diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi


Tinggalkan komentar

Menghadapi Ujian

Manusia selalu diberi ujian sesuai tingkatan. Anak SD hanya diberi ujian tingkat SD. Anak SMP tentu diberi ujian tingkat SMP. Sama halnya anak SMA dan anak kuliahan. Mereka diberi ujian sesuai jenjang masing-masing dalam pendidikan.

Begitupula rumus kehidupan. Sesulit apa ujian yang didapatkan tergantung setinggi apa kualitas kita dalam keimanan. Karena itu kita bisa saksikan bahwa ujian terberat terdapat di kalangan Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Dengan Apa Lagi Kita Berharap Surga?

Allah yang menciptakan kita. Kemudian dengan kasih sayang-Nya, Ia semprunakan penciptaan kita. Ia berikan mata lengkap dengan nikmatnya melihat. Ia berikan telinga lengkap dengan nikmatnya mendengar. Ia berikan hidung dengan nikmatnya mencium dan menghirup udara. Ia berikan mulut dengan nikmatnya makan dan fasihnya berbicara.

Belum habis kasih sayang Allah, ia beri kita rizqi, sedang sedikit kesengsaraan justru membuat rizqi yang didapat jadi enak dinikmati. Ia beri kita sehat, sedang sedikit rasa sakit justru membuat sehat yang didapat jadi nikmat diresapi.

Kemudian Allah menyuruh kita Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Hindari Berdebat II

Hindari berdebat meski kamu yakin berada di pihak yang tepat. Hindari berwacana meski kamu merasa benar adanya. Karena tanpa kerja, semua hanya menjadi kata tanpa makna.

Perdebatan berlebihan hanya berujung pada pencarian pembenaran daripada pencarian kebenaran. Inilah yang membuat hati menjadi keras dan otak tidak bisa berfikir cerdas.

Bungkam prasangka mereka dengan Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Kentut..? So What Gitu Loh..! (part 2)

Udah baca part 1-nya belum? Kalo belum baca dulu gih sono. Udah? Oke deh. Silakan. Ini hikmah kentut yang berikutnya.

Coba direnungkan lagi, kenapa kita bisa uring-uringan sama kentut orang lain, entah karena baunya yang seperti racun dunia, atau karena suaranya yang cetar membahana? Tapi, di sisi lain, kita merasa nyaman dengan kentut sendiri (nyaman?). Sejauh ini rasanya ga pernah tuh saya liat ada orang yang marah-marah sama kentutnya sendiri. Misal dia bilang “Eh, Tut (kentut maksudnya), lu kalo mau keluar mikir-mikir dong! Cari waktu yang tepat buat bunyi napa!”, atau orang bilang: “Eh, kali ini aromanya ganti ya, jangan terlalu menyengat, yang wangi apel aja… :P”. Ngga, kan? Bahkan ketika pada puncaknya harus sampai masuk WC, ketika Sang Kentut ini bermetamorfosis (haiyoh) menjadi wujud yang lebih sempurna, menyublim menjadi benda padat, kita bisa menikmati aja sama baunya, bahkan mungkin dinikmati dan diresapi (kepalang jorok deh :P).

KENAPA COBA?
Jawabannya ada dua alasan. Pertama, Baca lebih lanjut


2 Komentar

Kentut..? So What Gitu Loh..! (part 1)

Beberapa posting terakhir saya kayaknya agak serius dan melankolis, kali ini mungkin sedikit ringan aja ya, bahkan mungkin bukan ringan lagi ini mah, sampai ga bisa ditimbang, ngapung melayang, yaitu tentang: KENTUT. #uhuk..uhuk..

Eits tunggu, jangan marah-marah dulu. Mungkin memang ada yang protes “Apaan sih bahas kentut?”, “Idih jorok banget!”, “Woi! Ga penting! Jijik tau…”. Ah, itu dia. Padahal semua orang itu pasti kentut, kan? Orang kaya, kentut. Orang miskin, kentut. Orang jelek, kentut. Orang cakep, kentut juga. Maling, kentut. Presiden juga kentut. Jadi ga perlu sombong, mau secantik apapun, seganteng apapun, uang di mana-mana, mau bagaimanapun, dalam posisi sebagai apapun, setiap manusia pasti kentut juga, kan? Biasa aja lagi. Hohoho..

So, dari itulah postingan ini dibuat, kita akan mengambil banyak hikmah dari sebuah kentut (sebuah?). Mari kita membahas kentut yang semula tabu menjadi layak dan patut untuk diperbincangkan. Semuanya akan dikupas secara tajam, setajam, pisau Mak Icih. 

BAIK PARA PEMIRSA, LET’S TALK ABOUT… “KENTUT”.
Pernah ga kamu merenung, kenapa kalau orang kentut itu suka malu (atau jangan-jangan, kamu ga malu? hehe), sebisa mungkin Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Energi-Energi Sisa

Kadang kita menggunakan ‘energi-energi sisa’ di hadapan Allah.

Seberapa sering kita mempersiapkan diri dalam shalat secara khusus? Menggunakan pakaian yang terbaik dan istimewa, menyiapkan kondisi diri dengan sempurna, melakukannya di awal waktu? Atau mungkin kita seadanya saja? Shalat dengan pakaian yang sama yang kita gunakan untuk tidur malam tadi, lusuh, badan penuh keringat, shalat di akhir waktu? Padahal sekarang itu, pakai kaos oblong saja sama dosen sudah tidak boleh masuk kelas pas kuliah. Ini untuk berhadapan dengan Allah? Memang tidak ada kewajiban untuk memakai pakian jenis tertentu sih, tapi Allah tentu saja lebih mulia dari dosen kita, bukan?

Bagaimana rutinitas kita dalam membaca Al Qur’an? Apakah kita membaca Al Qur’an hanya seminggu sekali? Sebulan sekali? Atau bahkan kita hampir lupa kapan membaca Al Qur’an terakhir kali? Padahal kebutuhan kita kepada Allah Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Menikmati Indahnya Dakwah

Oleh: Ustadz Cahyadi Takariawan

Engkau hanya memerlukan kesadaran, bahwa yang engkau lakukan seluruhnya dalam dakwah ini adalah untuk Allah. Kerjamu untuk Allah. Keringatmu untuk Allah. Waktu yang engkau habiskan untuk Allah. Harta yang engkau alokasikan dalam dakwah adalah untuk Allah. Pikiran yang engkau curahkan untuk Allah. Tenaga yang engkau sumbangkan untuk Allah.

Berjalanmu dalam melakukan semua kegiatan, berangkat dan pulangnya, untuk Allah. Dudukmu dalam mengikuti rapat dan koordinasi, untuk Allah. Suaramu saat engkau menyampaikan pendapat dan pandangan, untuk Allah. Mengawali dan mengakhiri rapat dan semua pertemuanmu, untuk Allah. Program kerja yang engkau tunaikan, untuk Allah. Berlelah-lelahmu untuk Allah. Berpagi-pagimu untuk Allah. Bermalam-malammu untuk Allah.

Engkau hanya memerlukan Baca lebih lanjut