diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

Kisah Monyet dan Angin

1 Komentar

gambar dari google

gambar dari google

Suatu hari, hiduplah seekor monyet. Kebiasaan monyet ini adalah memanjat pohon (ya iyalah, masa panjat tebing). Ya, si monyet ini setiap hari selalu naik pohon yang tinggi menjulang di tengah hutan. Dia selalu bangga dan sombong dengan setiap pencapaiannya di atas pohon. Setelah satu pohon selesai dipanjat maka besoknya dia akan selalu mencari pohon lain yang lebih tinggi. Setiap sampai ke puncak maka ia akan berteriak dengan sombong: MERDEKA! (ini monyet apa penjuang?), intinya dia akan berteriak penuh congkak. Di sisi lain, ada Sang Angin yang selalu memperhatikan polah monyet ini. Angin tidak suka dengan keangkuhan si monyet . Angin ingin menguji kekuatan si monyet dengan mencoba meniupkan dirinya setiap monyet ini naik pohon.

Suatu hari (lagi), si monyet melakukan kebiasaannya: manjat pohon. Kini dia berada di pohon yang paling tinggi di hutan karena semua pohon sudah dia taklukan. Monyet sedang asyik di sana, tiba-tiba berhembuslah angin yang sangat kencang: Wussss…Wuusssss… Simonyet segera memegang erat di batang pohon. Angin bertiup lagi lebih kencang: WUSSSS….WUSSSS…WUSSSS… ternyata si monyet pun berpegangan lebih kencang. Begitulah yang terus terjadi, semakin kencang angin menerjang, semakin kencang juga si monyet memegang batang pohon. Besoknya juga begitu, si monyet naik pohon, angin menerjang, tapi monyet ini tidak pernah bisa jatuh. Si angin pun frustasi, kemudian merubah wujud dirinya menjadi terasi (lho!). Si angin frustasi, dan mulai mencoba beralih strategi.

Beberapa hari berlalu. Beberapa hari itu pula monyet naik pohon tanpa gangguan angin lagi. Si monyet merasa menang dan semakin sombong, bahwa dia adalah penguasa pohon di tempat yang tertinggi. Hingga suatu hari (lagi-lagi suatu hari), saat si monyet asyik di atas pohon, angin datang lagi. Tapi kali ini dia tidak berhembus kencang. Dia hanya bertiup dengan sangat tenang. Sepoi-sepoi. Fiuuuuuhhhh…. Fiuhhhhhhhhh… bergerak perlahan melewati dedaunan, menerpa bulu-bulu di sekujur tubuh sang monyet. Perlahan, tenang, dan menenangkan, hingga lambat laun, si monyet terbuai, merasa nyaman dan mulai diliputi rasa kantuk, saking tenangnya angin yang bertiup. Fiuuuuuhhhh…. Fiuhhhhhhhhh… Pelan, perlahan, monyetpun tertidur, terkulai, hingga akhirnya…

BRUKK!!

Si monyet jatuh ke tanah kemudian mati!

***

 

Nah, para pemirsa! Di alam kubur dan di alam nyata!

Kadang, seperti itulah ujian kehidupan. Bukan, bukan maksud saya menuduh Anda sebagai monyet, karena tanpa dituduhpun Anda sudah… (silakan diteruskan sendiri, hehe). Tapi, kadang sebagian orang di dunia ini tidak ubahnya seperti kejadian di atas (atas mana? Clingak clinguk ke langit-langit kamar). Di atas paragraf ini.

Seringkali manusia bisa selamat dengan ujian hidup yang berkategori negatif, yang secara simbolik duniawi harusnya menyakitkan dan bisa membuat kita jatuh. Namun, di sisi lain, seringkali ketika diberi ujian yang berkategori positif, yang secara simbolik duniawi bisa menyenangkan dan membuat kita bahagia.

Misal, ada orang yang hidupnya miskin dan pas-pasan, tapi dia tetap rajin sholat, bersyukur atas apapun yang ia dapatkan, dan senantiasa bersabar dengan kehidupannya. Namun ketika diberi ujian kekayaan, justru malah menjadi lupa diri, berbangga diri, terlena dengan harta, merasa bahwa semua harta yang ia dapatkan adalah hasil jerih payahnya sendiri, tanpa keterlibatan Allah.

