diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

Refleksi Milad Al Fatih (dan Al Ishlah, bagian 3)

Tinggalkan komentar

“Karena kita manusia, maka kita pun terluka”

(lupa puisinya siapa, tapi suka dibacain sama mas Mekel)

 

ultah 3

Kira-kira seperti itulah suasana di Milad Al Fatih dan Al Ishlah beberapa hari yang lalu. Banjir air mata, seolah banyak jiwa yang terluka (halah, bahasanya). Meski saya bukan pengurus, tapi antum-antum (kalian-kalian) jangan tanya saya ngapain di situ. Karena saya orang keren, maka saya ada di mana-mana, huahahaha (ketawa jahat).

Ehm, nuansa Milad di Al Fatih kan udah dijelasin di note sebelumnya ya, di sini saya kasih tau bahwa di Milad Al Ishlah itu ternyata di akhir ada ‘konflik buatan’ juga. Entah Al Ishlah ingin niru Al Fatih atau kejadian, nama dan peristiwa hanyalah kebetulan dan fiktif belaka (hehe). Apapun yang terjadi, yang jelas cara ini ternyata efektif membuat beberapa pengurus menangis mengaum-ngaum. Bahkan sang Mas’ul dan Mas’ulah sampai menggelontorkan airmata dengan sangat derasnya. Saya sendiri melihatnya jadi teringat air terjun di daerah Magelang (krik..krik..). Dalam suasana seperti ini, saya jadi terharu kemudian keluar ruangan sejenak, mencoba menenangkan diri. Eh, ternyata di belakang saya ngikut beberapa teman, sebut saja namanya Budi Bombastis, Wahyu Panca Hidayat, Dhimas Fajar Setyawan, Wira Safutera dan Taat Setyabudi (semua bukan nama sebenarnya :D). Kirain mereka sama-sama terharu, ternyata beberapa cuma bilang: “di dalem panas bro, ga ada kipas angin.” (hedehh). Ditambah lagi, kebetulan di luar ternyata ada beberapa lebihan nasi kotak plus nasi tumpeng, dimakan deh bareng-bareng. Awalnya saya tidak mau tuh, tapi dipaksa-paksa sama temen-temen, akhirnya ikut makan deh, nyam..nyam..nyam…

Eh, tau ngga, selain kita (ikhwan-ikhwan keren yang udah disebutin di atas), ternyata ada juga beberapa akhwat yang keluar ruangan di saat ‘pesta tangis’ berlangsung. Beberapa yang saya inget, sebut saja namanya Ni’mal Kariemah, Giva R. Nata Suganda a.k.a. Giva Tri Putri Guntari, Uswatun Khasanah, Chika Novriani, Wini Siti Fatimah (semua bukan nama sebenarnya juga :D), lainnya saya lupa (yang bersangkutan atau yang merasa jadi saksi mata silakan tag aja di komen ya). Nah, karena akhwat, saya berhusnudzan aja, kirain mereka juga pada terharu, tapi ternyata mereka juga keluar dengan cekakak-cekikik tanpa dosa, hedeh..hedehhh… (geleng-geleng kepala).

TAPI…

Kita bukan mau bahas ‘persekongkolan’ itu, kata-kata di atas itu baru pengantar (pengantar panjang beut, fiuuuhh), tapi yang ingin dibahas di sini adalah sms yang masuk ke HP saya (ya iyalah, sms masuk ke HP, masa ke kaos kaki). “tring-tong” (suara rongtone sms), saya buka, ternyata dari u Lailatul Khoiriah (bukan nama sebenarnya, beliau mantan mas’ulah Al Ishlah 2011, hadir di situ sebagai alumni, maklum sudah tua). Isinya lupa-lupa ingat, tapi kira-kira seperti ini, plus jawaban dari saya secara berurutan:

U Laila: “Ini bagian dari ulah antum?”

A Diar: “Bukan, saya ga tau apa-apa…”

U Laila: “Hemm.. Semoga ke depan tidak ada lagi tangisan dan acara melow-melow kayak gini, seolah-olah amanah ini menjadi beban dan mereka tidak ikhlas menerimanya.”

A Diar: “Ya, semoga hanya ‘seolah-olah’, he…”

(redaksi asli smsnya agak lupa, tapi kira-kira substansinya tidak menyimpang dari dialog di atas)

Hemm.. kalau difikir-fikir (dan untung saja saat itu KEBETULAN saya sempat mikir), iya juga ya. Kadang beberapa hal atau beberapa agenda terlalu kita sikapi berlebihan, hingga misal dalam konteks Milad SKI kemarin kita menjadi lepas control (KITA..?!). Ini bukan berarti karena saya anti tangisan sih, karena saya sendiri termasuk orang yang melankolis, mudah terluka dan berurai airmata (lebay, lempar sendal).

Begini, ini bukan tentang tangisannya sebenarnya, tapi tentang ‘kenapa’ dan ‘untuk apa’ kita menangis. Coba kita renungkan sekali lagi (emang pernah merenung berapa kali?), sebenarnya kenapa tangisan itu terjadi? Apakah benar-benar karena rasa takut kepada Allah karena amal yang belum maksimal, ataukah karena ‘ke-Al Ishlah-an’ atau ‘ke-Al Fatih-an’ itu sendiri.

Jika benar-benar karena Allah, maka ini baik, misal khawatir kita mendzolimi banyak orang dan membuat Allah murka, khawatir amanah tidak terlaksana dengan maksimal, kemudian Allah tidak ridha, khawatir tiba-tiba meninggal sementara kita belum sempat bertaubat atas apa yang telah dilakukan dalam satu tahun kepengurusan. Namun jika yang terjadi sebaliknya, misal takut LPJ dikenang buruk oleh adik-adik angkatan, khawatir berpisah dengan teman-teman PH, takut dikira tidak solider karena tidak menangis, atau mungkin karena gengsi, atau mungkin Karen merasa bahwa akhir kepengurusan adalah akhir dari segalanya, akhir dari SKI bahkan akhir dari dakwah Islam. Jika seperti ini, malah akan menjadi tangisan fanatisme dan tangisan yang berlebihan.

Tentu tulisan ini bukan bentuk tuduhan, melainkan sebagian dari bentuk peringatan dari saya sebagai sesepuh (ngaku deh udah sepuh, meskipun wajah selalu muda, hehe), untuk diri saya sendiri dan untuk siapapun yang membaca catatan ini. Hanya nurani kita sendiri yang bisa menjawabnya, sebenarnya dalam tangisan mana kita berada. Jika dalam konteks SKI mungkin kita lebih cepat menyesuaikan diri. Tetapi di lembaga-lembaga umum, yang agenda utamanya bukan untuk dakwah Islam maka kita harus pandai-pandai menjaga hati. Tangisan ‘takut berpisah’ atau ‘merasa bersalah’ tentu merupakan tangisan manusiawi, tetapi jangan sampai tangisan semacam ini hanya menjadi tangisan ratapan belakan, melebihi tangisan cinta kita kepada dank arena Allah, tangisan takut kita kepada Allah. Bedanya, jika tangisan atas nama manusia maka bermaafan sambil pelukan terisak, sudah selesai. Tapi jika tangisan atas nama Allah maka tangisan itu akan diikuti dengan taubat dan perbaikan niat yang sesungguhnya: menyesal, bertekad agar tidak mengulanginya, dan menambah amalan baik dengan kualitas dan kuantitas yang semakin baik…

Wallahu a’lam. Semoga kita semakin cinta dan dicintai Allah…

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s