diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi


Tinggalkan komentar

Kentut..? So What Gitu Loh..! (part 2)

Udah baca part 1-nya belum? Kalo belum baca dulu gih sono. Udah? Oke deh. Silakan. Ini hikmah kentut yang berikutnya.

Coba direnungkan lagi, kenapa kita bisa uring-uringan sama kentut orang lain, entah karena baunya yang seperti racun dunia, atau karena suaranya yang cetar membahana? Tapi, di sisi lain, kita merasa nyaman dengan kentut sendiri (nyaman?). Sejauh ini rasanya ga pernah tuh saya liat ada orang yang marah-marah sama kentutnya sendiri. Misal dia bilang “Eh, Tut (kentut maksudnya), lu kalo mau keluar mikir-mikir dong! Cari waktu yang tepat buat bunyi napa!”, atau orang bilang: “Eh, kali ini aromanya ganti ya, jangan terlalu menyengat, yang wangi apel aja… :P”. Ngga, kan? Bahkan ketika pada puncaknya harus sampai masuk WC, ketika Sang Kentut ini bermetamorfosis (haiyoh) menjadi wujud yang lebih sempurna, menyublim menjadi benda padat, kita bisa menikmati aja sama baunya, bahkan mungkin dinikmati dan diresapi (kepalang jorok deh :P).

KENAPA COBA?
Jawabannya ada dua alasan. Pertama, Baca lebih lanjut


2 Komentar

Kentut..? So What Gitu Loh..! (part 1)

Beberapa posting terakhir saya kayaknya agak serius dan melankolis, kali ini mungkin sedikit ringan aja ya, bahkan mungkin bukan ringan lagi ini mah, sampai ga bisa ditimbang, ngapung melayang, yaitu tentang: KENTUT. #uhuk..uhuk..

Eits tunggu, jangan marah-marah dulu. Mungkin memang ada yang protes “Apaan sih bahas kentut?”, “Idih jorok banget!”, “Woi! Ga penting! Jijik tau…”. Ah, itu dia. Padahal semua orang itu pasti kentut, kan? Orang kaya, kentut. Orang miskin, kentut. Orang jelek, kentut. Orang cakep, kentut juga. Maling, kentut. Presiden juga kentut. Jadi ga perlu sombong, mau secantik apapun, seganteng apapun, uang di mana-mana, mau bagaimanapun, dalam posisi sebagai apapun, setiap manusia pasti kentut juga, kan? Biasa aja lagi. Hohoho..

So, dari itulah postingan ini dibuat, kita akan mengambil banyak hikmah dari sebuah kentut (sebuah?). Mari kita membahas kentut yang semula tabu menjadi layak dan patut untuk diperbincangkan. Semuanya akan dikupas secara tajam, setajam, pisau Mak Icih. 

BAIK PARA PEMIRSA, LET’S TALK ABOUT… “KENTUT”.
Pernah ga kamu merenung, kenapa kalau orang kentut itu suka malu (atau jangan-jangan, kamu ga malu? hehe), sebisa mungkin Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Apa yang Kau Tinggalkan?

Fakta menunjukkan bahwa ketika seseorang meninggal, salah satu yang dicari dan dikenang orang adalah aktivitas dia di jejaring sosial.

Melihat seorang Ustadz Jefri (semoga Allah merahmati beliau), selain kehidupannya terisi penuh dengan kesibukan menebar kebaikan, ternyata status dan tweetnya di dunia maya terisi banyak kalimat mutiara dan untaian kata penuh makna.

Jadi tergidik dan merenung, seandainya nyawa kita yang meregang, apa yang akan dikenang dan didapat orang? Seberapa besar manfaat kehidupan kita bagi alam semesta? Berapa banyak kebaikan yang kita sebarkan? Berapa banyak keburukan yang kita taburkan? Akankah ketiadaan kita menjadi sebuah berita duka, atau justru hanya akan menjadi Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Ikhtiar Maksimal, Allah Jangan Ditinggal

Seringkali, ketakutan kita terhadap suatu masalah jauh lebih besar daripada besarnya masalah itu sendiri. Sehingga ketakutan-ketakutan itu memenuhi fikiran, meruntuhkan logika dan mematikan hati. Inilah yang membuat sebagian orang mudah menyerah sebelum berjuang: kalahnya mental. Sampai terlupa bahwa setiap masalah yang diberikan Allah, sejatinya berbanding lurus dengan kemampuan manusia untuk menyelesaikannya.

Benarlah ucapan Khalid bin Walid dalam Perang Yarmuk. Kaum Muslimin yang berjumlah 46ribu orang merasa ciut karena harus melawan Pasukan Byzantium sebanyak 240ribu orang, bahkan sebagian riwayat ada yang menyebut 400ribu orang. Di tengah turunnya mental kaum Muslimin pada saat itu, Khalid pun berseru: “Daripada kalian sibuk menghitung jumlah pasukan musuh, lebih baik sibukkan diri kalian untuk Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Refleksi Milad Al Fatih (dan Al Ishlah, bagian 3)

“Karena kita manusia, maka kita pun terluka”

(lupa puisinya siapa, tapi suka dibacain sama mas Mekel)

 

ultah 3

Kira-kira seperti itulah suasana di Milad Al Fatih dan Al Ishlah beberapa hari yang lalu. Banjir air mata, seolah banyak jiwa yang terluka (halah, bahasanya). Meski saya bukan pengurus, tapi antum-antum (kalian-kalian) jangan tanya saya ngapain di situ. Karena saya orang keren, maka saya ada di mana-mana, huahahaha (ketawa jahat).

