diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi


Tinggalkan komentar

Kentut..? So What Gitu Loh..! (part 2)

Udah baca part 1-nya belum? Kalo belum baca dulu gih sono. Udah? Oke deh. Silakan. Ini hikmah kentut yang berikutnya.

Coba direnungkan lagi, kenapa kita bisa uring-uringan sama kentut orang lain, entah karena baunya yang seperti racun dunia, atau karena suaranya yang cetar membahana? Tapi, di sisi lain, kita merasa nyaman dengan kentut sendiri (nyaman?). Sejauh ini rasanya ga pernah tuh saya liat ada orang yang marah-marah sama kentutnya sendiri. Misal dia bilang “Eh, Tut (kentut maksudnya), lu kalo mau keluar mikir-mikir dong! Cari waktu yang tepat buat bunyi napa!”, atau orang bilang: “Eh, kali ini aromanya ganti ya, jangan terlalu menyengat, yang wangi apel aja… :P”. Ngga, kan? Bahkan ketika pada puncaknya harus sampai masuk WC, ketika Sang Kentut ini bermetamorfosis (haiyoh) menjadi wujud yang lebih sempurna, menyublim menjadi benda padat, kita bisa menikmati aja sama baunya, bahkan mungkin dinikmati dan diresapi (kepalang jorok deh :P).

KENAPA COBA?
Jawabannya ada dua alasan. Pertama, Baca lebih lanjut


7 Komentar

My Name Is Diar, I’m Not A Woman

gambar dari google

gambar dari google

Baru-baru ini ada sms masuk ke nomor HP saya.

“Assalamu’alaikum. Mbak Dian saya Fa**ni, dapet nomor Mbak dari Imanul.

Mau minta nomor Pa Muchson dari PKnH, beliau dosen KKN-PPL saya. Kalau sekiranya Mbak punya, saya mau minta. Terima kasih.”

Saya: “Maaf saya bukan Dian.”

Pengirim pesan sepertinya tanya balik ke Imanul, terus sms: “Oh ya, maksudnya Diar. Gimana Mas Diar?”

(Hadooohh.. kalo saja ada fasilitas sms buat mukul si penerima pesan, DUNG! *dalam hati)

Kalo sempet ngitung, mungkin ini kejadian ke 73.465.843.768-kalinya saya disangka anak cewek (hoax.com). Intinya sudah masuk kategori ‘sering’, dipanggil mbak, euceu, teteh, neng. Belum lagi salah-salah nama, kadang Dian, Dias, Tias, Tiar, dan sebangsanya. Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Bau Ketek

dari googleHari itu entah hari apa, yang jelas pas jadwal sholat ashar di Masjid Al Mujahidin, UNY. Karena sudah dapet materi tentang dahsyatnya pahala berjama’ah di shaf depan, yang katanya, kata Rasulullah, jika manusia harus mengundi untuk mendapatkan shaf depan, niscaya mereka akan mengundi untuk dapat shaf depan-, ini untuk menunjukkan betapa pahala berjama’ah di shaf depan itu begitu keren. Maka sayapun bersegera menempatinya (cieee). Persis di belakang imam.

Iqamah udah selesai. Seperti biasa sebelum berjama’ah dimulai, sang Imam menyampaikan:

“Kepada jama’ah yang memiliki HP dan alat komunikasi lainnya, mohon dimatikan terlebih dahulu”.

Makmum ada yang protes: “What..?! Jama’ah yang membawa HP, harus dimatikan..?! Jama’ahnya dimatikan..?!”.

“Jangan lebay deh, yang dimatiin itu HP-nya. Ayo lurusin shafnya!” Jawab imam.

“Oooohh.. Maaf ustadz..”  Kata makmum tadi.

Imampun kemudian bertakbir menandai dimulainya sholat. “ALLAAHU AKBAR…”. Seluruh makmum serentak Baca lebih lanjut


2 Komentar

Robot Manja yang Ingin Cantik

Di zaman yang semakin modern ini, di satu sisi manusia semakin dimanjakan, di sisi lain ia dianggap seperti robot. Dimanjakan karena sekarang sudah banyak alat bantu yang semakin canggih dalam segala hal. Seperti robot karena banyak sekali alat yang diciptakan untuk ‘memperbaiki’ bagian-bagian tubuh manusia. Bingung? Sama. Mari kita lihat satu persatu.

DIMANJAKAN

Dulu, tukang pos merupakan segalanya. Mulai dari kirim surat, kirim uang, kirim barang. Sekarang? PT Pos Indonesia harus beberapa kali revisi pekerjaan karena sebagaian besar fungsinya Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Pengendara Kebelet Pipis

Semakin sering naik kendaraan, makin sering juga melihat pola berkendara yang sama bagi sebagian besar masyarakat di Jogja. Ya, mungkin memang bukan semua orang Jogja asli, karena banyak juga pendatang di sini. Mungkin juga malah ga ada orang Jogjanya. Mungkin, ini juga terjadi di berbagai belahan dunia dan seisinya. Kebanyakan mungkin jadinya. Yang pasti, saya ingin mengupas tentang kebiasaan pengendara. Kebiasaan pengendara ini saya sebut sebagai “PKP”: Pengendara Kebelet Pipis.

Coba perhatikan saja ya. Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Siapa saya?!

JIKA kita ditanya oleh seseorang: “Kamu itu yang mana?”. Kira-kira apa yang akan ditunjuk? “Saya itu, ini” (dengan telunjuk mengarah ke salah satu bagian tubuh). “Mana? Itu hidung”. “Ini”. “Itu dada”. “Ini lho, dari ujung rambut hingga ujung kaki”. “Itu tubuh”. “Gggrrrr”. Bahkan dalam suatu seminar biasanya lebih aneh lagi, moderator bertanya: “Siapa yang mau bertanya?”. “Saya” (sambil jari menunjuk ke atas, padahal tidak disediakan kursi di langit-langit, ada orang po di atas? he..).

Ya, ini tentang ‘saya’. Yang mana sebenarnya yang dimaksud dengan ‘saya’? Apakah ‘saya’ adalah yang bergerak dan berjalan ini? Apakah ‘saya’ yang dilahirkan 22 Februari 20 tahun silam ini? Di kamar ukuran 3×4 (kayak foto aja), jam 11 malam dengan dibantu dukun beranak? Apakah ‘saya’ adalah Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Ikhlaslah Beramal

Bicara tentang iklhlas, saya jadi teringat film “Kiamat Sudah Dekat”, ketika tokoh utama yang dibintangi Andre “Stinky” -seorang anak band yang urakan- ingin menikah dengan puteri seorang Kyai. Permasalahan muncul ketika Kyai tersebut memberi syarat-syarat yang sebenarnya semula berniat ingin memberatkan, agar dia tidak jadi nikah dengan anaknya, karena Sang Kyai sudah punya calon yang dianggapnya mebih baik. Semua syarat diberikan, mulai dari disuruh sunat (supit), harus bisa sholat, bisa ngaji dan ditanya tentang pekerjaan, dan semua ternyata bisa dipenuhi. Hingga pada akhirnya Baca lebih lanjut