diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

Refleksi Milad Al Fatih (bagian 1)

Tinggalkan komentar

UltahPekan ini saya menghadiri Milad Al Fatih (Sie Kerohanian Islam yang ada di FE UNY) yang CETAR MEMBAHANA! Betapa tidak, setiap detiknya berisi banyak kejutan. Mulai dari banyaknya balon yang tiba-tiba beterbangan di seluruh ruangan. Penulisan nota hutang, *eh, harapan para pengurus yang harus digantung setinggi-tingginya di pohon, yang semula dikira cuma hiasan saja. Nonton film Al Fatih dalam satu tahun kepengurusan, potong tumpeng, terus ditutup dengan ‘konflik buatan’, yang saya tidak menyangka di awal, tapi ternyata cukup untuk membuat PlT KaDep Jaringan yang dengan bercucur airmata berharap dengan sangat ingin menjadi seorang ‘akhwat’, staf kaderisasi yang terharu karena namanya diakui sebagai ‘Naura’, calon Ketua BEM KM UNY yang membahas tentang cintanya kepada mas’ul Al Fatih (idihhh), para pengurus yang nangis terseok-seok (eh, sedu-sedu), mas’ulah yang curhat karena dituntut memberi cinta kepada staf-stafnya, sampai kisah ‘Raja Aneh’ yang disampaikan oleh sang Raja Al Fatih, bro Risang.

Fffiuhhh, anak-anak magang Al Fatih emang keren-keren deh, konsep acara yang BOMBASTIS dan ULALAAAA… ^o^

Eh, eh…

Tapi di sini saya bukan ingin menceritakan tentang apa saja yang terjadi dalam milad tersebut (padahal udah diceritain di atas, hehe). Saya hanya ingin mengutip komentar dari salah satu kader inspiratif dari P. IPS, yang berinisial, sebut saja Tectona Hangger (21 tahun, bukan nama sebenarnya :D), tadi malem dia mengatakan, kurang lebih seperti ini:

Jadi gini akh, menurut saya satu hal yang membedakan antara lembaga umum (BEM, HIMA, dll) dengan SKI (Sie Kerohanian Islam a.k.a Lembaga Dakwah Kampus tingkat fakultas, red) adalah dalam manajemen konflik dan efeknya. Jadi kalau di lembaga umum, konflik yang terjadi bisaanya akan menimbulkan perpecahan, terjadi semacam dendam yang berkelanjutan, bahkan bisa terjadi antara pengurus dan DPO minimal dalam satu periode kepengurusan. Tapi kalau di SKI, konflik yang terjadi justru malah membuat mereka semakin erat, ukhuwwah semakin melekat dan kebersamaan yang semakin terasa nikmat.”

(beberapa kata dibuat agak lebay tanpa bermaksud mengubah substansi, red.)

Saya manggut-manggut mendengar kata-kata tersebut, kemudian geleng-geleng dan memutar kepala 180 derajat ke belakang *eh. Intinya saya merasa dapet inspirasi, hemm, bener juga ya. Kemudian saya merenung sejenak menimpali, begitulah jika kita berukhuwwah karena Allah, dan kira kira seperti itulah buah dari cinta yang selalu ditumbuhkan. Pendapat dan komentar manusia menjadi nomor dua, sementara posisi cinta Allah berada jauh di atas segalanya. Rasa marah dan sakit hati kepada saudara menjadi hilang karena tidak akan pernah bisa melebihi rasa cinta yang mengharu biru memenuhi relung jiwa.

Seperti kisah Raja yang disampaikan mas’ul Al Fatih, bahwa cinta bisa membuat seorang pecundang menjadi pemenang, budak menjadi raja, penakut menjadi pemberani, yang lemah menjadi kuat, dan seterusnya menjadi seterusnya. Apalagi jika cinta kepada Allah sudah kita tempatkan di tempat tertinggi, maka tidak ada lagi rasa sakit hati karena perlakuan orang. Kita akan menjadi mudah memaafkan karena kita malu kepada Allah yang Maha Pemaaf, kita menjadi mudah mengasihi karena malu kepada Allah Yang Maha Pengasih, kita menjadi mudah mencintai karena Allah sebaik-baik pemberi cinta.

Satu hal lagi yang perlu ditekankan di sini, bahwa ukhuwwah dan rasa cinta itu timbul karena ditumbuhkan, bukan dituntut apalagi dipaksakan. Mungkin tidak jarang kita mendengar komentar sebagian ikhwah:

“Saya merasa tidak dapat apa-apa dari lembaga ini, lebih baik mundur saja.”,

“Saya sakit hati, saya merasa tidak pernah diperhatikan, bahkan ketika saya sakit sekalipun”, atau:

“Ukuwwahnya mana? Katanya lembaga dakwah?”

Ya, begitulah jika kita banyak menuntut dan meminta. Padahal yang namanya dakwah dan ukhuwwah adalah bilangan kontribusi. Semakin banyak menuntut semakin mudah sakit hati, semakin banyak meminta, semakin mudah jiwa terluka. Yang perlu kita lakukan adalah tumbuhkan semangat cinta dan ukhuwwah itu dari diri kita sendiri, sehingga setiap kita akan menyemai buah yang semakin indah. Tidak perlu sakit hati karena merasa tidak dapat apa-apa, tidak perlu kecewa karena merasa tidak diperhatikan, karena landasan kita adalah ridha Allah, yang tiada suatu apapun melebihi apa-apa yang diberikan-Nya. Jika berharap kepada sesama manusia, bersiaplah kecewa. Berharaplah kepada Allah, maka hidupmu akan sangat bermakna…

(Bersambung, Insyaallah…🙂

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s