diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

Yang Ber-Ngupilan di Jalan Dakwah

Tinggalkan komentar

Oke.. Oke… Kali ini saya mau bahas tentang sesuatu yang Cetar Membahana! Bombastis! dan Revolusioner!!

Apa ituuuuu…???

Yup! Sesuatu tentang… NGUPIL! (krik..krik..)

Jika Fathi Yakan -salah seorang tokoh pergerakan Islam dari Libanon- pernah membuat buku dengan judul ‘Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah’, maka tulisan ini adalah sekuel-nya (ceileh), judulnya, ‘Yang Ber-Ngupilan di Jalan Dakwah’ (ga sopan! Jauh banget kaleee..). Nggak ding, ini hanya siratan-renungan iseng aja yang sepertinya lumayan pas juga sama fenomena saat ini.

Kita Mulai!
Temen-temen tau UPIL kan? Itu lho salah satu kampus pendidikan di Bandung, dulu namanya IKIP Bandung (itu UPI -_-). Oh, udah ganti ya? (dari dulu gitu). Baik, maksud saya upil adalah sesuatu yang jauh lebih berharga dari pada emas yang bermukim di dalam hidung manusia (haiyah ‘bermukim’). Kenapa lebih berharga? Buktinya setiap orang mencarinya, meskipun harus susah payah menggunakan berbagai jari secara bergantian. Mulai dari kelingking, telunjuk, jari tengah, jari manis bahkan sampai menggunakan jempol kaki! (alay).

Ngupil adalah pekerjaan setiap orang. Hampir semua orang yang punya hidung pernah ngupil. Bahkan ada juga mungkin yang pernah ngupil dompet atau ngupil makanan kecil di swalayan (itu NGUTIL), lho, ngutil itu bukannya sejenis tai lalat yang ada di kulit itu ya? (itu KUTIL), lha kutil yang buat masak itu? (itu KATEL), katel yang buat ngisi bahan bakar motor? (hah? apaan?), itu lho, POM BENSIN! (ga lucu luh… -_-)

Baik, kembali ke KUTIL! Eh, NGUPIL. Di sini disebut ‘Yang Ber-Ngupilan di Jalan Dakwah’. Kenapa? Karena fenomena ngupil ini ternyata ada banyak hikmahnya yang masuk ke dalam dunia dakwah. Ciyus ini. Ga percaya? Baca terus aja…

Pertama!
Kalo pas orang ngupil biasanya orang itu sangat menikmati peroses masuknya jari ke dalam rongga hidung. Dia cari-cari harta karun berharga di dalamnya sampai merem-melek. Dia coba menggunakan seluruh jari tangan maupun jari kaki agar proses pengambilan upil menjadi nikmat dan sempurna (haiyooh). Jikapun dia ngupil di depan umum dan ketahuan lagi ngupil, biasanya dia malu. Tapi hanya sesaat. Di lain waktu dia akan ngupil lagi karena ngupil ini memang terasa nikmat dan bikin kecanduan. Bahkan orang yang lihatin dan memperingatkan saat orang lain ngupil itupun tak sadar kalo dirinya juga suka ngupil. Ngupil ini kenikmatannya tidak bisa dibayangakan, baru bisa dirasakan jika melakukannya sendiri. Iya nggak? Nggak kan? (lho).

Nah, kira-kira begitulah dakwah. Ketika berdakwah, -seharusnya- kita benar-benar menikmatinya. Tidak perlu mempedulikan tanggapan dan pendapat orang tentang dakwah yang kita lakukan, karena sejatinya dakwah ini untuk Allah, bukan untuk mendapat perhatian sesama manusia. Dakwah ini sangat nikmat dan kenikmatan ini tidak akan pernah dirasakan oleh orang-orang di luar yang hanya bisa berkomentar. Lezatnya dakwah baru bisa dirasakan jika kita benar-benar masuk dan menekuninya dengan penuh keikhlasan. Ya kayak ngupil itu tadi kan? Orang ga bisa merasakan nikmatnya ngupil hanya dengan melihat dan berkomentar. Bahkan ada seorang dai yang mengatakan ‘Jika raja-raja dan penguasa itu mengetahui nikmatnya jalan perjuangan-dakwah yang kita lakukan, niscaya dia akan merebutnya walau harus menukar dengan dunia dan kekuasannya.’. Nah! Nah!

Kedua!
Hikmah kedua ini saya jadi inget sebuah tebak-tebakan klasik yang mungkin temen-temen sudah sering dengar. Pertanyaannya…

‘Apa bedanya apel sama upil?’

Apa coba?
Apa?
Nyerah?

Baiklah, bedanya adalah… apel itu disimpen di atas meja sedangkan upil di bawah meja. Maksudnya apa? Ketika ngupil dan kita mendapatkan Sang Upil, maka kita akan menyembunyikannya serapi dan se-tidak-terdeteksi mungkin. Dioles di bawah meja, dikarpet yang samar, di balik pintu dan tempat-tempat terpencil lainnya. Iya kan? (nggak juga, haha). Jarang sekali orang dapet upil terus upilnya dia oles di tempat terbuka, di kening dia sendiri misalnya, kemudian dia teriak-teriak “Wooooyyy… liat nih, gue dapet upil! Yess! Yess!!”, nggak kan? Sebisa mungkin dia sembunyikan dengan rapi. Tidak pernah kita lihat ada orang berjalan dengan wajah di penuhi butiran upil-nya sendiri. Eh, betewe-betewe, bicarain ‘butiran upil’ jadi inget lirik lagu…

‘Aku tanpamu, butiran upiiiLL..’ (Lempar Sendal!).

Dakwah juga gitu, jika ternyata dakwah ini berhasil atau kita sukses membuat karya di dalam dakwah, maka tidak perlu disiar-siarkan, nggak perlu koar-koar itu karya dan hasil perjuangan kita. Biasa saja, bahkan sebisa mungkin kita sembunyikan peran dan keterlibatan kita agar bisa menjaga keikhlasan. Cukuplah kontribusi itu dilakukan sepenuh hati demi ridha Illahi. Tidak perlu disebut-sebut dan diumumkan. Ituh! (gaya Mario Teguh)

Itu Dulu Deh!
Dua hal dulu saja hikmah yang bisa diambil dari kesibukan seseorang ketika ngupil (‘kesibukan’ maksud loh?). Ga terlalu serius dan analoginya nyeleneh, biar gampang diinget aja. Hehe. Semoga kita bisa semakin menikmati dakwah ini sepenuh hati dan menjaga keikhlasan dalam setiap tindakan. Hanya Allah Sebaik-baik Pemberi balasan.

Oke Para Pemirsa!
Selamat Menikmati Lezatnya Ngupil! *eh, Berdakwah!😀

Penulis: Diar Rosdayana

Simple. Humble. Senang berteman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s