diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

“Umbrus Generation” (Aktivis Harus Necis)

2 Komentar

gambar dari google

gambar dari google

Saat mendengar istilah “Aktivis Dakwah Kampus”, secara fisik, sosok seperti apa yang kita banyangkan? Adakah dia seorang berpenamplan perlente, berjas mahal, celana disetrika rapi, kemeja keren, sepatu mengkilat? Ataukah yang terbayang seorang yang kumuh, jaket hitam kucel, celana dilinting, cantelan tas udah putus sebelah?

 

Jawablah dengan senyum pilu dalam qalbu. Huhu.

 

Tulisan ini adalah autokritik buat aktivis dakwah (kampus), dalam hal penampilan. Meski di satu sisi memang Allah tidak melihat fisik maupun harta, melainkan melihat hati dan taqwa. Tapi di sisi lain, bagi siapapun yang mengazamkan diri sebagai seorang aktivis dakwah, tidak bisa dipungkiri bahwa ia akan berinteraksi dengan manusia, yang secara naluriah akan melihat penampilan sebelum melihat isi yang disampaikan.

Berikut ini adalah penampakan umum seorang aktivis dakwah yang harus segera dirubah (termasuk bagi saya sendiri, hihihi):

 

Celana Dilinting

Fenomena ini terjadi di kalangan ikhwan. Alasannya cukup syar’i sih, biar ga isbal katanya (menutupi mata kaki). Tapi alangkah baiknya kalau mau dipotong ya dipotong sekalian. Tidak dilinting. Seperti yang kebanjiran. Kalau lihat hal ini, saya sering terbayang daun pisang. Biasanya daun pisang yang tergulung ujungnya, kalu dibuka pasti ada ulet di sana. Atau jangan-jangan, mereka memang beternak ulet di ujung celananya. Hiiiyyyy…

 

Jaket Kumal

Ini nih, baik ikhwan maupun akhwat biasanya sama. Pakai jaket yang sama sampai berabad-abad lamanya (lebay), setidaknya satu bulan. Tanpa dicuci. Apa gak jijik? Dan lagi, kadang jaket ini selalu dipakai tanpa pandang cuaca. Tidak hujan, tidak panas, si jaket tetep lengket. Entah siapa yang mewariskan ‘tradisi berjaket’ ini, padahal tidakkah lebih elegan jika pakaian kita menyesuaikan sikon? Pakaian terbuka tapi tetap syar’i. Rasanya lebih ‘in’ gitu.

 

Pakaian yang Sama Berhari-hari

Pernah lihat aktivis dakwah pakai kemeja yang sama dalam seminggu? Atau pakai celana yang sama dalam sebulan? Hedeh, ga kebayang jika baju atau celana itu dimasukan kolam ikan, pasti ikan-ikannya langsung mati karena terkontaminasi pakaian basi (glek!). Ssstt.. Ada alternatif sebenarnya kita tidak mau sering nyuci tapi pakaian bisa tetep ganti. Jadi pakaian itu pengaturannya dijadwal perhari. Misal nih, kita kan kuliah 5 hari, maka sediakan 5 baju berbeda, setiap baju dipakai di hari yang berbeda. Baju A dipakai setiap senin, baju B setiap selasa, dan seterusnya. Bisa sampai 4 kali. Tapi orang lain kan belum tentu tau kalau itu belum dicuci. Setidaknya ini lebih baik dari pada pakai 1 baju, full dipakai seminggu berturut-turut, ketok umbrus tenan.

 

Kaos Kaki Bau dan Bolong

Hemmmppp, sambil nahan nafas saya ngetik bagian ini, ngebayanginnya aja kagak nahan (halah). Entah berapa milenium dia tidak mencuci kaos kaki. Padahal nyuci kaos kaki kan tidak sulit, cukup direndam, dikucek-kucek, dikeringkan, beres. Ada juga yang kaos kakinya bolong (ya iyalah bolong, kalo ga bolong gimana makenya..?!), maksudnya robek gitu, di ujung tumit atau biasanya di ujung jari kaki. Kalau ikhwan sih mungkin masih mending, tapi kalau akhwat kan pakai kaos kaki terus, baik bersepatu atau bersandal. Kalau bolong? Hemm.. Harga kaos kaki padahal sekarang murah-murah kok. Pernah lihat di obralan Malioboro ada yang 10ribu dapet 3 pasang. Bisa buat 3 minggu tuh, atau setidaknya buat serep saat yang lain dicuci.

