diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

Ada Cinta di Gandok Mulia

Tinggalkan komentar

Setiap habis shubuh jadwal di pondok Jum’at ini adalah tahsinul qur’an (program perbaikan bacaan qur’an) dan tahfidzul qur’an (program hafalan).  Biasanya santri akan langsung disuruh berkumpul dengan kelompoknya masing-masing, dengan dipandu seorang pemandu setiap kelompoknya, di mana lagi kalo bukan di “MASJID GANDOK MULIA”. Entahlah, saya tidak tau kenapa kampung ini namanya “Gandok” dan masjid ini namanya “Gandok Mulia”, mungkin ada hubungannya sama nama salah satu penyakit, berupa bengkaknya leher karena kurang yodium? (itu GONDOK!). Kenapa juga tidak diberi nama sesuai nama pondok ini, “Takwinul Muballighin” begitu? Tapi tak apalah, karena bahasan kita kali ini bukan tentang itu kok, lagipula semua itu tidak akan berpengaruh terhadap harga cabe di pasar baru (hemm?).

Jadi gini, saat itu kita tidak ada kajian tahsin, Ustadz Arief Setiadi (bukan nama sebenarnya), sebagai pemandu utama tidak membagi para santri untuk tahsin seperti biasanya. Melainkan beliau berceramah tentang beberapa hal, kemudian tiba-tiba menyuruh saya sebagai “lurah” santri agar maju ke depan, memimpin organisasi santri PPTM yang disebut sebagai “Irsyadul Ummah” untuk mempimpin evaluasi kepengurusan. Mas Arief mengatakan bahwa beberapa santri mengeluh tentang buruknya kinerja Irsyadul Ummah, jadi harus segera dilakukan evaluasi.

 

JALANNYA RAPAT

Akhirnya sayapun maju dengan sedikit terpaksa. Forum dibuka dan rapatpun dimulai…

 

“Oke temen-temen semuanya…”, saya mulai membuka pembicaraan.

“Okeeee…” jawab mereka serempak.

“Ish.. itu bukan pertanyaan! Itu kalimat pembuka, jadi ga usah dijawab gitu…”

“Oh yaaa…” jawab mereka serempak.

“Emmm… Assalamu’alaikum warahmataullahi wabarakaatuh”

“Emmm… Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh” jawab mereka serempak.

“Selamat pagi semuanya…”

“Selamaaaaattt…” jawab mereka serempak.

“Heedehh… Ya sudah.. Sebelumnya saya sampaikan terimakasih atas kesempatannya hingga saya bisa berbicara di hadapan antum semuanya. Saya juga sampaikan terimakasih kepada mas Arief Setiadi atas pemberian waktunya. Terimakasih juga kepada para dewan juri dan masyarakat Indonesia. Jangan lupa tetap dukung saya, ketik REG (spasi) DIAR GANTENG ke 9288, semoga di X Factor kali ini saya berhasil mengalahkan Fatin yang banyak penggemarnya itu! Salam Olahraga!”

#krik..krik..krik..krik…

 

“Maaf mas, sebenarnya saya pengen ketawa sih, tapi, lagi ga mood nih, besok aja ketawanya yaaa…”

#PLAK!

 

“Oh ya maaf, sodara-sodara. Hari ini kita sebenarnya akan melakukan evaluasi kepengurusan. Saya denger-denger, banyak yang jadi kurus gara-gara menjadi pengurus. Makanya ke depan menurut saya kita ganti saja semua pengurus menjadi penggendut, biar semua pada gendut. Oke? Itu yang pertama. Silakan berikutnya ada masukan lain?”

#krik..krik..krik..krik…

 

BAIKLAH, KITA MULAI AGAK SERIUS

Adi yang berasal dari divisi keamanan mulai angkat bicara, dia mengeluhkan tentang santri yang tidak disiplin dalam jadwal ronda, padahal itu demi kebaikan bersama. Dia menambahkan bahwa sie keamanan telah berusaha maksimal dalam kerja, tapi hal itu tetap terjadi karena juga tidak ada ketegasan dari saya sebagai Lurah.

“Hemm…  baik-baik, semua masukkan coba saya tampung dulu…”

Berikutnya  ada Sugianto dari sie kebersihan, dia juga mengeluh kenapa tidak ada perhatian khusus dari lurah untuk mendampingi program dan rapat-rapat yang dilakukan oleh sie kebersihan. Dia menyatakan bahwa pondok ini krisis kepemimpinan. Saya sebagai lurah tidak berjalan maksimal.