Misal (lagi), dalam hubungan kita dengan orang tua. Ketika masih kecil, masih sekolah, atau sedah besar tapi belum dapat pekerjaan. Kita dengan enaknya menguras hara orang tua, bahkan mungkin secara tidak sadar menguras darah dan airmata orang tua kita. Namun, ketika semakin beranjak dewasa. Perlahan kita mulai melupakan semuanya. Merasa bahwa pencapaian hari ini adalah kerja keras kita sendiri. Melupakan orang tua. Bahkan, ada sebagian pelajar yang ketika ada prosesi pelulusan di sekolahnya tidak mau dibersamai orang tuanya, dengan alasan malu, dan takut malu-maluin di hadapan teman-temannya. Seolah-olah pengorbanan orang tua sama sekali tidak berharga. Bahkan, seolah-olah dia tidak pernah mengenal orang tuanya dan keluar dari batu!

Misal (lagi), dalam konteks yang lebih serius, amanah dakwah (jabatan). Seringkali seseorang bisa bertahan ketika menjadi bawahan. Atau dia bisa tetap teguh meski tidak jadi orang yang berpengaruh. Semangat dakwahnya tinggi, adik binaannya banyak, tahan godaan meski lawan jenis memiliki pesona yang sangat menawan (jangan dibayangkan ya..). Tapi, ketika dia mendapat posisi-posisi bergengsi. Mendapat amanah yang mengharuskan dirinya sering tampil di hadapan publik. Menjadi ketua Lembaga Dakwah Kampus, bahkan mungkin menjadi ketua Himpunan Mahasiswa, menjadi ketua BEM, atau mendapat posisi-posisi kepemimpinan di lembaga lain.

Perlahan orientasi dakwahnya mulai memudar. Dia merasa bahwa apapun posisinya saat ini adalah pencapaian dirinya sendiri. Tidak peduli dengan teman yang lain, tidak peduli bahwa dakwah itu berlanjut dan harus terus meregenerasi. Kadang dia merasa bahwa posisi yang dicapianya saat ini adalah posisi puncak dalam strata dakwah. Tidak sadar, bahwa posisi-posisi publik bagi seorang aktivis dakwah harusnya menjadi sarana untuk berdakwah, bukan tujuan akhir dalam dakwah. Tidak sadar, bahwa segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, termasuk posisi kepemimpinanya. Perlahan aktivitas tarbiyahnya menurun, sholat jama’ahnya mulai bolong-bolong, dhuha dan qiyamullail lewat, tilawah tak pernah bertambah, adik binaanya bukan dibina, malah dibinasakan, dengan alasan sibuk. Sibuk rapat, sibuk koordinasi dan lain sebagainya.

Tambah lagi, dengan posisi puncaknya saat ini, sangat memungkinkan dia mendapat akses yang tinggi kepada lebih banyak orang. Sangat memungkinkan, dia akan lebih banyak dikagumi oleh banyak orang, termasuk lawan jenis. Perlahan, sikapnya mulai mencair. Dengan alasan ‘siyasah dakwah’, melakukan pembenaran-pembenaran atas interaksi yang seharusnya tidak dia lakukan. SMS-an tanpa henti dengan alasan koordinasi. Telpon-telponan sampai berjam-jam dengan alasan rapat dadakan.

Dan seterusnya.. dan seterusnya…

Anda bisa lebih banyak mengambil contoh lain dari analogi di atas…

 

Begitulah, seringkali Allah menguji manusia dalam posisi yang terlemah. Orang miskin akan diuji dengan kemiskinannya. Orang kayapun akan diuji dengan kekayaannya. Pejabat publik akan diuji dengan jabatannya. Bahkan ulama/orang berilmu sekalipun, akan diuji dengan keberilmuannya. Sejauhmana dia bisa tawadhu dan tetap mengamalkan ilmunya dengan penuh keikhlasan.

Di titik inilah datangnya ujian keimanan. Karena itulah Rasulullah memberi rambu-rambu bagi orang beriman, bahwa semestinya, sebagai seorang mukmin, saat mendapat ujian keburukan dia bersabar, dan saat mendapat ujian kebaikan dia bersyukur.

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

One thought on “Kisah Monyet dan Angin

  1. bagus, tapi kebanyakan dibercandain, kayak yg dikasih tanda kurung itu, seharusnya ga usah, soalnya malah jadi mengganggu kalo menurut saya sih:) hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s