diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

Refleksi Milad Al Fatih (bagian 2)

Tinggalkan komentar

2Eh, udah baca bagian 1-nya belum? Kalau belum ayo baca dulu gih, buka-buka di note sebelum ini…

Hemm… Gimana…?!

Udah siap? Tapi dingin looohhh…  (gaya temennya Afika di iklan Or*o)

Oke, di bagian ke-2 ini saya akan awali dengan ungkapan seorang akhwat yang saya sebut sebagai semacam Pelaksana Tugas (PlT) KaDep Jaringan, yang saya ceritakan di note sebelumnya. Panggil saja namanya May, 12 tahun (bukan nama dan usia sebenarnya :D). Entah karena angin apa saat Milad Al Fatih kemarin, tiba-tiba dia curhat di forum, kurang lebih kayak gini:

“Maafin May yang masih seperti ini, maafin yang belum bisa menempatkan diri. May udah janji sama beberapa orang di Al Fatih, May udah pernah bilang sama Mbak Pipin (ini juga bukan nama sebenarnya), May pengen jadi seorang ‘akhwat’ yang sesungguhnya, hiks..hiks… May pengen mencoba, May udah berusaha, ternyata susah, susaaaaah banget, kalo kata orang alay, susah beud… hiks.. hikss.. Mungkin emang karakter May seperti ini, ga bisa jalan nunduk-nunduk kayak akhwat-akhwat yang lain, ga bisa ngomong pelan-pelan, masih kekanak-kanakan, May ga bisa, maafin, May ga bisa.. May ga bisa bersikap seperti layaknya para akhwat, hiks..hiks.. Huaaaaaaaaaaaaaaa….. T,T”

NJUK NGOPO?

Hemm, untunglah pada saat itu ada orang bijak yang menimpali, sebut saja namanya Diar (yang ini nama sebenarnya, karena keren Lol), Diar yang baik ini sok-sokan berceramah, kurang lebih seperti ini:

“Begini kawan-kawan semuanya, HIDUP MAHASISWA!!! (hiduuuuup), HIDUP MAHASISWI!!! (hiduuuuuupp), *eh, Jadi begini temen-temen, Spongebob pernah mengatakan, bahwa: ‘cinta itu menghasilkan KITA, tanpa menghilangkan AKU’, sekali lagi saya ulangi ya, ’cinta itu menghasilkan KITA, tanpa menghilangkan AKU’. Jadi yang namanya cinta, dia memang membuat sebuah kebersamaan, tapi bukan berarti kebersamaan ini untuk disama-samakan, atau disamaratakan. Jadi memang, tarbiyah itu bukan system pencernaan, apapun yang masuk ke perut, pas keluar bentuknya sama. Tarbiyah adalah ‘proses menumbuhkan’. Membuat segala potensi yang kita miliki, yang semula mungkin hanya untuk pribadi dan keuntungan duniawi, menjadi lebih berdaya, potensi dan karakter ini justru menjadi kekuatan untuk berdakwah, sesuai dengan metode dan ciri khas masing-masing, membuatnya lebih berguna untuk kehidupan sekitar dan berorientasi akhirat.”

Jadi, kita tidak memandang segala fenomena dalam dakwah itu sebagai sesuatu yang hanya ada HITAM dan PUTIH. Ada ikhwan yang pakai celana jeans misalnya, sudah dianggap futur. Ada akhwat yang gemar naik gunung dan lari-lari, dianggap ga umum. Ada akhwat yang pakai jilbab dengan warna selain hitam, dianggap menyipang, ada ikhwan yang ga berjenggot, dituduh bid’ah, *eh.

Di masa Rasulullah kan kita bisa banyak melihat, bagaimana sosok Umar yang sangat tegas ketika masih musyrik, masuk Islam sikapnya tetap tegas, tetapi berlandaskan Islam. Bagaimana kita melihat sosok Abu Bakar yang bijaksana, ataupun sosok Utsman yang lembut dan penyayang. Keperkasaan Khalid bin Walid, yang setiap perang ketika dipipin olehnya, tidak pernah mengalami kekalahan, bahkan ketika ia masih musyrik, dia bisa mengalahkan kaum muslimin di Perang Uhud. Ketika mereka masuk Islam, karakter khasnya tidak ada yang berubah, mereka tetap menjalankan Islam sesuai dengan karakter pribadi mereka masing-masing. Umar tidak pernah memaksakan atau menganggap Abu Bakar sebagai orang yang tidak tegas, lembek, dll, begitu pula sebaliknya, mereka tetap saling bersama dan saling melengkapi, dari itulah Islam Berjaya.

Saudara-saudara sekalian, sebangsa tanah dan sebangsa air *eh, sebangsa dan setanah air…

Maksud dari tulisan saya ini bukan berarti kita memudah-mudahkan di dalam bersikap dan berperilaku. Tapi saya ingin mengatakan bahwa, di dalam agama dan dalam dakwah kita itukan ada hal-hal yang sifatnya tsawabit (tetap), ada juga yang bersifat mutaghayyirat (berubah-ubah), ada hal yang bersifat prinsipil, ada juga yang pilihan. Jadi gini, dalam perkara hijab wanita, misalnya, yang wajib itukan menutup aurat sampai ke dada, perkara jilbab yang digunakan seperti apa, jenis bahannya apa, warnanya apa, panjangnya berapa meter, itu berada pada wilayah ijtihadiyah.

Hemm, mungkin analoginya terlalu jauh juga ya bahas jilbab, tapi semoga alur berfikirnya bisa difahami. Bahwa jangan sampai kita melakukan penilaian itu dari tampilan luarnya saja, dari hal-hal yang bisa jadi itu hanya kebisaaan dan kesepakatan tidak tertulis yang terjadi di lingkungan dakwah, bukan perkara yang benar-benar melanggar dalil syariat. Pada akhirnya kita bisa menjadi sosok yang lebih bijak dalam menghadapi berbagai fenomena di dunia dakwah ini. Proses dakwah yang berjalan semakin lama, semakin berkembang dan semakin meluas, tidak menutup kemungkinan akan terdapatnya berbagai karakter orang yang sangat beragam. Di sinilah sikap kita sebagai para da’i diperlukan (KITA..?!). Seperti Sayyid Quthb pernah berkata: “Nahnu dhu’aat, Laa kudhaat” (kita itu da’I, bukan hakim). Atau seperti akhina Spongebob yang kata-katanya saya kutip tadi: “cinta itu melahirkan KITA, tanpa menghilangkan AKU.”, iya kan Patrick..?! ^o^

Separatozzz…

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s