‘Hemm… temen-temen sepertinya mulai serius, tidak banyak becanda seperti biasanya, ada kesalahan yang sangat fatal yang sudah saya lakukan sepertinya.’  (kata saya dalam hati) *aneh, kan? dalam hati tapi masih bisa kebaca… #ga juga😛

Kemudian Rizki dari sie pendidikan juga menyampaikan beberapa keluhan, di bidang pendidikan. Dia merasa bekerja sendiri, tidak ada bantuan dari yang lain, tidak ada keseriusan dari saya sebagai lurah untuk mengurus Irsyadul Ummah, dan sampai yang paling ekstrem, dia mengusulkan agar Irsyadul Ummah, lembaga santri di Takwinul Muballighin ini dibubarkan!

Ya, satu persatu setiap santri menyempaikan masukan, atau lebih tepat, keluhannya masing-masing. Karena santrinya lumayan banyak, jadi tidak bisa menyebutkannya satu persatu. Saya tidak mau menyebutkan bahwa ada Amar Anfa’u, Agung Iranda, Amrullah Rosyada, Aji Syukron, Hasan Aswino, Sigit Purnomo, Ifwan al Ghiffari, Nuryasin, Ginanjar Yulian Azizi, Fery Subakti, Nurfajar al Asy’ari, Rachmad Hidayat, Yudha Prawira, Muslihuddin, Bakhtiar Eka Saputra, Satrio Aji, Kiagus Syafei, Risang Purnawan, Wahyudi Iman Satria, Taat Setiyabudi, Abdul Muin, Dede Setiawan, Yafri Hasbi, dan Ajat Santoso. Ya, saya ga bisa sebut satu persatu, jadi maaf. (tuing!)

Hampir semua mereka mengeluh, dan intinya mengarah ke satu poin, bahwa segala program kepengurusan berjalan dengan buruk dan tidak maksimal sumbernya itu satu: LURAHNYA BURUK! *JRENG! JRENG! (backsound film horror).

‘Astaghfirullah, ampuni hamba Ya Rabb, yang belum bisa maksimal dalam mengurusi (atau menggenduti?) santri di TM ini.’

Saya terdiam dan bingung mau jawab dari sebelah mana. Jujur saja saya paling benci berada dalam posisi seperti ini. Bukan karena saya tidak mau mengakui kesalahan. Tapi saya sangat benci berada dalam kondisi tertekan. Rasanya seperti, diduduki gajah yang sedang diduduki sama gajah yang lainnya.

Beberapa santri ada juga yang melakukan pembelaan hukum (ceileh kayak pengacara), bahwa seharusnya jangan semua dilimpahkan kepada Lurah, tapi kesalahan dalam organisasi itu ada 2 kemungkinan, kesalahan pimpinan juga kesalahan bawahan. Di antara yang melakukan pembelaan ini adalah Muslihuddin dan Ghiffari (bukan nama sebenarnya😛 ). Tapi santri yang lain tetep ngotot bahwa ini adalah kesalahan Lurah, artinya sayalah yang paling salah. Situasipun semakin lama semakin panas. Saya semakin bingung untuk bersikap. Kemudian Wahyudi Iman Satria (15 tahun, bukan nama sebenarnya). Mencoba untuk (sok-sokan) menjadi penengah, dan menganjurkan agar saya menyampaikan klarifikasi dan penyelesaian.

Sayapun mulai angkat bicara (bicara diangkat?). Ya, maksudnya mulai menyampaikan beberapa klarifikasi, pendapat dan ‘curhat’. Saya sampaikan bahwa sejak awal saya tidak pernah mau jadi lurah. (Sedikit bocoran kepada para pembaca, bahwa pada saat pencalonan saya menolak, tetapi pengurus dan ‘sesepuh’ pondok sedikit memaksa, ya, apa mau dikata, saya sudah terlalu terkenal sebagai artis ibukota!😀 ). Ya, tapi itu bukan alasan untuk mangkir dari tugas, karena mau tidak mau kepemimpinan sudah dibebankan dan konsekuensinya adalah melaksanakannya dengan penuh tanggungjawab. Saya juga menawarkan jika senadainya temen-temen mau, saya siap untuk berhenti dari kepengurusan, digantikan sama yang lain. Saya menyampaikan maaf yang sedalam-dalamnya kepada mereka karena belum bisa mengemban amanah dengan baik. Situasi mulai hening…

Tapi tiba-tiba, Wahyudi Iman Satria datang mendekat, menyalami saya, memeluk dan menyampaikan…

“Baarakallaah ya Akh, SELAMAT MILAD!”

