diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

Islam dan Demokrasi

Tinggalkan komentar

(Catatan berikut merupakan kutipan pendapat ketika saya berdiskusi di FB dengan saudara saya dari salah satu harakah Islam, seputar Islam dan demokrasi)

islam demokrasiDalam sejarah masa Rasulullah, ada semacam ‘undang-undang tidak tertulis’ yang berlaku pada masa itu. Yaitu sebuah undang-undang di mana masyarakat jahiliyah sangat menghargai ketika ada pihak yang kuat memberi perlindungan kepada pihak yang lemah. Jika seorang yang lemah masuk ke dalam jaminan keamanan (jiwa) orang yang kuat, maka orang tersebut dapat menikmati jaminan perlindungan kebebasan bergerak dan berfikir, hingga pihak musuh tidak akan dapat mengganggunya sama sekali.

Inilah yang dilakukan Rasulullah, Beliau menggunakan perlindungan pamannya, Abu Thalib -yang merupakan orang musyrik-, untuk melindungi kebebasan dakwah beliau.

Berkata Ibnu Ishaq, “Paman Rasulullah Saw., Abu Thalib melidungi & membelanya sehingga beliau terus melanjutkan dakwahnya tanpa mempedulikan gangguan apapun. Ketika Quraisy melihat bahwa Rasulullah Saw. terus mengecam mereka, sementara Abu Thalib telah melindunginya sehingga menolak menyerahkannya kepada mereka, berangkatlah beberapa orang menemui Abu Thalib. Mereka berkata: “Wahai Abu Thalib, sesungguhnya anak saudaramu (Muhammad Saw.) telah mengecam tuhan-tuhan dan agama kita, mencela mimpi-mimpi kita & mengatakan nenek moyang kita sesat. Kami harap engkau dapat mencegahnya atau biarkan kami bertindak terhadapnya..” dan seterusnya…

Singkatnya Abu Thalib menyampaikan hal itu kepada Rasulullah dan Rasulullah menjawab: “Wahai Paman, Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.” Kemudian Rasulullah tampak sedih dan bangkit meninggalkan pamannya. Tapi Belum jauh Rasulullah Saw. berjalan, Abu Thalib memanggilnya, “Kemarilah wahai anak saudaraku!”. Setelah Rasulullah saw kembali ke hadapanya, Abu Thalib berkata, “Pergilah wahai anak saudaraku dan katakanlah apa yang kamu suka, demi Allah aku tidak akan menyerahkan kamu untuk selama-lamanya”. (Sirah Nabawiyah, Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, I/ hal. 284-285)

Inilah salah satunya yang dijadikan ijtihad sebagian ulama, bahwa memanfaatkan Undang-undang jahiliyah untuk melindungi para pemuda da’wah adalah dibenarkan syari’at. Seperti Rasulullah yang memanfaatkan fanatisme jahiliyah melalui perlindungan pamannya untuk menjaga eksistensi dakwah pada masa itu.

Menurut Syaikh Muhammad Munir Muhammad Al Ghadban dalam Manhaj Haraki (jilid I, hal. 87-84), dari sini dapat dikatakan, tentunya dengan hati-hati, bahwa demokrasi -sebagai sistem non-Islam- adalah lebih baik bagi gerakan Islam (saat ini), daripada sistem diktator/tirani. Ia adalah iklim yang cocok untuk menggelar dakwah & mnyebarkannya. Ia, sekalipun merupakan sistem jahiliyah, lebih bermanfaat bagi kaum muslimin daripada sistem jahiliyah yang lainnya. Ia biasanya menjamin kebebasan mengungkapkan pendapat dan kebebasan beraqidah, atau dengan kata lain, kebebasan beribadah dan kebebasan berda’wah. Jadi memang penggunaan sistem ini hanya sebatas sarana, untuk mencapai tujuan Islam yang mulia, yaitu menegakkan kalimat “Laa ilaaha illallah”, serta menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘aalamiin).

Tegakkan Islam di Hati, maka Islam akan Terwujud di Muka Bumi?

Saya spakat dengan pendapat Al-‘Allamah Al-Muhaddits Asy-Syaikh Muhammad Nasruddin Al-Albani rahimahullaahu ta’ala berkata -seperti yang Anda kutipkan-, “Tegakkanlah daulah Islam di hati kalian (dengan tauhid dan bertakwa kepada-Nya), niscaya akan terwujud daulah Islam di atas bumi kalian.”

Maka ketika melihat fenomena PKS, atau siapapun yang menggunakan demokrasi sebagai media da’wah, lihatlah secara komprehensif. Apakah ia mnggunakan politik/demokrasi ansich dalam berdakwah, ataukah mereka mmiliki metode dan cara pandang yang lebih luas?

Kita bisa melihat fenomena Ikhwanul Muslimin dan juga PKS, ternyata mreka mmiliki sistem pembinaan Islam di dalamnya, inilah cara untuk: “Menegakkan daulah Islam di hati”, sesuai pndapat Syaikh Al Al Bani. Kita juga bisa mlihat sayap-sayap dakwah dari keduanya, ternyata politik hanyalah salah satu sarana, bukan satu-satunya sarana dakwah. Semua punya perannya masing-masing.

Jika kita mau saling berargumen, maka prdebatan ini tidak akan prnah selesai. Setiap mujtahid, memiliki wawasan dan latar belakang yang berbeda sehingga ijtihadnya pun akan berbeda. Dan demokrasi, bisa digunakan untuk berda’wah atupun tidak, merupakan bagian dari hasil ijtihad. Perbedaan ini tidak jauh beda dengan perbedaan ke empat Imam Mazhab yang sudah masyhur, dan mereka tidak saling mempermasalahkan perbedaan satu sama lain, karena masing-masing memiliki argumen yang bisa dipertanggungjawabkan.

Mengapa kita tidak fokus pada permasalahan umat Islam pada saat ini? Mereka sedang terpecah dan jauh dari Islam. Daripada mengorek dan mempermasalahkan metode dalam berdakwah -yang saya yakin perkara ini tidak akan usai diprbincangkan-. Lebih baik mari kita bersatu dan memfokuskan tujuan untuk membina dan mempersatukan umat, sesuai ijtihad dan karakteristik dakwah masing-masing.

Mengutip kata dari Yusuf Qardhawy, “Mari kita bekerjasama dalam hal yang kita sepakati, dan saling bertoleransi dalam hal yang kita tidak bersepakat di dalamnya”.

Allah a’lam…

(Ketika kalimat pendapat [terakhir] ini saya sampaikan, beliau tidak [sempat] menjawabnya lagi, husnudzan saya, tentu saja beliau mengurusi urusan da’wah lain yang lebih penting, InsyaAllah)

Salam Ukhuwwah…
Allahu musta’an…

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s