 

F1 Fashion

Tunggu dulu, ini bukan tentang balapan F1 di sirkuit, tapi ini tentang pakain (oknum) akhwat yang biasanya balapan. Mungkin memang pakaian akhwat tidak cukup satu lapis, bisa berlapis-lapis (berapa lapis? Ratusaaann🙂. Tapi apakah tidak bisa dikreasikan agar lapisan-lapisan itu tidak terlihat? Jadi kesannya tidak seperti toko baju berjalan. Hoho.

 

Warna Baju Nabrak-nabrak

Ini pun tidak luput dari perhatian. Kita bayangkan seorang akhwat (ups, jangan dibayangkan ding), pakai jilbab merah, baju kuning, rok biru, sepatu hijau, kaos kaki belang-belang. Plak! Apa ga ngeri? Diselaraskanlah begitu. Ikhwan juga sama. Sebagian sperti itu. Pakailah pakaian yang warnanya senada, atau minimal tidak terlalu jomplang begitu.

 

Culun

Kalau yang ini memang tidak banyak, tapi ada. Misal seorang ikhwan dengan gaya rambut klimis, bawa buku besar, pakai kacamata tebal, baju kemeja dikancing sampai ujung leher. Ga banget khan..?! Entahlah, saya biasanya agak gemes sama ikhwan yang suka pakai kemeja dikancing sampai atas. Kayaknya agak geli-geli gimana gitu. Hihihi.

 

Kendaraan Luput dari Perhatian

Yang satu inipun harus diperhatikan. Bahkan buat saya sendiri (hehe). Seringkali saya melihat aktivis yang motornya tidak pernah dicuci. Atau ada yang plat nomornya hampir lepas, bautnya hilang sebelah, sampai berbulan-bulan tidak pernah diperbaiki. Padahal kasarnya pakai karet gelang juga jadi tuh. Hoho. Atau mungkin beberapa beralasan: “Ini tidak usah dicuci atau diperbaiki akh, biarlah debu yang mengotori dan plat nomor yang eplek-eplek ini menjadi saksi dakwah kita di akhirat nanti”. Rasulullah itu selalu memberinama pada setiap benda yang dimilikinya, dia punya nama untuk pedangnya sendiri, bahkan unta dan keledainya pun dikasi nama. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah sangat memperhatikan terhadap apa yang dipakainya. Apa kita tidak mau meneladani Rasulullah?

 

Kamar Kapal Pecah

Ada yang bilang bahwa kondisi kamar mencerminkan isi hati. Ada beberapa kamar ikhwah yang seperti kapal pecah. Seperti baru saja dibom teroris. Baju kotor numpuk di gantungan. Kasur kusut. Sprei tidak pernah dicuci. Buku-buku berantakan. Saudaraku.. sempatkanlah minimal seminggu atau dua minggu sekali untuk beres-beres kamar. Bagaimana kita mau berdakwah menata umat dan bangsa jika menata kamar saja tidak bisa?

 

Baiklah. Setidaknya beberapa kasus di atas yang sering saya temukan. Selebihnya teman-teman lebih faham dengan pengalaman dan pengamatan masing-masing. Intinya dalam hal ini, saya tidak bermaksud menafikan keunikan karakter seseorang. Saya selalu yakin bahwa tarbiyah bukanlah sistem pencernaan: apapun yang masuk, keluarnya berwujud sama. Tapi hal ini bukan berarti kita bisa bebas tanpa batas. Bagaimanapun juga, dakwah adalah interaksi dengan sesama manusia. Kitapun tentu tahu bahwa betapa Rasulullah sangat memperhatikan masalah penampilan. Sunnahnya memakai wangi-wangian, kebiasaan beliau yang selalu membawa sisir, dan lain sebagainya yang semakin mempertegas bahwa sebagai seorang muslim, apalagi aktivis dakwah, kitapun dituntut untuk memperhatikan raga dan performa. Karena orang akan melihat teladan dan penampilan sebelum mendengar apa yang kita sampaikan.

 

Be “RABBANI GENERATION!”

Say “NO” to “UMBRUS GENERATION!”

OK coooyyy..?? ^o^

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

2 thoughts on ““Umbrus Generation” (Aktivis Harus Necis)

  1. loh…bukane yg ssering kayak gitu itu ente boy…..??😀

  2. mantebs…. suka, wajib di share nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s