diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

Penganggur Dakwah Terselubung

6 Komentar

“Kam fiinaa laisa minnaa wa kam minnaa laisa fiinaa”

(Ada orang yang seolah bagian dari kita, padahal ia bukan bagian dari kita. Ada juga orang yang seolah bukan bagian dari kita, padahal ia bagian dari kita)

butuh kerja

Aktivis dakwah bukan berarti orang-orang yang menjadi ‘tivis’ karena dakwah (baca: kurus/kurang gizi), karena jika begitu, berarti akan ada ‘aktebel’ dakwah, sebutan buat orang-orang yang dianugerahi lemak berlimpah (krik..krik..).

Akivis dakwah, seperti namanya, tentu adalah orang-orang yang AKTIF di dunia DAKWAH, apapun latar belakangnya, apapun organisasinya, apapun jama’ahnya, sejelek apapun orangnya (lho?). Intinya dia memiliki aktivitas dalam dunia dakwah (bukan dalam dunia hewan apalagi dalam ‘dunia lain’). Jika dakwah diartikan sebagai mengajak orang lain kepada kebaikan (Islam), maka aktivis dakwah adalah orang yang senantiasa tergerak hatinya untuk selalu berbuat baik, dan membuat semakin banyak orang menjadi lebih baik sesuai dengan tuntunan dan nilai-nilai dalam Islam.

Namun pada saat ini, ada sebgaian orang yang merasa dirinya aktivis dakwah, bagian dari dakwah, padahal ia tidak lebih dari sekedar “Penganggur Dakwah Terselubung”. Nah LHO!!! Apa ini? Ini Budi (eh), ini adalah sebutan buat orang yang sebatas ‘cantum nama’ dalam dakwah. Seperti pada sebagian kutipan dari kutipan yang saya kutip dalam kutipan di atas (tettooottt!!, mengulang kata ‘kutipan’) yang berbunyi “Ada orang yang seolah bagian dari kita, padahal ia bukan bagian dari kita. Ada juga orang yang seolah bukan bagian dari kita, padahal ia bagian dari kita.”. Jadi, dalam beberapa kasus, ada orang yang sering bareng sama kita, satu organisasi sama kita, tercantum namanya sebagai pengurus lembaga dakwah, misalnya, namun kesehariannya tidak jauh beda dengan orang pada umumnya, tilawahnya jarang, sholatnya bolong-bolong, maksiat jalan, binaan tidak punya, dan sebagainya. Di sisi lain, ada juga orang yang jarang bersama kita, tidak ikut dalam lembaga dakwah, namun aktivitasnya sama seperti layaknya aktivis dakwah, ibadahnya rajin, dan dia mengajak orang berbuat kebaikan, meski mungkin dengan caranya sendiri. Nah, orang tipe pertama itulah yang disebut sebagai “Penganggur Dakwah Terselubung”,  penampakannya ‘Aktivis Dakwah’, tapi isinya ‘penganggur dakwah’.

Oke para pemirsa

Saya selalu ingin dari setiap tulisan yang dibuat adalah untuk memperbaiki diri kita sendiri, bukan buat menghukumi orang lain. Oke..?! Mari kita melihat diri kita sendiri, caranya, copot kedua mata kita dan biarkan kedua mata itu melihat tubuh kita dari luar (Woooo…). Revisi, mari kita melihat diri kita sendiri, sudahkah kita layak disebut sebagai aktivis dakwah? Mungkin sebagian akan menjawab: “Tentu saja sudah, lihat, saya aktif di LDK, rajin ikut syuro, tercantum dalam struktur organisasi SKI, sering jadi MC di acara pengajian, dan sebagainyah, dan sebagainyah,”. Hemm, baiklah, faktor pendukungnya sudah masuk, coba lihat essensinya, bagaimana amalan sehari-hari kita? Sudah rajinkah sholat dhuha dan tahajjud kita? Berapa juz tilawah kita setiap hari? Berapa banyak jumlah binaan kita? Berapa banyak buku-buku rujukan dakwah yang sudah kita khatamkan? Berapa banyak orang yang menjadi baik karena keberadaan kita?

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash Shaff [61]: 2-3)

Hadirin sidang facebook rahimakumullah

Teko hanya akan mengeluarkan isi teko, jika isinya teh yang keluar juga teh, jika isinya kopi, yang keluar tentu juga kopi, jika tekonya kosong tentu tidak ada yang bisa dikeluarkan betul tidaaaakkk..?! (gaya AA Gym). Dakwah juga sama, dakwah adalah menyampaikan dan menyempaikan tentu saja harus punya hal yang akan disampaikan. Kita tidak bisa menyampaikan apa-apa jika kita tidak punya apa-apa bukan..?! (bukaaaannn). Bagaimana kita mau menyampaikan kebaikan jika kita sendiri tidak bersemangat berbuat kebaikan?

Namun yang perlu digaris bawahidicetak miring dan dicetak tebal di sini adalah, bukan berarti kita harus menunggu baik sebelum berdakwah, karena perbuatan buruk yang kita lakukan tidak menghilangkan kewajiban kita untuk berdakwah. Rasulullah tidak menunggu Qur’an khatam diturunkan baru berdakwah, namun seiring turunnya wahyu secara bertahap, seiring itu pula dakwahpun dilakukan secara bertahap. Titik poinnya adalah bagaimana setiap kebaikan yang kita sampaikan semakin memotivasi kita juga untuk berbuat lebih baik dari apa yang disampaikan, agar kita menjadi aktivis dakwah yang memang aktif berdakwah, bukan menjadi para “penganggur dakwah terselubung”, para penganggur yang bersembunyi di balik baju dan simbol dakwah.

Allahu musta’an.

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

6 thoughts on “Penganggur Dakwah Terselubung

  1. sedikit pe-rapi-an, nampaknya akan menambah kenyamanan bagi pembaca.

    but, its ok. Mencerahkan.

  2. sholeh sekali ente tum….:D

  3. Mari upgrade dari pengangguran menjadi setengah pengangguran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s