Ehm, nuansa Milad di Al Fatih kan udah dijelasin di note sebelumnya ya, di sini saya kasih tau bahwa di Milad Al Ishlah itu ternyata di akhir ada ‘konflik buatan’ juga. Entah Al Ishlah ingin niru Al Fatih atau kejadian, nama dan peristiwa hanyalah kebetulan dan fiktif belaka (hehe). Apapun yang terjadi, yang jelas cara ini ternyata efektif membuat beberapa pengurus menangis mengaum-ngaum. Bahkan sang Mas’ul dan Mas’ulah sampai menggelontorkan airmata dengan sangat derasnya. Saya sendiri melihatnya jadi teringat air terjun di daerah Magelang (krik..krik..). Dalam suasana seperti ini, saya jadi terharu kemudian keluar ruangan sejenak, mencoba menenangkan diri. Eh, ternyata di belakang saya ngikut beberapa teman, sebut saja namanya Budi Bombastis, Wahyu Panca Hidayat, Dhimas Fajar Setyawan, Wira Safutera dan Taat Setyabudi (semua bukan nama sebenarnya :D). Kirain mereka sama-sama terharu, ternyata beberapa cuma bilang: “di dalem panas bro, ga ada kipas angin.” (hedehh). Ditambah lagi, kebetulan di luar ternyata ada beberapa lebihan nasi kotak plus nasi tumpeng, dimakan deh bareng-bareng. Awalnya saya tidak mau tuh, tapi dipaksa-paksa sama temen-temen, akhirnya ikut makan deh, nyam..nyam..nyam… Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Refleksi Milad Al Fatih (bagian 2)

2Eh, udah baca bagian 1-nya belum? Kalau belum ayo baca dulu gih, buka-buka di note sebelum ini…

Hemm… Gimana…?!

Udah siap? Tapi dingin looohhh…  (gaya temennya Afika di iklan Or*o)

Oke, di bagian ke-2 ini saya akan awali dengan ungkapan seorang akhwat yang saya sebut sebagai semacam Pelaksana Tugas (PlT) KaDep Jaringan, yang saya ceritakan di note sebelumnya. Panggil saja namanya May, 12 tahun (bukan nama dan usia sebenarnya :D). Entah karena angin apa saat Milad Al Fatih kemarin, tiba-tiba dia curhat di forum, kurang lebih kayak gini:

“Maafin May yang masih seperti ini, maafin yang belum bisa menempatkan diri. May udah janji sama beberapa orang di Al Fatih, May udah pernah bilang sama Mbak Pipin (ini juga bukan nama sebenarnya), May pengen jadi seorang ‘akhwat’ yang sesungguhnya, hiks..hiks… May pengen mencoba, May udah berusaha, ternyata susah, susaaaaah banget, kalo kata orang alay, susah beud… hiks.. hikss.. Mungkin emang karakter May seperti ini, ga bisa jalan nunduk-nunduk kayak akhwat-akhwat yang lain, ga bisa ngomong pelan-pelan, masih kekanak-kanakan, May ga bisa, maafin, May ga bisa.. May ga bisa bersikap seperti layaknya para akhwat, hiks..hiks.. Huaaaaaaaaaaaaaaa….. T,T”

NJUK NGOPO?

Hemm, untunglah pada saat itu ada orang bijak yang menimpali, Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Refleksi Milad Al Fatih (bagian 1)

UltahPekan ini saya menghadiri Milad Al Fatih (Sie Kerohanian Islam yang ada di FE UNY) yang CETAR MEMBAHANA! Betapa tidak, setiap detiknya berisi banyak kejutan. Mulai dari banyaknya balon yang tiba-tiba beterbangan di seluruh ruangan. Penulisan nota hutang, *eh, harapan para pengurus yang harus digantung setinggi-tingginya di pohon, yang semula dikira cuma hiasan saja. Nonton film Al Fatih dalam satu tahun kepengurusan, potong tumpeng, terus ditutup dengan ‘konflik buatan’, yang saya tidak menyangka di awal, tapi ternyata cukup untuk membuat PlT KaDep Jaringan yang dengan bercucur airmata berharap dengan sangat ingin menjadi seorang ‘akhwat’, staf kaderisasi yang terharu karena namanya diakui sebagai ‘Naura’, calon Ketua BEM KM UNY yang membahas tentang cintanya kepada mas’ul Al Fatih (idihhh), para pengurus yang nangis terseok-seok (eh, sedu-sedu), mas’ulah yang curhat karena dituntut memberi cinta kepada staf-stafnya, sampai kisah ‘Raja Aneh’ yang disampaikan oleh sang Raja Al Fatih, bro Risang.

Fffiuhhh, anak-anak magang Al Fatih emang keren-keren deh, konsep acara yang BOMBASTIS dan ULALAAAA… ^o^

Eh, eh…

Tapi di sini saya bukan ingin menceritakan tentang apa saja yang terjadi dalam milad tersebut (padahal udah diceritain di atas, hehe). Saya hanya ingin Baca lebih lanjut