERSEPSI MUNCUL?

Jika dianalisis, trauma persepsi ini muncul karena 2 hal: merasa kita kecil dan merasa orang lain besar. Mari kita lihat satu persatu:

Pertama, merasa kita kecil. Hal ini bisa terjadi karena berbagai hal. Adapun dalam konteks di atas, kaum Israel nampaknya mempunyai mental yang ciut dan merasa memiliki potensi yang sangat lemah, merasa kecil karena sebelumnya berada dalam cengkraman kekuasaan Fir’aun yang hegemonik. Inilah yang dalam bahasa psikologi disebut sebagai Sticholom-Syndromme: merasa nyaman dalam keterjajahan. Padahal sudah jelas sebelumnya bahwa mereka bisa mengalahkan Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah. Hal ini pulalah yang membuat sebagian orang Indonesia berkata: “Kalau difikir-fikir, hidup itu lebih enak di masa Soeharto, begini-begitu, dst”. Merasa nyaman dengan kondisi yang ada padahal sejatinya mereka sedang berada dalam keterjajahan (fikiran).

Kedua, merasa orang lain besar. Pada tahap ini, bisa jadi sebenarnya potensi kita sudah besar, tapi kita mengaggap orang lain besar, atau merasa bahwa sesuatu yang kita hadapi jauh lebih besar. Misal dalam contoh-contoh tadi, dalam hal menerima amanah tertentu, disuruh menjadi pembicara, amanah membina atau menghadapi suatu pelajaran, bisa jadi sebenarnya kita bisa dan mampu, namun fikiran kita sudah terkungkung dengan anggapan bahwa: “jangan-jangan begini”, “jangan-jangan begitu”, “saya pasti tidak bisa”, dan seterusnya.

SOLUSI?

Solusi ketika trauma persepsi ini muncul sebenarnya sudah terdapat pada ayat ke 20 dalam perintah Nabi Musa di atas:

“Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain.”

Ya, kuncinya, ingatlah nikmat yang telah diberikan Allah. Bani Israel banyak mendapat keistimewaan dari Allah. Sebagaimana disebut dalam ayat di atas, yaitu bahwa para Nabi dan Rasul kebanyakan berasal dari Bani Israil. Kemudian Bani Israel juga menjadi orang-orang yang bebas merdeka, mendapat hal yang Allah tidak memberikannya kepada kaum lain selain Bani Israel, dan satu hal yang pasti bahwa tidak lama sebelum perintah itu muncul, bani Israel di bawah pimpinan Nabi Musa sudah mendapat kemenangan dalam menghadapi Fir’aun, seorang penguasa yang sangat hegemonik bahkan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Tapi sayang, nampaknya trauma persepsi yang dialami Bani Israel saat itu sudah sedemikian akut sampai berani mengatakan:

“Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.”

Menurut saya kata-kata ingin sangat lancang kalau tidak mau dibilang kurang ajar. Betapa tidak, sudahlah mereka diberi nikmat yang sangat besar, diangkat Nabi dan Rasul dari kalangan mereka dan diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun yang memiliki ratusan ribu tentara, kemudian ketika Allah memerintahkannya memasuki Palestina, mereka berlepas diri dan ‘menyuruh’ Nabi Musa pergi bersama Tuhan  sendiri. Padahal menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa kekuatan kaum Palestina pada saat itu hanya sepersepuluh dari jumlah penduduk Mesir.

Pada akhirnya, Nabi Musa pun berdo’a dalam ayat ke-25: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.” Yang kemudian dijawab Allah pada ayat 26: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.”

Diceritakan bahwa kaum Israel pada saat itu tersesat di Padang Tiih selama 40 tahun. Yang tersisa dan yang dimaksud ‘kami’ dalam do’a Nabi Musa di atas hanyalah 2 orang sholeh yang terdapat di ayat 23, dalam Tafsir Ibnu Katsir mereka bernama Yusya’ bin Nun dan Kalim bin Yaufuna.

JADI

Begitulah, bebarapa hal atau bahkan dalam banyak hal, seringkali kita merasa diri tidak mampu, merasa tertekan dan tidak berdaya menghadapi sesuatu. Ketika ini terjadi, tanyalah diri kita, apakah ini benar berasal dari fakta kekurangan diri, ataukah sebenarnya kita hanya mengalami ‘trauma persepsi’, merasa diri kecil dan mencoba bersembunyi dari potensi besar yang kita miliki. Selain itu, kadang sesuatu justru memang datang pada saat kita belum siap, bukan untuk membuat kita lemah, tapi biarkan semua itu menjadi batu loncatan agar kita bisa mendapat capaian yang lebih tinggi dari kondisi saat ini. Ingatlah nikmat Allah! Kita memang memiliki kekurangan di satu sisi, tapi bisa jadi, kita memiliki kelebihan besar di sisi lain yang belum tentu orang lain memilikinya.

note:

Bahasan ini saya dapatkan di FLP (Forum Lingkar Pekanan) yang kemudian disarikan dan ditulis dengan redaksi saya sendiri.

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s