(Woooooooooooooooo, MUKE GIIIILEEEEE!!)

Ternyata ada KOSPIRASI BESAR di balik semua ini, dan biangkeroknya adalah Wahyudi Iman Satria! Saya baru sadar bahwa hari itu tanggal 22 Februari, tepat hari ulang tahun saya (meskipun sebenarnya saya ga yakin bahwa saya lahir tanggal 22 Februari, soalnya pas lahir dulu saya ga sempet lihat kalender). Hedehh..  Sudah dagdigdug padahal, tegang dan ngeri. Satu persatu para santri menyalami saya dan sampai santri urutan ke-5, dia memegang tangan saya, dan santri yang lain memegang kaki, saluruh tubuh saya diangkat dan diarak ke lapangan. Beberapa ada yang mengambil air dari bak mandi, beberapa ada yang menyalakan kran air pakai selang dan menyemprotkan seenakanya ke tubuh saya yang ganteng ini. Basah kuyup, padahal sebelum shubuh tadi baru mandi dan baru ganti baju. Hemmm..hemm… Semua santri tertawa, termasuk saya. Tapi tawa itu adalah tawa bahagia, tawa itu adalah tawa persaudaraan yang penuh cinta (ceilee cinta!).

 

TERUS KENAPA?

Jadi gini, saya hanya ingin memaknai momentum itu. Bahwa seringkali di dalam kehidupan, kita tidak selalu mendapat segala yang kita inginkan. Hidup itu senantiasa berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Kadang kita nginjek tai ayam, kadang ayam nginjek tai kita (*eh). Allah tidak hanya memberi  kelapangan dan kebahagiaan, selain ujian berupa kesenangan, Dia juga berikan ujian berupa kesedihan. Mungkin kita akan diberi tekanan-tekanan, himpitan duniawi, kemiskinan, dan ‘siraman-siraman’ ketakutan. Kita harus yakin bahwa semua itu adalah bentuk dari kasih sayang Allah kepada kita. Allah ingin membuktikan sejauh mana kita tetap bertahan dan teguh untuk memegang cinta kepada-Nya.

Allah juga seringkali akan menguji kita sesuai kadar yang kita miliki. Orang kaya akan diuji dengan kekayaannya. Orang miskin akan diuji dengan kemiskinannya. Para pejabat akan diuji dengan jabatannya. Bahkan orang yang berilmu juga akan diuji dengan keilmuannya. Begitulah, Allah akan menguji kita di titik terlemah. Orang kaya akan diuji sejauh mana dia bisa mengelola harta kekayaannya di jalan Allah, atau malah dihambur-hamburkan untuk hal yang tidak berguna? Orang miskin diuji apakah dia tetap cinta kepada Allah dengan kemiskinannya? Begitu juga para pejabat dan orang yang berilmu. Apakah jabatan dan ilmunya memberi banyak manfaat atau hanya berisi keserakahan dan kesombongan?

Allah memberikan semua itu karena rasa cinta, InsyaAllah. Seperti teman yang merayakan ulang tahun kita dengan ‘ritual-ritual aneh’ seperti di atas. Bahkan dalam tahap yang lebih ekstrim, biasanya ada yang sampai direndam di air, dilempari telur, dilempari terigu (ini rayain milad apa bikin kue bolu?) dan sebagainya. Tapi kenapa kita tidak marah? Malah asyik tertawa bersama teman-teman? Karena kita yakin bahwa itu bukan ekspresi benci mereka, melainkan ungkapan cinta dengan cara yang berbeda…

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, karena semua urusannya penuh dengan kebaikan. Hal ini tidak akan terjadi pada orang lain, kecuali orang mukmin saja. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan baginya, dan jika ditimpa kesulitan, ia bersabar, maka hal itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

***

NB: situasi rapat di atas itu asli, tapi kata-katanya yang lebay, mohon maaf jika ada kesalahan penulisan nama, gelar atau jabatan😛

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s